Nelayan Di Pantai Senggigi, Lombok.

Standard

Setelah melepaskan segala kepenatan selama acara kantor berlangsung  kemarinnya, saya menikmati  pagi hari yang berangin dengan berjalan-jalan di tepi pantai Senggigi. Pantai berpasir putih dengan laut yang biru jernih serta matahari  yang hangat membuat kehidupan terasa sangat menyenangkan di tepi  pantai  barat pulau Lombok itu.  Pandangan saya terpusat pada sebuah perahu kecil  yang bergerak  mendekati garis pantai.  Seorang lelaki muda tampak berada di dalam perahu yang layarnya tergulung itu.  Sang nelayan pulang ! Pulang dari melaut.

Perahu itu semakin mendekati  bibir pantai dan dalam hitungan detik, beberapa lelaki saya lihat segera menghampiri perahu yang baru saja merapat itu.  Satu, dua,  tiga,  empat,  lima, … dua belas orang. Wah banyak juga! Apa yang akan dilakukan oleh ke dua belas orang pria itu kepada nelayan dan perahunya ?  Saya tidak bisa menghidarkan rasa ingin tahu saya. Maka sayapun ikut  mendekat. Dalam sekejap mata para lelaki itu membagi  diri menjadi empat kelompok.Tiga orang berdiri di sisi lambung kanan depan perahu. Tiga orang di lambung kanan belakang. Tiga orang di lambung kiri depan. Tiga orang lagi di lambung kiri belakang.  O.. sekarang saya mengerti.  Rupanya para lelaki itu membantu Sang Nelayan menyeret perahunya lebih tinggi lagi di atas bubungan pasir di mana perahu-perahu nelayan yang lain pada parkir berderet di sana.

Saya memperhatikan gerakan mereka. Langkah demi  langkah. Sedemikian teratur, kompak dan terkoordinir dengan baik. Satu, dua, tiga!. Mereka mengangkat perahu itu dan bergerak beberapa langkah lalu berhenti  sejenak.  Setelah  mengambil kesempatan menarik nafas dan mengisi paru-parunya kembali dengan oksigen, lalu merakapun bergerak lagi dengan kompak dan segera berhenti lagi setelah beberapa langkah.  Demikian sekali lagi mereka mengulang aktifitasnya,  hingga perahu nelayan itu sekarang benar-benar sudah berada sederet dengan perahu-perahu nelayan yang lain. Alangkah indahnya kerjasama itu.  Perahu yang berat itupun bisa diangkat dengan mudah jika semua orang  bersatu dan bekerjasama. Saya sangat kagum akan kekompakan dan persatuan mereka. Para nelayan itu seolah sedang mengingatkan saya kembali akan pentingnya sebuah kerjasama dan kekompakan dalam team.

Ketika perahu itu sekarang sudah benar-benar parkir, para lelaki itu membubarkan dirinya. Tinggallah sekarang hanya sang nelayan dan seorang lelaki yang menghitung hasil tangkapan pagi itu serta seorang wanita yang mendekat dengan baskom di kepalanya  untuk mengangkut dan menyerahkan ikan itu kepada pembeli.  Semua proses itu terlihat begitu  smooth. Mulai dari proses di mana sang nelayan merapatkan perahunya, lalu para lelaki itu datang menghampiri dan membantu mengangkat perahu, lalu lelaki yang menghitung jumlah ikan hingga wanita yang mengambil dan mengangkat ikan itu di atas kepalanya. Semuanya seperti sebuah drama kehidupan yang sangat mulus lakonnya di bawah arahan sutradara kehidupan yang handal dan dengan pemain-pemain yang sudah sangat terlatih. Drama kehidupan yang cepat, mulus tanpa cacat cela.

Nelayan ini membawa sejumlah ikan tongkol sebagai hasil tangkapannya. Namun diantara ikan-ikan tongkol yang tertangkap olehnya, saya melihat seekor ikan marlin kecil. Sejenak saya mengamati dan mengagumi keindahan bentuknya. Mahluk itu sedemikian cantik. Saya pikir jika ia tidak terburu ditangkap nelayan, barangkali ia akan bertumbuh menjadi seekor ikan marlin yang besar dan perkasa. Entah kenapa saya jadi teringat kembali akan novel The Old man and The Sea”nya Ernest Hemingway. Ah, jelas-jelas nelayan ini masih sangat muda – tentu terlalu mengada-ada jika saya mengaitkannya dengan novel legendaris itu hanya gara-gara menyaksikan seekor marlin di dalam perahunya.

Saya tidak menghitung jumlah ikan tongkol yang tertangkap. Barangkali ada sekitar 20 – 25 ekor. Ikan-ikan tongkol itu dilepas dengan harga Rp 17 500 per 5 ekor. Nelayan itu bercerita kepada saya, bahwa itu adalah hasil tangkapannya sejak berangkat melaut dinihari  tadi hingga ia mendarat kembali di pantai pukul 8.30 pagi.  Saya tidak bisa menjudge apakah pendapatan itu  cukup baik atau tidak  bagi nelayan itu, karena semuanya sangat relatif.  Ada yang mengatakan bahwa itu lebih besar dari penghasilan karyawan swasta  yang dibayar dengan mengikuti standard UMR dan bekerja selama 8 jam per hari. Ada pula yang mengatakan itu terlalu kecil untuk resiko yang dihadapi dimana sang nelayan harus mempertaruhkan nyawanya di laut lepas yang penuh resiko. Yang jelas  setiap hari ia melaut selama sekitar 4.5 jam, antara pukul 04.00 – 08.30 pagi. Ia berangkat seorang diri dengan jaring dan perahu miliknya sendiri.  Menjalani kehidupannya  dan memperjuangkannya sesuai dengan apa yang alam sediakan untuknya.

Matahari menanjak tinggi. Kesibukan di pantai itu masih terjadi. Pedagang kaos oleh-oleh dan pedagang perhiasan mutiara bertebaran merayu pembeli.  Saya meninggalkan pantai dan jejak kaki saya yang dalam di atas pasir pantai. Pantai yang memberi saya  kesempatan untuk melihat sepotong kehidupan nelayan.  Pantai yang memberi saya pelajaran akan arti sebuah kerjasama dan kekompakan.  Pantai yang memberi saya pelajaran akan arti hidup dan memperjuangkannya.

Senggigi! Saya ingin datang kembali ke sana,  suatu hari nanti.

2 responses »

  1. Btw saya pernah ke Pantai Senggigi tapi malam hari, jadi hanya sempat melihat lampu2 pantai dari ketinggian sambil makan jagung bakar. Penasaran ingin melihat keindahannya di siang hari…

    Kegiatan itu persis seperti kenangan saya ketika masih kecil di kampung, di Pantai Padang Sumatra Barat puluhan tahun yang lalu, karena saya lahir dan dibesarkan di daerah yang hanya berkisar 4 km dari pantai …!!!!
    dDalam waktu 20 menit saya sudah bisa sampai di Pantai, apalagi Om saya tinggal hanya 10 meter dari Pantai…..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s