Rintik Hujan Yang Pertama.

Standard

Musim panas. Entah kenapa saya merasa musim panas tahun ini  berlangsung cukup panjang. Panjang dan mengenaskan. Walaupun di sana-sini saya masih melihat kehijauan, namun rasanya warna coklat gersang, mulai banyak menyergap mata saya.  Saya melihat beberapa pohon meranggas di tepi jalan. Entah sengaja menggugurkan daunnya, entah berguguran tanpa sengaja. Saya memandangnya dengan hati yang galau. Pohon itu sekarang tampak seolah meregang kehilangan nyawa. Kemanakah gerangan kehidupan itu pergi? Hanya tinggal batang, cabang dan ranting. Beberapa sarang burung yang tadinya terlindung di balik kerimbunan dedaunan, sekarang sudah nampak bertengger diantara ranting-ranting pohon yang telanjang.

Beberapa pangkal pohon juga terlihat gosong menghitam. Wahai! Siapakah gerangan yang tega telah menyulut api  atau menebar puntung rokok di pangkalnya? Tanah di halaman rumahpun mulai ada yang retak-retak.Tak mampu berelastisitas menahan paparan cahaya matahari yang membara. Rupanya permukaan air sudah sangat menurun, sehingga pompa airpun hanya mampu mengalirkan secuil air untuk menyiram tanaman.

Demikian juga di selokan. Ikan-ikan cere tampak berkumpul di sisa genangan air yang mengering. Sebagian saudaranya telah mati  kepanasan terpanggang lumpur yang dibakar matahari. Saya mencoba membantu ikan-ikan yang terisolasi di genangan itu dengan menyingkirkan sampah-sampah yang menyumbat dan mengalirkannya  ke genangan air yang lebih besar. Semoga masih mampu bertahan hingga hujan datang kembali.

Malam kemarin, untuk pertama kalinya saya melihat sebutir titik hujan jatuh menimpa kaca jendela.  Saya merasa sangat senang. Bahagia dan bersyukur. Akhirnya rintik yang pertama datang kembali. Rintik hujan yang tampak malu-malu. Hanya setitik, dua titik dan beberapa titik. Lalu hilang kembali tersapu angin yang berlari. Barangkali awan yang mengambang di atas sana  tidak cukup banyak membawa uap air.  Namun rintik hujan pertama itu, memberi saya sebuah harapan baru. Harapan akan datangnya hujan yang memberi kembali nafas bagi kehidupan. Bagi  pohon dan rerumputan. Serta ikan-ikan cere di selokan.

Saya menengadahkan wajah saya ke langit. Di mana saya titipkan harapan dan doa saya. Suatu saat, hujan akan tiba.

3 responses »

  1. Mungkin saya yg kurang bisa mengawasi, Serpong masih kerontang Mbak..Belum setitikpun yang mampir..Untungnya pohon saya cuma sedikit (karena halaman juga seuprit) jadi masih tetap hijau, karena disiram..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s