Bangli Tanah Kelahiranku: Dulang Dari Tegal Asah.

Standard

Dulang!. Benda ini sangat penting keberadaannya untuk menunjang aktifitas sehari-hari di Bali. Untuk tempat banten, tempat menyajikan buah-buahan, kue-kue, alas gebogan, untuk menyajikan makanan untuk orang suci,  untuk membaca lontar dan sebagainya.  Setiap rumah tangga pasti memiliki dulang. Biasanya beberapa buah. Minimal sebuah.

Kita bisa  mendapatkan dulang dari seluruh pasar-pasar tradisional di Bali. Termasuk dari pasar-pasar seni maupun pameran-pameran seni. Namun tidak banyak yang tahu, bahwa pusat pembuatan dulang di Bali terletak di  Bangli. Tepatnya di banjar Tegal Asah, desa Tembuku, kecamatan Tembuku di Bangli.  Di banjar ini Dulang banyak dibuat dengan skala industry rumah tangga.

Saat sedang liburan di Bangli, saya berkesempatan berkunjung ke banjar yang tenang dan damai ini atas ajakan adik saya.  Tentu tujuannya untuk melihat dari dekat bagaimana proses pembuatan dulang ini . Adik saya mengajak saya mengunjungi Sang Biyang Areni, seorang wanita yang bersama Sang Guru suaminya telah membuka usaha produksi dulang ini selama 23 tahun. Sayang karena sedang libur hari raya Galungan, tukang-tukang pada libur. Sehingga saya tidak melihat langsung proses pembuatan itu ‘live’. Hanya sempat ngobrol dengan Sang Biyang sendiri.

Kebanyakan dulang terbuat dari bahan dasar kayu (pinis, belalu,dsb) walaupun belakangan ada juga yang dibuat dari bahan fiber.  Namun demikian, dulang dengan bahan dasar kayu tetap lebih disukai oleh pasar, selain karena kayu lebih kuat dan harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan fiber. Dari segi finishingnya pun dulang terbagi-bagi lagi menjadi dulang  dengan ragam hias yang dicat, ada juga dulang yang diukir, dikombinasi dengan material lain seperti rotan, kaca dan sebagainya. Namun meurut Sang Biyang, dulang kayu dengan motif yang dicat, saat ini tetap merupakan jenis yang paling laku di pasaran.

Kayu biasanya didapakan dengan cara berburu atau terkadang ada pedagang yang mengantarkan ke tempat Sang Byang. Kayu ini lalu dibentuk kasar terlebih dahulu oleh seorang tukang kampak. Lalu dibentuk dengan mesin bubut selama kurang lebih 20-30 menit. Bakal dulang ini lalu dikeringkan di tempat teduh selama 2 – 3 bulan untuk memastikan penguapan air dari dalam kayu maksimal.  Mengapa bakal dulang ini tidak dijemur di bawah matahari saja untuk mempercepat proses pengeringannya? Ternyata proses pengeringan sepertti itu, justru akan membuat dulang mudah pecah.

Setelah dianggap cukup kering, Dulang lalu di’plamuur’ agar menghaluskan permukaan dengan menutup pori-pori kayu.  Dengan demikian proses pewarnaan dasar bisa dilakukan dengan baik. Setelah warna dasar mengering, barulah warna  yang mengikuti design grafisnya dilakukan. Ternyata pembuatan dulang ini jauh  lenih ribet dan lebih panjang daripada apa yang saya pikir sebelumnya. Nah itu baru jenis dulang biasa. Belum lagi yang diukir ataupun yang dikombinasikan dengan bahan lain.

Saat ini Sang Byang mempekerjakan 15 orang tenaga kerja,mulai dari tukang potong kayu, tukang bubut hingga tukang warna.  Dengan kapasitas produksi kurang lebih 20 dulang per hari. Dulang-dulang ini  dipasarkan terutama ke pedagang-pedagang di Pasar Sukawati, pasar-pasar di Denpasar, Gianyar dan Kelungkung.

Saya melihat usaha industry perumahan ini sangat luar biasa, karena kekompakan keluarga terasa sangat kental di sini. Sang Byang adalah initiator, designer sekaligus promotor dari usaha ini, sementara Sang Guru yang tadinya berprofesi lain bertindak sebagi supporter yang membantu kelancaran produksi. Sementara ketiga putrinya ikut terlibat dalam proses pemasaran dulang ini di kota lain. Selain itu, indsutry ini juga menyerap tenaga kerja setempat sehingga membantu menekan angka pengangguran dan arus urbanisasi. Tentu saja sangat menyenangkan tinggal di desa yang tentram damai,dengan udara yang segar bersih serta alam yang indah permai namun mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang sesuai. Tanpa perlu harus pergi jauh-jauh ke kota. Di banjar Tegal Asah ini, Sang Byang juga membuka tokonya untuk sekedar meladeni pelanggan yang lewat.

Usaha industry rumah yang dilakukan oleh Sang Byang Areni hanyalah salah satu contoh dari usaha sejenis yang dilakukan banyak sekali rumah tangga di banjar Tegal Asah ini.  Rata-rata penduduk di banjar ini memiliki mata pencaharian sebagai pengrajin dulang. Sehingga bisa kita bayangkan betapa banyaknya tenaga kerja di pedesaan yang terserap di sektor ini. Dan betapa produktifnya banjar ini.

Nah, siapa yang membutuhkan Dulang? Mampirlah ke Bangli. Ke banjar Tegal Asah di  desa Tembuku, kecamatan Tembuku. Sudah pasti kita akan menemukan dulang dengan design terakhir dan tentunya dengan harga yang jauh lebih miring, karena kita membeli dari sumbernya. Memikirkan itu, saya merasa sangat bangga akan Bangli, kota kelahiran saya yang menyimpan banyak sekali potensi yang luar biasa. Semoga para pengrajin di banjar Tegal Asah semakin sukses kedepannya.

15 responses »

  1. betul mbak, kalau di desa ada usaha pasti orang akan lebih memilih tinggal di tempat asalnya daripada jauh merantau ya,
    mestinya lebih banyak usaha berbasis pedesaan seperti ini ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s