Air Kemasan Yang Tersisa.

Standard

Liburan ini saya berkunjung ke tempat salah satu kerabat di daerah  Cikidang di Sukabumi. Saya sempat melihat-lihat ke belakang rumahnya, di mana dulunya terdapat sebuah kolam ikan. Namun sayang saat ini kolam ikan itu tampak kering dan terlantar. Saya diberi penjelasan bahwa belakangan ini  sejak perkebunan karet diganti dengan kelapa sawit, mata air tidak lagi mengalir. Air tanah susut banyak, sehingga tidak cukup lagi untuk mengairi kolam.  Saya memandang ke luar. Matahari yang panas memanggang tanah yang coklat retak-retak. Hmm..sayang.

Siangnya kami dijamu makan dengan minum air mineral dalam kemasan gelas plastik. Saya pikir belakangan ini kebanyakan orang lebih menyukai cara-cara praktis yang tidak ribet dan makan waktu dalam menjamu tamu-tamunya. Termasuk juga dalam menyiapkan air minum. Jaman dulu tuan rumah pasti selalu disibukkan dengan menyeduh teh, kopi atau minimal air putih di dalam cangkir  untuk dihidangkan kepada setiap tamu yang hadir melakukan silaturahmi. Namun sekarang lebih banyak orang menyiapkan air mineral dalam kemasan yang praktis kepada tamunya. Itu pula yang banyak kita temukan dalam pesta-pesta pernikahan dan pesta yang lain. Air kemasan di mana-mana. Bahkan juga untuk keperluan keluarga saat liburan lebaran ini.

Demikian juga di rumah mertua saya. Kami menyiapkan berdus-dus air mineral baik untuk dihidangkan kepada tamu yang datang maupun keluarga yang pulang liburan dari berbagai penjuru kota. Setiap orang lebih suka mengambil air kemasan dibandingkan mengambil sendiri air minum dengan gelas. Tentu saja karena minum air kemasan, membuat kita tak perlu mencuci gelas lagi. Tinggal membuang saja bekasnya. Terlebih saat pembantu rumah tangga tidak ada, tentu saja hal ini mampu menghemat tenaga.

Namun sayangnya, saya perhatikan banyak diantara kita ternyata menyisakan air minum itu dan membuangnya begitu saja.  Ada yang sisa setengah, sepertiga, seperempat dan sebagainya. Bahkan ada yang baru diminum seteguk, lalu disisakan nyaris utuh. Kebanyakan sisa setengah. Saya pikir sayang juga ya?

Pertama, air minum yang dulunya gratis sekarang kita harus beli dengan harga yang lumayan mahal. Sayang jika tidak  kita habiskan dengan baik. Harganya bervariasi sekitar 15 000- 22 000 per dusnya tergantung merk dan situasinya. Bilanglah  minmal Rp 15 000. Jika satu keluarga menghabiskan air mineral itu satu dus selama liburan ini dan masing-masing menyisakan sepertiganya saja terbuang, berarti kita telah membuang Rp 5 000 per keluarga. Berapa banyak rumah tangga di Indonesia ini yang menggunakan air mineral kemasan selama liburan ini? Rasanya lumayan banyak juga ya?

Ke dua, jika kita hitung sisa air yang terbuang ini lumayan juga banyaknya. Bilanglah rata-rata sepertiga saja, berarti sekitar 80 -100 ml per gelasnya. Kalau kita kumpulkan dari bergelas-gelas yang terbuang, tentu sangat lumayan jumlahnya untuk diminum kembali. Berarti dari satu dus yang isinya 48 pcs  kita telah membuang lebih dari 3 liter. Padahal sumber air bersih sekarang menyusut terus jumlahnya.  Sayang sekali ya?

Mengapa tidak kita anjurkan seluruh anggota keluarga kita untuk minum air mineral itu sampai habis sebelum meninggalkannya? Atau, mengapa tidak kita manfaatkan untuk menyiram pot-pot tanaman saja? Lumayan untuk mengurangi rasa bersalah telah menghamburkan air bersih. Selain ke dua masalah di atas, jika sisa minuman ini kita buang begitu saja, tentu akan membasahi sampah yang lain. Kadang-kadang tumpah saat kita membereskannya dan membuangnya ke tempat sampah. Tentu tidak menyenangkan bagi kita ibu rumah tangga yang betugas membersihkan. Juga kurang enak bagi para pemulung yang mengumpulkan khusus sampah plastik. Mengapa kita tidak berbaik hati padanya dengan mengosongkannya terlebih dahulu? Kita manfaatkan sisa-sisa airnya untuk menyiram tanaman terlebih dahulu, lalu plastiknya yang kosong dan relatif kering kita kumpulkan di dalam satu tempat sehingga memudahkan pemulung untuk mengumpulkannya dan mengirimnya ke tempat pendauran ulang.

Untuk itu saya lalu merobek tutup air kemasan itu satu per satu dan mulai menyiramkannya ke pot tanaman. Optimalkan penggunaan air dan tanamanpun  segar menghijau. Mencintai lingkungan sekitar kita. Yuk, kita lakukan bersama-sama!

8 responses »

  1. bener juga ya. kemarin, keluarga kakak sepupu saya datang berkunjung. trus mbak saya minum air kemasan. tapi disisakan setengah. lalu saya inisiatif aja buang ke kolam ikan kami di samping. kemasannya biasanya kami kumpulkan untuk dijual ke tukang butut/loak yang suka keliling.
    saya baru tau kalo tanaman kelapa sawit bikin kekeringan…

    • Saya juga baru denger cerita soal kekeringan itu yang dikaitkan dengan penggantian tanaman karet dengan kelapa sawit. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi saya pikir barangkali ada kaitannya dengan jenis perakaran kedua tumbuhan itu yang berbeda. Yang satu berakar tunggang, yang satunya lagi berakar serabut.Barangkali kemampuannya menahan air juga berbeda..

  2. sama halnya ketika menyuguhkan minuman botol kecil itu juga mubazir bun, biasanya bapak saya menyuurh disajikan kedalam gelas kecil2 supaya habis dan tidak terbuang kalau kurang kan bisa nambah lagi

  3. bener banget, kak,,,

    saya baru sadar yah… di rumah juga menyediakan air mineral buat tamu-tamu yang berkunjung saat lebaran. memang iseh, gak repot nyuci gelas lagi. tp setelah itu sampah gelas air mineral jadi numpuk…

    kalau saya sieh,,, biasanya kalo belum habis, tuh gelas mineralnya saya bawa juga saat keluar atau pergi. tar kalo udah habis, baru dibuang. gak tega nyisaiin airnya. pasti kan dibuang– sapa coba yang minum sisa gituh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s