About Survival Skills.

Standard

Pagi yang sangat indah. Matahari baru saja berjingkat naik dari atap rumah tetangga di seberang jalan. Saya sedang menemani anak saya sarapan bubur ayam di saung yang letaknya di pinggir kolam.  Sedikit rewel dan sangat sulit menghabiskan makanannya seperti biasanya. Saya berusaha membujuknya agar lebih bersemangat. Suap demi suap akhirnya masuk juga.  Namun tetu saja  semuanya itu berhasil karena anak saya makan sambil melihat-lihat ke kolam. Melihat ikan-ikan yang naik, mengangakan mulutnya ke permukaan. Entah karena kelaparan atau menghirup oksigen. Yang jelas melihatnya, bermai-ramai bercuap cuap di permukaan air terasa sangat menyenangkan.

Saya mengalihkan pandangan saya pada serumpun Kembang Pacar Air (Impatiens) yang sedang  berbunga banyak. Warnanya jingga. Terlihat sumringah menghiasi tepi kolam. Rumpun tanaman itu tumbuh persis di tempat kucuran air yang terjun deras dari penampung air jatuh ke kolam ikan. Batangnya nampak terangguk-angguk terkena arus air. Namun ia tetap tegak dan sehat, tanpa sedikitpun terlihat terganggu.  Anak saya rupanya sedang memandang ke arah tanaman kembang itu juga.  “Mengapa tanaman itu bisa tetap hidup di sana, Ma?” tanyanya.

Tanpa berpikir panjang saya menjawab ”Karena ia suka tumbuh di dekat air. Itulah sebabnya ia bernama Bunga Pacar Air” kata saya. “Ya. Tahu sih namanya Pacar Air. Tapi mengapa kok tidak hanyut oleh air waktu tanaman itu masih kecil? Kan airnya deras?” tanya anak saya memperjelas pertanyaannya. Oh! Sekarang saya mesti berpikir terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan itu. Mengapa ya, biji tanaman itu ataupun justru tanaman itu tidak terhanyut oleh derasnya kucuran air yang mengalir jatuh ke dalam kolam? Terus terang saya tidak tahu jawabannya.

Akhirnya saya mencoba melihat-lihat ke pangkal tanaman itu. Tergantung derasnya aliran air. Saat aliran sangat deras, kelihatannya tanaman itu diterpa air dengan cukup deras. Dan logikanya memang harusnya terhanyut ke dalam kolam. Karena posisinya tepat di area kucuran air.  Dan saat musim kemarau seperti hari ini, kebetulan memang aliran air tidak terlalu deras. Jadi kucuran air yang menerpa tanaman itu memang tidak terlalu deras. Namun usia tanaman ini tentu sudah melewati musim penghujan, dimana saat itu aliran  sedang deras-derasnya.

Sayapun  mencoba mereka-reka apa yang terjadi. Mengapa tanaman itu bisa tumbuh subur berjaya di tempat itu. Apa yang menyebabkan ia survive? Pertama, saat ia masih berupa biji. Harus ada suatu situasi dan kondisi yang menyebabkan mengapa biji bunga Impatiens itu bertahan di sana dan tidak terhanyut oleh air. Barangkali sebuah cekungan yang cukup dalam? Yang memberinya perlindungan dari kemungkinan terhanyut? Barangkali bijinya justru terbawa oleh aliran air dan tersangkut di sela-sela batu buatan di tepi kolam.

Saya menganggap teori saya itu benar. Dan berpikir bahwa beberapa saat setelah itu, maka biji itupun mulai berkecambah dan mengeluarkan akar-akarnya. Lagi-lagi iapun membutuhkan beberapa waktu untuk membuat akarnya besar dan kuat agar bisa berpegangan dengan kokoh pada batu di pinggir kolam itu. Lalu ia juga membutuhkan nutrisi untuk hidup dan membesarkan akar, batang dan memperbanyak daun serta mengembangkan bunganya.  Hal ini lebih mudah saya jawab, yakni dengan berasumsi bahwa jika tanaman ini sudah memiliki akar dan batang yang cukup, tentunya ia bisa menahan sedikit lumpur yang mengandung zat-zat organik yang bisa ia manfaatkan untuk pertumbuhannya.

Jadi sebenarnya, mengapa tanaman Impatiens ini bisa survive- tidak lain dan tidak bukan adalah karena beberapa faktor. Pertama, adalah tanaman ini harus memiliki kebutuhan basic-nya yakni,makanan dan air  yang sudah pasti bisa ia dapatkan dari air yang mengucur ke kolam itu beserta lumpurnya. Kedua ia harus memiliki tempat berlindung dan bertahan dari gangguan alam sekitarnya. Dalam hal ini adalah  derasnya kucuran air yang terjun ke kolam. Bisa jadi awalnya hanya berupa celah kecil di batu-batu buatan di tepi kolam itu.

Sama persis dengan kita manusia. Untuk bertahan hidup, minimal kitapun harus memiliki hal-hal mendasar yang kita butuhkan yakni makanan,minuman dan tempat berlindung. Akan lebih baik jika kita berada di lingkungan yang cukup aman, dan memiliki kemampuan untuk berpikir normal serta kemampuan untuk mengirimkan signal permintaan bantuan guna melindungi diri maupun mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan. Kemampuan untuk bertahan hidup sangat dibutuhkan saat kita melakukan aktifitas outdoor misalnya mendaki gunung, berburu dan sebagainya.

Demikian juga yang saya pikir dengan hubungan dengan pasangan maupun sahabat-sahabat kita. Memulai sebuah hubungan sangatlah mudah. Namun mempertahankannya agar selalu harmonis sepanjang masa tentu bukanlah hal yang mudah. Agar bisa mempertahankannya, minimal kita perlu memenuhi kebutuhan basic bagi sebuah hubungan yakni niat baik, sikap yang selalu positive dan saling menghargai satu sama lain. Respect each other. Support each other. Menurut saya,semua itu adalah kebutuhan pokok bagi sebuah hubungan. Dan jika memiliki ekstra waktu, komunikasi yang terjalin baik, sangat serupa dengan nutrisi yang didapatkan oleh tanaman Pacar Air itu dari lumpur yang terbawa aliran air. Komunikasi yang baik akan membuat kita saling menginspirasi satu sama lain. Tentunya akan menambah keharmonisan dan kebahagiaan hubungan persahabatan kita.

Memandang rumpun Kembang Pacar Air itu,  mengingatkan saya akan betapa penting dan berartinya sahabat di dalam  hidup saya.  Tanpa sahabat, hidup saya mungkin akan lunglai melayu. Betapa saya tidak bisa hidup tanpanya. Saya akan berusaha keras membekali diri saya, minimal dengan “basic survival skills”  yang diperlukan dalam mempertahankan sebuah persahabatan.

7 responses »

  1. ” Tanpa sahabat, hidup saya mungkin akan lunglai melayu.”

    Peran sahabat di dalam hidup saya teramat penting.
    Saya bahkan tak yakin bisa menjadi seperti sekarang tanpa dampingan mereka semua.
    Justru mereka lebih berperan ketimbang orang tua dalam membentuk karakter yang menempel pada diri saya hari ini😀 ekstrim ya? Kenyataannya emang gitu sih hehehe

  2. Wah.wah.wahh.. hebat! bisa mengambil pelajaran dari Bunga yang ada di kolam (Lingkungan). Hmmm emang benar mas, kalo memjalin sebuah hubungan kasih itu mudah, tapi mempertahankanya yang susah. Kayak saya sama istri saya, hehehee mohon doanya ya Mas! supaya kami bisa survive dalam mempertahankan hubungan ini.😎 salam 2pai

  3. setuju Made…. apalagi anak rantau seperti saya ini, kalo ingin tetap bisa bertahan harus pandai pandai menjalin hubungan baik dengan mayarakat sekitar….

  4. Mbak Made, saya tahu apa yang sedang dipercakapkan ikan di kolam itu.
    Kalau ikan mas pasti dia sedang bilang, “moal – moal – moal … ” 😀
    Kalau ikan gurame, pasti dia sedang bilang, “la iya – la iya – la iya …” 😀
    Coba aja perhatikan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s