Care For Our Loved One…

Standard

Perasaan Bersalah &  Kepedulian Terhadap Orang Yang Kita Cintai.

Pulang kerja kemarin saya diundang untuk mengikuti acara jamuan makan malam kantor yang tak bisa saya hindarkan. Jamuan dilakukan di sebuah restaurant Jepang. Sebenarnya saya menyukai masakan Jepang. Saya pikir,seharusnya saya akan menyukai jamuan makan malam kali ini. Namun, karena acara  dilakukan setelah jam kantor, tentu saya akan pulang lebih malam dibanding biasanya.  Ini sedikit merepotkan saya kali ini, karena kebetulan acara jamuan dilakukan saat banyak orang masih belum pulang kembali dari libur Lebaran. Termasuk  asistent rumah tangga yang bekerja di rumah saya. Jadi, jika saya belum kembali ke rumah saat jam makan malam, tentu tidak ada orang yang akan menyiapkan masakan untuk anak-anak dan suami.

Hmm..tapi urusan kantor selalu lebih penting. Maka ketika di meja makan semalam sebelumnya, saya menginformasikan schedule  saya untuk esok harinya kepada suami saya. Meminta maaf dan meminta ijin untuk pulang lebih malam dari biasanya. Kebetulan suami saya memang masih libur. Tapi seperti kebanyakan suami (walau tentu saja saya tidak bisa mengeneralisir), ia tidak biasa mengurus pekerjaan dapur. Daripada kelaparan menunggu saya pulang, saya lalu memintanya untuk membawa anak-anak makan di luar saja.  Daripada repot. Di seputaran Bintaro, ada banyak restaurant dan rumah makan yang sudah buka.   Suami saya setuju. Oke.Jadi urusan makan malam anak-anak sudah beres. Saya tak perlu mencemaskannya lagi.

Sore itu, setelah pekerjaan yang urgent buat hari itu beres semuanya, saya berangkat dari kantor menuju restaurant yang disebutkan dalam undangan itu.  Setengah jam kemudian, sayapun tiba di tempat itu.  Restaurantnya sangat ramai. Tapi seseorang telah melakukan reservasi untuk kami, jadi kami masih kebagian tempat duduk yang nyaman. Saya membantu teman saya melakukan proses ordering. Dan memesan minuman.  Saat itu  tiba-tiba saya ingat kembali akan anak-anak dan suami saya. Apa ya, yang mereka makan malam ini?

Saya lalu mengirim pesan untuk suami saya. Menanyakan anak-anak, dan menginformasikan nama restaurant tempat saya dinner. Kebetulan anak saya yang besar juga penggemar masakan jepang. Saya pikir ia tentu ingin juga jika saya sebutkan bahwa saya sedang makan malam di sebuah restaurant Jepang.

Suami saya setuju bahwa tentu anak saya yang besar akan ngiler juga. Dan mengirim pesan kepada saya “… di rumah dinnernya praktis. Mie kuah saja.” .Ugkkk!!!. Rasanya seperti keselek dan seketika saya tidak bisa menelan makanan saya. Ibaratnya nasi yang tertelan seketika terasa sekam.

Tentu yang suami saya maksudkan adalah membuat sendiri mie instant untuk dirinya dan anak-anak. Masalahnya bukan pada mie instantnya. Karena kadang-kadang saya juga menyeduh mie instant untuk diri saya sendiri dan suami. Serta sekali-sekali juga mengijinkan anak-anak makan mie instant. Anak-anak dan suami saya mungkin juga sangat menikmatinya. Karena rasa mie instant secara umum juga enak.  Jadi masalahnya bukan di situ.

Tapi lebih ketika saya membandingkan betapa kontrastnya apa yang saya lakukan (makan di restaurant yang mahal dan enak), versus apa yang dimakan oleh suami dan anak-anak saya  malam itu (mie instant yang jauh lebih murah).

Airmata saya tiba-tiba mengambang. Bagaimana saya bisa sebagai seorang ibu, enak-enak makan di restaurant yang mahal, sementara suami dan anak-anaknya dibiarkan makan mie instant?. Perasaan bersalah yang tidak menentu. Rasanya saya seperti menjadi seorang ibu yang tidak perduli akan anak-anak saya. Tapi semuanya sudah terjadi seperti itu. Saya mencoba menahan airmata saya agar tidak menetes dan segera mengalihkan perhatian saya  kepada rekan-rekan saya yang sambil makan juga ngobrol dan melontarkan joke-joke yang menyegarkan. Sehingga rekan-rekan sayapun tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang bergulat di dalam bathin saya.

Perasaan bersalah!. Sering saya alami, ketika saya menikmati sesuatu yang saya pikir menyenangkan dan di saat yang sama saya juga memikirkan  orang-orang yang saya cintai.  Apa yang dinikmati oleh anak-anak, suami, adik-adik, kakak dan orang-orang yang saya cintai – yang jika kebetulan saya pikir tidak seenak atau seindah apa yang bisa saya nikmati.

Kerapkali setiap saya makan di Jakarta, saya teringat akan adik-adik saya di Bali “ Makan apa ya mereka hari ini?”.  Betapa inginnya saya berbagi segala sesuatu  yang saya nikmati dengan mereka. Namun tentu saja tidak setiap waktu dan tidak setiap hal mampu saya bagi dengan mereka.  Saya selalu berharap mereka semuanya baik-baik saja dan bisa menikmati setiap tetes rejeki yang mereka terima dengan penuh syukur dan kebahagiaan.

Satu hal yang kadang membuat saya terhibur adalah ketika menyadari, bahwa esensi kebahagiaan itu tidak terdapat dari seberapa mahal dan mewahnya, namun seberapa dalam kita mampu bersyukur dan menikmati karunia yang kita terima. Jadi, kadang-kadang apa yang saya rasakan, mungkin sesuatu yang terlalu berlebihan juga. Namun apapun itu,  saya pikir perasaan bersalah terkadang kita butuhkan untuk ikut membangun kepedulian kita terhadap orang-orang yang kita cintai. Dan kepedulian yang dibangun dari hati yang tulus, sangatlah penting untuk menjaga kasih sayang kita.

Care for our loved one..

7 responses »

  1. sangat setuju dg paragrap terakhir…. saya kaitkan dengan satu acara yg tayang di salah satu tv swasta “andai aku menjadi”. setiap kali nonton acara itu tak jarang air mata ini memaksa keluar di satiu sisi ucap syukurpun berkali kali terlontar atas apa yang telah Tuhan berikan ke keluarga saya…

  2. Ini juga kebiasaan istri saya … 🙂
    Ya, jadi serba salah ya … padahal orang di rumah pastinya berharap, ibunya senang dengan makan di resto … sementara yg lagi makan di resto jadi gk bisa menikmati makan …. Akhirnya dua duanya rugi atau salah satunya, yaitu, melewatkan sesuatu yg seharusnya bisa dinikmati….
    Kalau sudah begitu, biasanya, kita janjikan bahwa besok atau kapan, kita akan makan di resto anu … sebagai bayar hutang atas perasaan bersalah itu.

  3. setuju dg kalimat ” perasaan bersalah terkadang kita butuhkan untuk ikut membangun kepedulian kita terhadap orang-orang yang kita cintai. Dan kepedulian yang dibangun dari hati yang tulus, sangatlah penting untuk menjaga kasih sayang kita”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s