Cerita Seputar HIV Infections.

Standard

AIDS(Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang disebabkan oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan salah satu infeksiberbahaya menular yang  sangat ditakuti belakangan ini, terutama karena peranannya dalam melemahkan system pertahanan dan kekebalan tubuh manusia. Sehingga penderita menjadi sangat rentan akan serangan berbagai penyakit. Bahkan flue biasa pun akan menjadi masalah yang sangat besar bagi orang yang sudah terinfeksi. AIDS seakan menghantui masyarakat kita akibat penyebarannya yang diam-diam,  namun cukup cepat seperti hantu pembunuh (silent killer). Saya membayangkannya mirip dementor dari Azkaban dalam  cerita Harry Potter. Begitu mengerikan dan menakutkannya bagi masyarakat awam. Namun, jika kita mendapatkan informasi yang cukup dan mengenalnya dengan lebih baik, tentu ketakutan itu tidak akan sedemikian besarnya.

Seperti kita ketahui, HIV terutama ditularkan melalui aktifitas sexual dengan orang yang terinfeksi  HIV ini.  Selain itu, bisa juga lewat transfusi darah yang terkontaminasi, jarum suntik (misalnya pada pengguna narkoba suntik), atau lewat placenta dan air susu ibu. Perhatian saya teralihkan ke issue AIDS, karena kebetulan saya menerima kabar dari seorang teman sejawat saya yang banyak berurusan dengan penanggulangan HIV, bahwa saat ini ia  sedang berada di Jakarta. Namanya Ngurah (Surya Anaya), seorang sejawat yang mengambil masternya di bidang Kesehatan Masyarakat.  Saat ini bekerja di  salah satu program yang didukung oleh AusAID dan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah banyak membantu mendanai lembaga-lembaga swadaya masyarakat/ Non Goverment Organisation yang bergerak dalam upaya membantu masyarakat mencegah dan menanggulangi permasalahan medis dan sosial dalam era HIV dan AIDS ini.

Sayapun menemuinya sepulang kerja. Kami ngobrol seputaran jaman masih kuliah, hingga urusan pekerjaannya yang berkaitan dengan upaya pencegahan serta penanggulangan  beban dan ancaman berat kesehatan masyarakat.  Perbincangan dengannya mengenai infeksi HIV ini memang terasa menarik sekali. Terutama jika kita simak, bagaimana kasus AIDS ini merebak di kalangan masyarakat. Ia menceritakan betapa jumlah pengidap penyakit ini semakin meningkat belakangan ini.  Bukan saja karena murni meningkatnya  jumlah orang yang terinfeksi, namun juga karena meningkatnya kebutuhan informasi dan pemahaman yang benar  oleh masyarakat tentang epidemi ini.

Ia memulai ceritanya dengan mengingatkan saya kembali tentang keberadaan kaum homosexual. Mengapa homosexual? Karena kasus penularan infeksi HIV ini pada awalnya paling banyak terjadi di kalangan kaum homosexual di kota San Francisco pada tahun 1980-an.  Pada dasarnya, manusia memang memiliki pilihan atau orientasi sexual yang berbeda-beda.  Ada yang lebih tertarik kepada lawan jenis (heterosexual), dan ada juga yang tertarik kepada sesama jenis (homosexual) dan bahkan ada juga yang memiliki ketertarikan seksual baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis (bisexual). Sangat jelas bagi kita, bahwa jumlah kaum heterosexual jauh lebih banyak dari kaum homosexual. Oleh karena itu, dalam tatanan masyarakat umum,  aktifitas kaum heterosexual tentu lebih diterima sebagai sebuah “kenormalan”.

Namun bukan berarti bahwa kaum homosexual ini tidak exist. Pada faktanya mereka memang ada di dunia yang kita tempati ini sebagai sesama kita. Dan jumlahnya cukup banyak. Mereka ada dan memang terlahir seperti itu. Mereka menjadi kaum yang terpinggirkan karena nilai dan norma yang dijalankan masyarakat,  diciptakan oleh kaum heteroseksual.  Jika selama ini kita melihat jumlahnya sangat sedikit, sebenarnya itu lebih karena banyak diantaranya terpaksa menutup diri. Karena tentunya tidak banyak yang berani secara terbuka dianggap ‘tidak normal’ oleh kalangan masyarakat umum yang kebanyakan kaum heterosexual. Misalnya ada yang melakukan pernikahan dengan kaum heterosexual hanya sebagai  “tirai social untuk  menutupi dan mengurangi kecaman masyarakat umum. Namun sebenarnya jumlah mereka lebih banyak daripada apa yang kita ketahui. Dan sebagian diantaranya akhirnya diam-diam membentuk masyarakatnya tersendiri. Perilaku sexual yang tidak terbuka dan tidak aman sebagai akibat tekanan sosial inilah yang pada akhirnya ikut menyebabkan mereka lebih rentan terhadap infeksi HIV jika dibandingkan dengan kaum heterosexual pada awal-awalnya. Dan sebagai konsekuensinya, pasangan heterosexual dari kaum homosexual inipun sama rentannya terhadap infeksi HIV. “Dan itu umumnya kaum perempuan heteroseksual kata Ngurah sambil melihat saya dengan tajam. Saya pikir dia menyangka saya sangat tertarik akan issue-issue yang berkaitan dengan gender.  Karena HIV menular melalui jaringan seksual yang terbangun di dalam masyarakat antara orientasi seksual yang berbeda.

Sampai di sini saya tercenung dengan obrolan teman sejawat saya itu. Tercenung, bukan karena issue gender yang coba dicuatkan oleh Ngurah, tetapi karena baru kali ini saya mendapatkan penggambaran tentang kaum homosexual dari sudut pandang yang berbeda. Ngurah membicarakannya dari sudut sosial dan kemanusiaan. Yang menurut saya sesuatu yang sangat aktual, sangat humanis dan sangat positive. Namun sayangnya selama ini issue-issue mengenai hal ini tidak pernah muncul ke permukaan. Karena selama ini, jika berbicara mengenai kaum homosexual, kebanyakan yang saya dengar adalah dari sudut pandang yang negatif (perspektif heteronormatifisme), yang pada umumnya tidak menyukainya. Tidak setuju, menentang dan bahkan ada yang tidak menganggapnya sebagaikebenaran atau bahkan dengan lebih extreem lagi sebagai “perilaku abnormal”.

Terlepas dari  kenyataan bahwa masyarakat setuju atau tidak dengan orientasi  seksual mereka, faktanya kaum homosexual ini ada sebagai bagian dari tananan masyarakat dunia. Dan mereka juga manusia yang sama dengan kita. Sama rentannya terhadap penyakit dan membutuhkan perlindungan dan bantuan.

Percakapan kami pun berlanjut mengenai banyak hal lagi seputaran penyebaran epidemi ini. Dan tentunya di luar penularan akibat hubungan seksual ini, masih ada lagi cara-cara penularan lainnya yang perlu kita ketahui dengan baik. Pengetahuan ini tentu kita butuhkan sebagai masyarakat awam, agar  infeksi virus  ini bisa kita hindarkan. Sesungguhnya cukup banyak upaya-upaya penyuluhan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat di Indonesia.

Ngurah bercerita bahwa saat ini, ia menangani area Indonesia Timur termasuk Bali dan Papua di mana kasus ini  cukup banyak jumlahnya. Bekerjasama dengan pemerintah setempat, mereka banyak membantu organisasi-organisasi  swadaya masyarakat yang aktif melakukan usaha pencegahan seperti penyuluhan-penyuluhan, promosi kesehatan, seminar, perawatan, layanan, dukungan dan kegiatan-kegiatan penanggulangan  AIDS lainnya. Cukup menggembirakan juga, karena ternyata jumlah organisasi yang aktif di bidang  pencegahan dan penanggulangan AIDS ini ternyata lumayan banyak.  Di Bali sendiri setidaknya ada 8  organisasi yang aktif dan siap membantu masyarakat sesuai kebutuhannya dari ranah pencegahan sampai pengobatan.

Selepas obrolan ini, saya berpikir bahwa mungkin ada baiknya agar  masyarakat sedikit lebih terbuka lagi, agar kita semua bersama-sama bisa ikut membantu penanggulangan epidemiini dengan lebih optimal. Karena jika epidemiini bergerak diam-diam di bawah permukaan, dimana masyarakat yang tahu berusaha menutupnya rapat-rapat tentunya penanggulangannya akan menjadi lebih -berat tantangannya.

8 responses »

  1. iya Made setuju,, masyarakat sangat membutuhkan informasi dan pemahaman yang benar mengenai masalah ini…
    sebagai orang awam taunya HIV / AIDS itu menular, sememntara penularanya itu seperti apa atau bagaimana masih banyak yg tidak tau, termasuk saya baru tau sedikit…

  2. ada teman waktu itu mau ambil skirpsi untuk dokter gigi berhubungan dengan pasien AIDS ini bun tapi dilarang orang tuanya, gimana nih baiknya kalau kasus seperti ini?

  3. HIV itu sll dibuat seperti “penyakit” yg sangat menakutkan sehingga ODHA nya hrs di jauhi pdhal seharusnya virus nya yg di jauhi. Yang lebih sedihnya lagi, bahkan pelaku – pelaku kesehatan seperti dokter atau perawat pun masih banyak yg tidak paham mengenai HIV ini sehingga terjadi stigma bahkan diskriminasi. Padahal untuk penularan virus ini harus terpenuhi tiga syarat yaitu : ada jalan keluar, ada jalan masuk, dan jumlah virus yg cukup. JIka satu syarat saja tidak terpenuhi maka peluang terinfeksi sangat kecil. itulah sebabnya jika misalnya srg suami terinfeksi HIV ingin berhubungan dengan istri nya agar bisa punya anak tapi agar istri dan anak kelak tidak sampai terinfeksi virus ini maka itu sangat mungkin yg disebut PMTCT (Prevention Mother To Child Treatment). Jadi sebenarnya jauh lebih mudah utk terinveksi Hepatitis C daripada HIV. tp bukan berarti kita jadi tidak menjaga pola hidup kita setelah mengetahui hal ini, justru agar kita lebih bijak berperilaku, sebisa mungkin hindari perilaku seksual beresiko.

  4. tulisan tulisan seperti ini semakin membantu pemahaman tentang HIV yang sangat terkait dengan gender dan seksualitas manusia … great one!

  5. Mencegah/menanggulangi memang lebih baik, namun yang kadang menjadi pikiran saya (pribadi) bagaimana caranya agar masyarakat kita lebih terbuka menerima korban-korban HIV di antara mereka, sehingga para korban tidak merasa dikucilkan dan cenderung menutupi apa yang dideritanya. Dengan ini mungkin bisa menjadi salah satu cara untuk meminimalkan penyebaran HIV.

    Salam.., semoga artikel ini bermafaat untuk masyarakat banyak..

  6. Saya juga banyak kenal dengan kaum Homosexual khususnya kaum Lesbian. semuanya saya kenal ketika saya ada di Komunitas Peduli Aids Bukittinggi, gak nyangka juga mereka kaum Lesbian(karna Subhanallah, Cantik-cantik gitu) tapi mengenal mereka, cukup asyik juga.

  7. untuk masalah sepertini ini saya sedikit TABU mbak ni jadinya tidak tau apa apa seakan buta informasi huhhhh (^___^) – yah mudah mudahan saya terhindar penyakit ataupun hal hal yang menyebabkan itu hehee. . . . jauhhh jauhhhhh n_n/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s