Love Is Monkey See And Monkey Do…

Standard

Bagi sebagian orang, menjalin hubungan dengan orang lain bukanlah hal yang mudah. Entah itu hubungan dengan sahabat, saudara maupun pasangan.  Ada yang mengatakan dirinya sulit  untuk memulai dekat dengan orang lain, namun begitu dekat maka biasanya ia akan bersahabat untuk jangka waktu yang sangat lama. Ada juga yang mengatakan bahwa dirinya cepat akrab dengan siapa saja namun cepat juga bubarnya. Head is easy, tail is harder to plan. Ada juga yang mengatakan sulit akrab dan sulit juga mempertahankan hubungan.  Dan ada juga yang mudah akrab dan sekaligus mampu mempertahankan hubungannya tetap abadi. Kelompok terakhir ini tentulah sangat skillful atau kalau tidak sangat beruntung.

Mengingat bahwa  sebuah hubungan personal selalu bersifat bilateral, saya berpikir tentu setiap individu yang terlibat memiliki peranan yang setara pentingnya dalam membentuk sebuah hubungan yang harmonis.  Karena dalam hubungan ini terjadi aksi-reaksi yang sifatnya “Saling”. Saling menghargai. Saling menghormati. Saling menyayangi. Saling Mencintai. Dan lain sebagainya.

Saya mendapatkan kesadaran akan pentingnya kata “saling yang positive” dalam mempertahankan sebuah hubungan, ketika mendengar cerita tentang seorang pria  yang kabur dari rumahnya setelah berperang mulut dengan istrinya. Kebetulan pasangan suami-istri itu saya kenal dengan baik. Tentu saja saya  merasa sangat prihatin. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menolongnya. Hanya merekalah yang bisa memperbaiki hubungan mereka sendiri.  Saya merenungkannya cukup panjang dan mulai menyadari bahwa jika seseorang mencoba ‘kabur’ dari pasangannya, tentu sesuatu yang tidak membahagiakan sedang terjadi. Ketidak bahagiaan yang sudah melewati ambang batas yang bisa ia tahankan.

Setiap orang memiliki sifat personalnya sendiri. Demikian juga pasangan kita.  Tidak bisa kita harapkan 100% sama dengan kita. Berbagai perbedaan pasti terjadi.  Semuanya membutuhkan toleransi dan keinginan untuk membangun situasi yang kondusif. Secara umum sikap pasangan terhadap diri kita, juga  sangat banyak ditentukan oleh sikap kita sendiri terhadapnya.  Jika kita memberinya senyum  yang terbaik, kemungkinan besar ia juga akan memberikan kita senyumnya yang terbaik. Jika yang kita berikan kepadanya adalah complaint dan ketidakpuasan, kemungkinan besar ia akan memberikan lebih banyak ‘manyun’ daripada senyum.  Sekarang tinggal maunya kita apa? Apakah yang kita inginkan senyum dan cinta darinya? Ataukah yang kita inginkan manyun dan kekesalan?  Sangat mirip dengan apa yang disampaikan oleh Michael Franks dalam salah satu lyrics lagunya “Love Is Monkey See And Monkey Do”

 “…Do you want my love, peaches?/ Do you want my rage?/ Or do you merely like to see me shake my cage?/ Your papayas get thrown at me/ And mine get thrown at you/ I guess love is always just: Love is monkey see and monkey do, (that’s all it is, peaches)….”

Pertama kali mengenal lyrics lagu Michael Franks ini dari sahabat saya dan saya tidak begitu memahami konteksnya. Saya terus memikirkannya.  Dan sekarang saya pikir saya bisa lebih jelas mengerti  maksudnya, walaupun tetap tidak tahu apakah ini sesuai dengan konteks yang dimaksudkan oleh Michael Franks sendiri. Bahwa cinta adalah sebuah  learning process sederhana  dimana kita melihat dan meniru apa yang dilakukan oleh pasangan kita dan pasangan kita melihat dan meniru dari apa yang  kita lakukan.  Monkey see and monkey do!. Sulit untuk  mengharapkan pasangan kita selalu memberikan senyum termanisnya setiap saat buat kita,  jika kita juga tidak memberikannya dengan setimpal. Demikian juga jika ia telah berusaha memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada  kita, namun kita sendiri cuek dan tak perduli. Tentu lama-lama ia akan merasa tidak nyaman dan akhirnya berhenti memberikan kita perhatian.  Karena ia melihat apa yang kita lakukan padanya – yaitu ‘cuek’ dan egois dan belajar dari perbuatan kita itu. Itulah hasil sebuah proses pembelajaran sederhana. Dan itulah yang umum terjadi pada cinta ataupun pada bentuk hubungan yang lainnya. Orang mencintai, hanya jika dicintai. Orang memberi hanya jika diberi. Lempar pisang jika kita dilempari pisang! Lempar pepaya jika kita dilempari pepaya. Lempar batu jika kita dilempar batu. Dan tentu tidak ada yang salah dengan ini. Ya seperti proses belajar sederhana itulah. Love is Monkey See and Monkey Do!.

Namun terkadang kita bisa menemukan sebuah bentuk cinta yang luarbiasa. Cinta yang tak mengenal syarat.  Cinta yang terbebas dari hitung-hitungan untung rugi.  Terserah yang dicintai mau membalasnya atau tidak, ia tetap memelihara perasaannya dan memberikan kasih sayangnya dengan tulus hati. Unconditional love!  Itulah cinta ibu kepada anaknya. Setiap ibu tentu merasakan perasaan cinta ini.

Dari  miliaran hati manusia  dewasa yang ada di dunia ini,  pasti ada diantaranya yang menyimpan keindahan cinta sejati yang tanpa syarat ini kepada kekasihnya.  Ada saja orang yang tetap mencintai kekasihnya dengan setulus hatinya, tanpa hitung-hitungan  akan balasannya atau untung ruginya. Mencinta hanya karena ia memang mencinta. Kalaupun ia memutuskan untuk  berhenti memberikan perhatian, barangkali lebih karena keinginan untuk  menjaga perasaan orang yang ia sayangi. Karena tidak mau  mengganggu atau tidak mau merecoki pasangannya.

Namun berapa banyak orang yang seperti itu?

8 responses »

    • Cinta tanpa syarat adalah posisi ideal ya Mbak. Kelihatannya nggak banyak orang yang mampu memberikan itu pada pasangannya. Terlebih pada jaman sekarang dimana materi dan kesenangan duniawi lebih berkuasa dari cinta sejati. Pasangan duitnya seret aja,banyak orang yang mulai manyun, sehingga untuk tetap dicintai terpaksa orang harus bekerja extra agar mendapatkan uang. Pasangan mulai gendut banyak yang mulai complaint dan beralih ke lain hati, sehingga untuk tetap dicintai terpaksa orang diet keras agar tetap langsing dll. Walaupun ada juga sih yang complaint karena demi kesehatan orang yang dicintainya.

      Cinta orang dewasa pakai syarat (hampir) semuanya deh kayanya, Mbak. Jadi kalau ada orang yang begitu, kayanya normal-normal aja – karena toh sebagian besar orang lain juga begitu .. he he

  1. setuju made dalam menjalin keharmonisan rumah tangga tidaklah mudah, cinta yang tanpa pamrihlah yang mampu menjamin keharmonisan rumah tangga itu..
    dalam membangun rumah tangga kita harus terus belajar untuk menyatukan dua hati jadi satu hati…

  2. Kecuali untuk anak-anak, kayaknya aku belum sanggup memberi cinta tanpa syarat deh Mbak Dani..Level spiritualku kayaknya harus di upgrade lagi..Kalau lengket dengan orang yg aku suka, relatif lebih mudah untuk aku lakukan..Tapi yah energiku terbatas untuk memberi perhatian penuh..Gimana itu ya Mbak, kayaknya karakternya gak konsisten banget ya?

    • Ha ha ha.. kurasa kebanyakan orang juga begitu Mbak. Nggaklah. Kan waktu dan enegry kita juga terbatas. Jadi wajarlah spt kata lagu ini – love is monkey see and monkey do- Kita memberi perhatian lebih kepada orang yang juga memberi kita perhatian lebih. Dan bahkan stop memberi perhatian ketika kita merasa tidak juga diberi perhatian.
      Wajar aja sih Mbak.. Kurasa si Pak Franks ini jujur dan apa adanya..he he

  3. tapi bener deh mbak, cinta seorang ibu pada anaknya yg termasuk cinta tanpa syarat. Kalau kepada pasangan, pasti ada syaratnya tinggal besar/kecilnya syaratnya. Karena manusia kan memang pribadi yg berbeda dari sononya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s