Bangli Tanah Kelahiranku: Sokasi Bangli I.

Standard

Bamboo Weaving Baskets.

Pulang kampung selalu memberi saya kesempatan untuk menikmati kembali suasana sekitar saya yang membuat saya rindu. Segala hal,mulai dari tanaman, masakan, seni dan berbagai benda yang bertebaran dalam kehidupan sehari-hari. Karena kebetulan kali ini saya berkesempatan pulang bersamaan dengan hari raya Galungan, tentu saja yang waktu saya banyak tersita untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka hari raya itu.

Salah satu yang menarik adalah  bamboo waeving basket alias ‘box’ anyaman dari bambu yang di Bali umumnya disebut sebagai Sokasi, Sok atau Keben. Kalau di luar Bali sering juga disebut sebagai Besek. Saya pikir barangkali nama sebenarnya adalah Sok. Mengapa menjadi Sokasi, barangkali  karena dulunya Sok ini umum digunakan sebagai tempat Nasi, sehingga menjadi Sok Nasi. Dan lama- kelamaan berubah menjadi Sokasi.  Walaupun jaman sekarang dengan mulai banyaknya perabotan rumah tangga terbuat dari plastik ataupun aluminium beredar di pasaran, penggunaan Sokasi ini sebagai tempat nasi mulai tergantikan. Terlebih lagi dengan masuknya Magic Jar. Semakin jaranglah rumah tangga yang menggunakan Sokasi sebagai tempat menyimpan nasi.

Sokasi snagat popular penggunaannya di Bali.  Bisa digunakan sebagai tempat/wadah apa saja. Namun kalau di Bali, Sokasi sekarang paling banyak digunakan sebagai tempat banten/sesajian saat upacara. Namun demikian tetap banyak juga  yang menyebutnya sebagai Sokasi. Sokasi Banten!.  Saat membantu adik saya menyiapkan keperluan hari raya inilah mata saya tersita oleh design anyaman Sokasi yang terlihat beraneka ragam. Dan saya mulai berpikir bahwa design Sokasi- Sokasi  ini sangat menarik. Sangat beragam. Ada beberapa jenis yang bisa kita kelompokkan menjadi beberapa group.

Sokasi dengan kwalitas yang baik terbuat dari ‘tundun tiying’- artinya bagian kulit luar dari bambu. Sedangkan ‘basang tiying’ –yakni bagian dalam dari bambuu akan menghasilkan Sokasi dengan kwalitas kelas lebih rendah (biasanya dimanfaatkan sebagai besek untuk menyimpan buah-buahan atau umbi-umbian dan sebagainya – misalnya besek Salak Bali).

Kelompok pertama adalah jenis Sokasi yang dibuat dengan cara menganyam untaian bambu yang sudah diberi pewarna. Sehingga saat anyaman selesai, untaian bambu-bambu berwarna ini membentuk beragam motif sesuai dengan selera penganyamnya. Kelompok berikutnya adalah jenis Sokasi yang proses penambahan motifnya dilakukan setelah proses penganyaman selesai.   Di tulisan ini, saya hanya akan memuat contoh-contoh  motif anyaman dari Sokasi.

Sokasi bisa kita temukan dimana-mana. Namun yang jelas, Bangli adalah daerah penghasil Sokasi dan anyaman bambu lainnya yang sangat besar dan penting keberadaannya di Bali. Ada beberapa sentra kerajinan anyaman bambu di Bangli, termasuk juga sentra aplikasi designnya. Setidaknya, Bangli memiliki desa Tanggaan di kecamatan Susut dan  banjar Tegal Asah di Kecamatan Tembuku sebagai sentra kerajinan bambu ini.

Mampir ke Bangli, yuk!.

5 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s