Berapa Jumlah Senyum Yang Kita Terima Setiap Hari?

Standard

Hidup  itu penuh berkah kebahagiaan. Dan saya menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Kebahagiaan hati, rupanya banyak sekali  bersumber dari senyum dan ketulusan hati orang-orang di sekeliling kita.  Adakah yang pernah menghitung,  berapa jumlah senyuman yang kita terima setiap hari dari orang-orang sekeliling kita? Saya belum pernah.

Namun pagi ini, ketika berjalan-jalan sebentar di seputar perumahan, tiba-tiba saya menyadari jumlah senyuman yang saya terima ternyata sangat banyak sekali. Senyuman ramah dan kehangatan hati orang-orang di sekitar,  yang selama ini tidak pernah saya hitung namun membuat saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung.

Biasanya saya keluar rumah pagi-pagi saat suami masih tertidur. Jadi saya pamit hanya kepada si Mbak yang sedang menyapu di halaman.  “Ya, Bu. Hati-hati  di jalan ya” Itulah kalimatnya setiap kali saya pamit sambil tersenyum. Ia selalu riang, suka bersenandung dan tak pernah mengeluh.  Senyum yang pertama.

Begitu keluar rumah, saya disambut senyum ramah Satpam yang sedang bertugas pagi “Jalan-jalan ya, Bu?”. Rasanya senang karena senyum setiap orang selalu menular ke dalam diri kita.  Senyum yang ke dua.

Selepas pintu Satpam, saya akan bertemu dengan para tetangga yang juga sedang berlari, olah raga ataupun hanya sekedar berjalan-jalan. Mereka akan melambaikan tangannya kepada saya dan menebarkan senyumnya yang riang  “Oiiii!! Selamat pagi, Bu Dani. Kita sudah tiga putaran. Kenapa baru muncul?”  Ah, senyum para tetangga yang mendamaikan. Senyum Yang ke tiga sampai lima.

Lalu berikutnya adalah senyum Pak No dan isrinya. Tukang sayur yang mangkal di depan lapangan bulutangkis “Selamat pagi, Bu Dani. Jalan-jalan ya Bu?”  Senyum yang tulus dan ramah, tanpa niat terselubung agar saya mau membeli sayur darinya. Membeli tidak membeli, suami istri itu tetap tersenyum ramah. Senyum yang ke enam dan ke tujuh.

Senyum yang ke delapan datang dari  sapaan riangnya Mbak Rus, tukang nasi uduk yang berjualan di depan ruko “Bu Dani!!!!. Olah raga ya, Bu? Mampir Bu…”. Ucapnya selalu. Walaupun saya nyaris tak pernah membeli, tapi terkadang teriakannya membuat saya mampir sebentar dan ngobrol dengannya. Mbak Rus suka becanda dan saya suka memotretnya. 

Lalu senyum lembut dari Bu Dhe tukang jamu keliling yang ayu sambil meladeni pembelinya “ Sendirian, ya Bu?“ tegurnya dengan logat Jawa tengah-an yang medok. Senyum yang ke sembilan.

Kemudian senyum  sumringah Ibu pemulung yang sibuk mengais dari tempat-tempat sampah. “Selamat pagi, Ibu. Jalan-jalan ya Bu?” Senyum yang ke sepuluh.

Yang ke sebelas adalah senyum Ko AGam pedagang kue keliling yang juga membawa keripik kentang berbumbu ebi, telor asin, ayam bumbu kuning dan tahu kacang ijo yang  sangat empuk. Saya suka membeli tahu itu darinya.

Ada lagi senyum dikulum Engkoh tukang susu kedelai yang berkeliling  dengan sepeda  yang sangat kekecilan untuk ukuran tubuhnya yang besar. Lalu senyum para tukang ojek, tukang soto, tukang bubur ayam, tukang roti, para pembantu rumah tangga yang mulai keluar membeli sayuran, dan penduduk kampung yang bekerja paruh hari  di perumahan.  Semuanya tersenyum. Semuanya menyapa. Entah sudah senyum yang ke berapa. Saya lupa menghitungnya lagi. Banyak!! Yang membuat hati saya selalu diliputi kegembiraan.

Kembali pulang, Satpam di blok saya akan tersenyum  kembali “ Sudah cukup Bu, olah raganya?”. Terkadang Pak Marino, tukang sayur dari kampung atas  juga lewat di blok saya dan tersenyum.   Lalu senyuman Pak Udin yang sedang berbicara dengan  Wasli, supir tetangga. Di rumah,  si Mbak akan menyambut saya kembali dengan senyumnya yang riang sambil menghidangkan teh yang harum di dalam teko. “Minum teh hangat dulu, Bu!”.

Sayapun membangunkan suami dan anak-anak saya dengan ciuman dan senyuman. Biasanya, walau tergopoh-gopoh mandi, berganti pakaian,  pagi selalu diisi dengan celoteh lucu dan canda tawa mereka yang menggemaskan. Oh..  alangkah banyaknya senyuman yang saya terima setiap pagi. Jumlah yang sangat cukup untuk memperkuat jiwa saya saat menjalani kehidupan setiap hari.

Sekarang saya tahu, mengapa saya selalu bahagia dan merasa damai. Karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu tersenyum tulus kepada saya. Dan saya sedemikian menikmati ketulusan senyum mereka.

Selain itu, rupanya alampun memberkahi saya dengan senyum yang melimpah. Lewat  kicau burung-burung kutilang yang hinggap  di pohon. Burung gereja yang berbondong-bondong terbang dan bermain di halaman. Atau burung prenjak yang mencari ulat di perdu taman.  Lewat kupu-kupu kuning yang terbang rendah di rerumputan. Atau kupu-kupu biru yang terbang tinggi di antara bunga-bunga kersen penaung halaman.  Lewat dengungan kumbang dan lebah yang mengisap madu.  Lewat bunga-bunga yang mekar. Lewat sinar matahari pagi yang menghangat.

Sesungguhnya kita tidak perlu mencari kebahagiaan kemana-mana lagi. Karena alam sekitar telah menyediakan kebahagiaan yang melimpah bagi kita. Tinggal  bagaimana kita menikmatinya dan melihatnya dengan mata hati yang terbuka.

13 responses »

  1. sepakat nih bu dani kebahagiaan itu tak usah jauh jauh kita cari. sesungguhnya letaknya di hati dan senyum yang ikhlas barulah dikatakan sodaqoh. yuk kita senyum dg tulus agar hati merekah bahagia. dulu pas masih kuliah dosen dr perancis sangat heran melihat kita yg selalu tersenyum setiap kali kita berpapasan sesama mahasiswa baik kenal maupun tidak.

    setiap pagi di pintu gerbang saya menyambut siswa berjabatan tangan melempar senyum. smoga senyumanku melembutkan hati anak didik kami bu dani.

  2. sejak pascal sekolah setiap saya keluar rumah sepanjang jalan ada saja orang yg tersenyum ,jadi punya banyak kenalan. dibanding sebelum sekolah paling yang saya kenal tetangga2 dekat saja

  3. masih pagi aja, senyum yang diterima udah nggak bisa dihitung dengan jari ya mbak. Ditambah siang, sore dan malam, maka makin banyak lagi jumlahnya. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi selalu berjumpa dengan senyum tulus.

    Sepakat dengan kalimat terakhir. Semoga makin banyak yang terbuka mata hatinya sehingga bisa menikmati begitu banyak anugerah Tuhan setiap hari dan sepanjang harinya, seperti yang telah mbak rasakan

  4. Ya kebahagiaan gak perlu dicari jauh-jauh sebab dia ada dalam diri kita. Pasangkan kaca mata bahagia di mata batin maka seluruh isi bumi akan tampak bahagia..Catatan Mb Dani selalu mencerah kan..Thank you🙂

  5. Hahaha ada ada aja. Jangan jangan pak jama preman sana makanya pada gak berani ngelawan omongan dia :p

    Yg asik ya temen kantor lu ya… Dpt rambutan gratis dah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s