Keinginan Yang Seperti Samudra Tak Bertepi.

Standard

Pagi itu saya sedikit terlambat ke kantor. Lalu lintas padat. Belum lagi lintasan kereta api yang memaksa laju kendaraan saya terhenti. Menunggu kemacetan tanpa ada sesuatu yang bisa saya kerjakan, maka sayapun melamun. Memikirkan perjalanan hidup saya.  Mulai ketika pertama kali meniti karir saya dari bawah, di belantara raya Jakarta ini, hingga usia saya kini yang sudah mendekati setengah baya. Banyak hal yang sudah saya alami, lakukan dan kerjakan. Namun terkadang saya merasa tidak tahu, entah apa yang saya cari di kota metropolitan ini.

Bangun pagi, membantu anak-anak yang akan berangkat sekolah, lalu bergegas ke kantor, sibuk mengejar dead line hingga matahari tenggelam dan langit malam mulai gelap. Pulang kembali ke rumah saat ruko di perumahan mulai pada tutup. Kemudian menemani anak-anak belajar dan memeriksa Pe Er. Membersihkan diri lalu tidur. Esok harinya, aktifitas yang sama saya ulangi lagi. Demikian juga hari-hari berikutnya. Di Jakarta,  hidup sungguh mirip baling-baling.  Berputar dengan kencangnya  tanpa mengenal henti.

Lalu apa yang telah saya capai selama puluhan tahun berkiprah seperti baling-baling? Prestasi? Keuangan? Kekayaan? Karir?. Apakah prestasi dan pencapaian saya sudah sepadan dengan usia dan upaya yang saya lakukan? Entahlah!. Rasanya kok saya tidak punya apa-apa ya? Begini-begini saja hidup saya. Karir saya juga begitu-begitu saja. Biasa biasa saja. Cukup sih untuk makan dan hidup. Tapi tidak ada sesuatu yang hebat. Tidak ada yang bisa dibanggakan ataupun dipamerkan. Teman-teman seangkatan saya  banyak sekali yang sukses. Baik secara karir maupun finansial. Melebihi apa yang telah berhasil saya capai. Mengapa saya tidak sesukses mereka? Tidak sekaya mereka? Mengapa saya tidak berhasil membeli rumah di Pondok Indah? Mengapa saya tidak mampu membeli Bumblebee seperti yang Rafi Ahmad punya? Tidak mempunyai perusahaan sendiri yang bisa saya jalankan? Pikiran saya melayang.

Tanpa terasa kendaraan mulai bergerak. Melaju perlahan meninggalkan rel kereta api. Beberapa  menit kemudian, lewatlah saya di  sebuah jembatan sempit yang akan menuju ke jalan Daan Mogot. Macet lagi. Saya melayangkan pandangan keluar jendela. Orang-orang berlalu lalang. Pandangan saya terhenti pada seorang pengemis tua yang duduk di pinggir jembatan itu.  Pakaian putih yang sudah berubah abu dengan jahitan tambal sulam membalut tubuhnya yang keriput. Sangat kurus. Di tangannya sebuah gelas plastik bekas air mineral terisi beberapa keping uang logam. Apakah ia tidak punya keluarga yang bisa mengurusnya di masa tua ? Anak? Istri? Mantu? Keponakan?. Alangkah menyedihkannya. Seketika saya membayangkan masa tua saya kelak. Saat ini, hidup saya masih jauh lebih baik darinya. Namun saya tak pernah tahu, entah di mana dan bagaimana saya akan mengakhirinya kelak.  Saya lalu merogoh tas tangan saya, membuka jendela kendaraan dan membagikan sedikit uang yang saya miliki untuk pengemis tua itu.

Pada saat yang bersamaan, seorang pemulung melintas persis di depan pengemis itu. Menenteng karung dan membawa besi pengait. Barangkali untuk mengait benda-benda yang masih bisa dimanfaatkan dari tempat sampah. Sangat kotor, namun wajahnya tampak ceria di bawah paparan sinar matahari pagi. Pemulung itu melemparkan senyumnya kepada saya. Senyum yang entah kenapa, tiba-tiba membuat hidup saya tampak normal kembali. Sayapun membalasnya.

Sekarang saya menyadari, bahwa hidup  saya ini baik-baik saja. Di mana ada orang yang lebih sukses dari saya, ada juga yang kurang sukses. Ada yang lebih kaya  dan ada juga yang kurang kaya. Ada yang lebih beruntung dan ada juga yang kurang beruntung. Tidak ada yang salah dengan apa yang saya jalani.

Saya kira setiap orang memimpikan prestasi dan pencapaian gemilang dalam hidupnya. Sukses dalam karir, pergaulan dan finansial. Termasuk saya sendiri. Keinginan untuk begini dan begitu selalu muncul. Ketika kita berhasil mendapatkannya, maka keinginan yang lainpun segera muncul. Begitu keinginan yang kedua berhasil kita capai, maka keinginan yang ketigapun muncul. Demikian seterusnya. Tidak ada habisnya. Apakah kita puas dan bahagia? Belum tentu. Keinginan lain akan terus bermunculan. Tak pernah terpuaskan.  Bak  samudera yang tak bertepi. Sayangnya kemampuan kita sebagai manusia juga terbatas untuk bisa mengikuti semua keinginan itu. Kita dibatasi oleh waktu, usaha, kesempatan, kemampuan,  serta garis hidup kita.

Jadi  untuk apa kita mengejar  nafsu dan keinginan tanpa batas ini? Seberapa jauhpun kita mengejarnya, tidak akan pernah kita jumpai ujungnya. Lagipula, toh kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh kekayaan yang kita miliki ataupun kesuksesan duniawi yang  bisa kita cicipi. Kebahagiaan datang ketika kita mampu menikmatinya dan mensyukuri apa yang kita dapatkan. Persis seperti yang diajarkan oleh pemulung yang tersenyum sumringah kepada saya pagi ini. Kita hanya perlu bersyukur dan selalu bersyukur bisa menikmati diri kita seperti apa adanya hari ini.

Kemacetan mencair. Kendaraan mulai bergerak dari atas jembatan sempit itu. Saya lalu menulis di note saya  agar saya selalu teringat akan hikmah pagi itu.

…ketika pikiran yg serakah menginginkan sesuatu yg melampai hak & kemampuan kita, tengoklah ke sekeliling pada orang orang yg kurang beruntung mengais sisa makanan dan mengharap kebaikan hati orang yg berlalu melintas”

Sebuah jembatan sempit di Kali Daan Mogot .

8 responses »

  1. sukaaa sekali mbak….aku akhir-akhir ini juga sering berpikir, apa yang telah kubuat, dan apa yang telah kupersiapkan utk masa depan… TAPI aku punya keluarga yang utuh dan saling mencinta! Itu saja yang harus dan selalu kuingat.

  2. Terimakasih Mbok Ade telah berbagi mutiara kehidupan, dari keinginan yang seperti samudra tak bertepi ke pengucapan syukur atas keluarga dan karya saat ini. salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s