Kisah Coklat Yang Meleleh Di Atas Donat.

Standard

Dear Wita,
Aku masih ingat
Ketika pertama kali melihatmu saat kita lolos seleksi PMDK tahun itu.
Kita saling menatap & saling membisu namun penuh keinginan untuk saling tahu.
Seketika aku menyadari kecerdasan yang terpancar dari matamu.

Aku masih ingat
cairan H2SO4 yang meleleh dari gelas kaca ke kain lap didekatmu di laboratorium kimia.
Entah kenapa, aku khawatir kau terkena namun rupanya kau lebih waspada.

Aku pun masih ingat
akan Krista anjing kesayanganmu
yang terkena virus Distemper namun terlambat kutangani saat aku ko-as di klinik itu.
Aku masih ingat sedu sedanmu dan perasaan bersalahku.

Hmm.. masih banyak lagi yang kuingat tentang dirimu yang tak bisa kusebut satu persatu.

Mulai dari foramen ovale, hingga kepala kambing yang meloncat dari ember formalin di lab anatomi.

Mulai dari terminal Ubung hingga halaman di Apollo tempat kita menanam tulang-tulang kuda.

Haii.. masih ingatkah kamu.
Akan kulit kerang dan lokan yang kita kumpulkan pada suatu senja di pantai Kuta.
Aku masih menyimpan foto kita berdua
yang berjalan bertenjang kaki meyusuri pantai & garis ombak
Alangkah indahnya senja yang semburat merah kala itu.

Masih ingatkah kamu
jalanan panjang yang kita telusuri di hutan hutan pinus di Penulisan ke dusun Paketan
untuk bertemu dengan peternak ayam kampung di sana?
Alangkah indahnya desau angin yang mendera pepohonan saat itu

Ooh.. masih ingatkah kamu akan cerita perjalanan kita mendaki Gunung Batur dini hari.

Dan bule Kanada yang mengajarkan kita arti ‘curiousity’ sambil menggambarkan lubang kunci.
Alangkah megahnya Sang Surya yang tiba tiba muncul dari dasar lautan di ufuk timur mencerahkan hari.

Namun aku paling suka mengenang saat kita memaksa supir truk untuk berhenti dan lalu kita meloncat ke atas truk yang penuh dengan muatan batu sambil tertawa riang.

Aku menyukai kebebasan jiwa yang kita punyai.
Aku menikmati petualangan hidup yang kita jalani.
Aku menyukai jiwa pemberontak yang kita miliki.

Aku ingin mengucapkan terimakasih atas persahabatan yang tak pernah lekang oleh waktu yang kau tawarkan.
Aku ingin mengucapkan terimakasih atas lyrics “Just For You”nya Richard Cocciante yang kau salin di kertas buku.
Aku ingin berterimakasih atas semuanya yang telah kau berikan padaku dalam ketulusan persahabatan yang tak pernah mengenal kata semu.
Aku ingin mengucapkan terimakasih untuk sejuta alasan yang menyatu..

Dan hari ini pada suatu siang di Gatsu Barat kita bersama lagi melihat lelehan coklat di atas kue donat yang urung kugigit karena mengotori bibirku.

Kita tertawa bersama mengisi hari.

Aku tak kan pernah melupakannya.

Sebuah catatan untuk sahabatku, Wita – pada 21 Maret 2011.ย 

11 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s