Dokter Hewan Wita: Born Free To Follow Your Heart…

Standard

Pernah suatu kali saya dan  anak-anak terlibat obrolan tentang Jalak Bali yang populasinya sangat kritis dan tentang  satwa lain  yang dilindungi keberadaannya di Indonesia seperti misalnya Harimau, Komodo, Badak Jawa, Babirusa, Burung Cendrawasih, Trenggiling, Orangutan dan sebagainya. Binatang-binatang ini dilindungi di negara kita. Dan kita dilarang menangkap, memperjual-belikan ataupun memeliharanya di rumah.  “Kalau ada yang ketahuan berburu atau memelihara di rumahnya, bagaimana?” tanya anak saya. “Ya ditangkap dan  dihukum. Binatangnya disita” kata saya. Berikutnya anak saya mempertanyakan tentang nasib binatang-binatang sitaan itu. Apakah dipelihara lagi oleh petugas? Atau dilepaskan kembali ke hutan?

Pertanyaan yang  seketika mengingatkan saya akan  Dokter Hewan Wahyu Widyayandani yang sehari-harinya dikenal dengan panggilan akrab Wita, yang  banyak bergelut di bidang konservasi satwa liar. Saya mengagumi apa yang ia lakukan. Dan saya selalu mengagumi keberaniannya dalam menetapkan pilihan hidup. Wita, adalah seorang sahabat karib saya saat bersama-sama menempuh pendidikan di Kedokteran Hewan Universitas Udayana, di Denpasar. Tentu saja banyak hal yang kami jalani  dan bagi bersama. Suka dan duka.  Kebetulan saya pulang ke Bali, maka sayapun menyempatkan diri untuk ngobrol dengannya di sebuah rumah makan di depan Bajra Sandi di daerah Renon, Denpasar.

Kecintaannya akan satwa liar,  terinspirasi oleh  film Born Free yang mengisahkan kehidupan suami istri  George dan Joy Adamson yang mengadopsi Elsa, seekor singa betina, memeliharanya sampai dewasa lalu melepaskannya kembali ke hutan di Kenya.  Serialnya juga pernah ditayangkan sekitar tahun 70-an atau 80-an (saya agak lupa)  di TVRI.  Saya suka juga menontonnya bersama Bapak saya. Serial inilah  rupanya yang mendorong Wita untuk menempuh pendidikannya sebagai dokter hewan dan menggeluti bidang konservasi satwa liar.

Seusai menempuh pendidikannya di Udayana, Wita pernah mencoba melamar ke Department Kehutanan. Namun sayang, saat itu ia mendapatkan penjelasan bahwa  Department Kehutanan tidak membutuhkan dokter hewan. Wita pun akhirnya  ke Malang dan bekerja di sebuah Rumah Sakit Hewan di kota itu. Berikutnya ia meneruskan karirnya di sebuah perusahaan obat hewan. Namun idealisme memanggilnya untuk lebih mendekatkan diri kembali ke alam.  Maka iapun bergabung dengan sebuah LSM, yakni Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Sanur.  Aktifitasnya terutama lebih difokuskan pada pendidikan, penyuluhan  di sekolah-sekolah,  guna meningkakan pemahaman dan pengetahuan serta kesadaran anak-anak sekolah tentang lingkungan hidup. Termasuk konservasi sumber daya alam yang ada. Setelah berkarir di  PPLH selama 4 tahun, akhirnya Wita bergabung dengan  Pro Fauna – sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya lagi, yang  lebih banyak melakukan campaign, demo damai urusan konservasi satwa sebagai  Advisory Board di bidang Science. Di sana ia bertemu dengan banyak sekali teman-teman lain yang juga terlibat langsung dalam upaya-upaya penyelamatan satwa.

Pada tahun 2003,  Wita ditunjuk untuk memimpin  Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Bali dan menjadi koordinator bagi para dokter hewan lapangan yang bekerja di PPS.   Di tempat ini, ia merawat binatang liar hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Department Kehutanan  sebelum dilepaskan kembali ke alam. Saya sempat membawa anak-anak saya mengunjungi Wita di PPS untuk melihat bagaimana satwa liar ini dirawat dan dipersiapkan agar bisa kembali ke habitat asalnya dengan baik.  Banyak yang saya lihat di sana. Mulai dari berbagai Burung elang, Kaswari, Merak, Jalak Bali, Kakatua  gallerita, Kakatua ambon (Cacatua moluccensis), Kakatua Raja Irian, Kakatua Raja Aru, Cendrawasih, Nuri bayan, Kukang, Trenggiling, Orang utan, Siamang, Lutung, Ular Phyton reticulatus  dan sebagainya.

Lalu apa yang dilakukan dokter hewan ini di Pusat Penyelamatan Satwa?  Setiap satwa liar yang disita Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang diserahkan ke PPS, diperiksa  kesehatannya dengan baik. Diseleksi apakah layak dilepas atau tidak. Sebelum dilepaskan PPS minimal akan melakukan berbagai kajian terlebih dahulu antara lain:

Kajian  Ilmiah, yang meliputi kajian medis, kajian perilaku alami atau biologi dan kajian habitat.  Misalnya dengan mengkaji apakah makanan yang tersedia di alam cukup tersedia.  Demikian juga tempat untuk berlindung. Misalnya untuk melepas Elang, perlu dipastikan keberadaan pohon yang tinggi unuk bersarang. Karena Elang butuh kanopi. Lalu perlu juga diperhatikan keberadaan competitor maupun predatornya. Kesehatannya diperiksa dengan sangat teliti untuk mencegah jangan sampai terjadi penularan penyakit dari satwa yang sempat dipelihara manusia ini ke lingkungan sekitarnya.  Misalnya untuk burung Kakatua saja, minimal dilakukan pemeriksaan dan test  terhadap 15 jenis penyakit, mulai dari Psittacosis, Salmonellosis, Avian Influenza, Pacheco disease, Peak and Feather Disease  dan lain sebagainya.

 Kajian Sosial, dimana dilakukan assesment terhadap masyarakat sekitar habitat. Berbagai penyuluhan  dilakukan  agar masyarakat  ikut menjaga dan tidak menangkap kembali hewan yang dilepaskan. Untuk memantaunya dilakukan penandaan dengan wing marker dan penanaman microchip  di dada atau dilehernya.  Juga dilakukan pemasangan radio telemetri yang dipasang di bulu ekor untuk kepentingan pemantauan jarak jauh. Pemantauan di darat dengan menggunakan pemancar dan penerima yaitu transmitter dan receiver. Dengan radio pemancar maka keberadaan satwa liar ini bisa terpantau dengan baik dari waktu ke waktu. Radio telemetri yang dipasang di ekor ini dilengkapi dengan batterai yang bisa bertahan sampai 2 tahun.

Lalu Kajian Hukum – untuk memastikan bahwa semua urusan hukum berkaitan dengan penyitaan  satwa ini sebagai barang bukti sudah terselesaikan dengan baik.

Masa recovery dari satwa liar ini  di PPS sangat bervariasi. Ada yang cepat, ada juga yang lambat. Banyak yang berkisar antara 6 bulan hingga 5 tahun. Menurut  Wita, pemerintah sendiri memberikan bantuan  untuk makanan satwa ini. Jumlahnya tidak besar, tapi menurutnya cukup.

Saat ini Wita  tidak lagi aktif di PPS, namun  masih setia memantau  keberadaan satwa-satwa liar  dilindungi yang sudah dilepasliarkan. Wita masih aktif di Profauna hingga saat ini. Sayang obrolan kami harus bubar, karena tak terasa hari sudah larut malam. Satu per satu pengunjung  meninggalkan rumah makan itu dan pemiliknyapun bermaksud  menutupnya. Wita lalu mengantarkan saya pulang.

Malam yang sungguh menyenangkan bersama seorang sahabat lama. Saya selalu mengagumi hal-hal positive yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar saya. Termasuk yang dilakukan oleh Wita, dokter hewan yang hidupnya dipenuhi cinta akan fauna. Saya menyukai kebebasan jiwanya. Lagu jadul Born Free yang dilagukan oleh  Matt Monro pun terasa mengiang di telinga saya kembali .

Born free, as free as the wind blows/ As free as the grass grows/ Born free to follow your heart.

 Live free and beauty surrounds you/ The world still astounds you/ Each time you look at a star

 Stay free, where no walls divide you/ You’re free as the roaring tide/ So there’s no need to hide.

 Born free, and life is worth living/ But only worth living/ ‘Cause you’re born free…….”

13 responses »

  1. Paparan yang menarik Mbak. Memang saat ini keberadaan beberapa hewan langka sudah mulai harus kita perhatikan lebih besar.

    Dan sepertinya memang dengan penyuluhan dan juga pengenalan mengenai hal-hal seperti menjaga lingkungan dan hewan sedari usia dini bagi anak-anak sudah sangat perlu untuk dilakukan.

      • Untuk anak-anak, seharusnya sosialisasinya lebih mudah Mbak. Karena anak-anak kan masih bisa diajak untuk berdiskusi lebih banyak dan memberikan mereka minat yg besar dalam hal ini juga tidak mustahil untuk dilakukan.

        Yang lebih susah justru kepada orang dewasa, sejujurnya kadang saya sendiri malah jadi skeptis sendiri kalau ada seperti GreenPeace memberikan presentasi. Itu jadi masalah. Pun kalau harus ada yang memberikan sosialisasi, sosialisasinya jelas harus berbeda juga.

        Peer besar, Mbak.

  2. Mbak senang sudah mengenalkan satu lagi orang hebat!

    Pertanyaan yang sama pernah timbul juga diantara kami, waktu membahas soal Washington Convention, yang tidak boleh membawa specimen kupu-kupu langka. Lah kalau tidak tahu kemudian terbawa gimana? Disita lalu? dibuang? ih sayang sekali….

    Aku juga suka nonton film Born Free itu. Sekitar tahun 1980-an di TVRI mbak, saya masih SD/SMP waktu itu

  3. Dua orang sahabat karib yang saya kagumi sejak di bangku kuliah, dua-duanya smart & cantik. Lebih kagum lagi ternyata persahabatan itu tak putus karena jarak dan waktu………. Happy Birth Day Mbak Wita, sukses selalu Mbok Ade……………salam.

  4. dr Wita yg ayu penyayang hewan langka, sungguh inspiratif ya mbak ……wanita hebat
    trims for sharing,

    Born Free kutahu pertama dari lagunya itu, sering kudengarkan berdua alm papa

  5. Persahabatan yang saling menginspirasi dan karya drh Wita maupun drh Made melalui bidang yang berbeda menginspirasi banyak pribadi. Salam dari ragil pengagum kiprah Mbok Ade.

  6. saya rasa masih banyak orang yang tidak tahu mana hewan yg di lindungi dan ngak, belum lama saya di tawari burung kakatua jambul kining, saya tanya surat2nya, gak ada. terus lihat juga orang bawa trenggiling, katanya dapet dr hutan mo di jual.

    sosialisasi akan hal ini saya rasa masih sangat kurang Made…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s