Welcome, Persia…

Standard

Pulang kantor saya melihat anak saya  bermain di teras depan. Agak mengherankan. Pertama karena hari sudah malam. Seharusnya ia ada di kamar mengerjakan PR atau belajar.  Kedua karena tidak biasanya ia seperti itu.  Ada apa? Saya mendekat. Ooh, rupanya ia sedang menunggui seekor kucing kecil yang diletakkannya di dalam keranjang. “Mama, kita  punya kucing baru” kata anak saya. Waaww! Tambah heran saya.  Kucing baru? Berarti mulai sekarang kami akan memiliki dua ekor kucing. Bagaimana bisa? Darimana ia  mendapatkan  kucing? Apakah ayahnya sudah setuju? Mengingat suami saya sama sekali tidak menyukai kucing. Satu kucing saja sudah membuatnya bete,apalagi dua ekor kucing.

Seolah bisa membaca pikiran saya, anak saya menjelaskan bahwa kucing kecil itu adalah kucing liar di ruko perumahan kami. Ia mengeong dan terus membuntutinya pulang. “Kata papa boleh, asal La Kitty setuju”. Oh OK. Surprised!!!. Wah, hebat! Saya memuji suami dan anak saya dalam hati. Baiklah kalau begitu. La Kitty adalah nama kucing di rumah kami. Saya mengintip kucing kecil di dalam keranjang plastik yang punya banyak lubang udara itu. Wuw.. lucunya. Sayang krus dan agak kotor. Kucing jantan lagi. Sama dengan La Kitty. Mukanya agak pucat. Bulunya belang hitam putih. Ia melihat saya dan  mengeong.  Sayapun menggelitik lehernya sebentar.  Kucing kecil itu mengeong lagi. Saya lalu  masuk ke dalam rumah. Meletakkan tas tangan saya dan bermain sebentar dengan anak saya yang besar.

 Beberapa saat kemudian, saya lihat anak saya yang kecil masih belum masuk ke dalam rumah.Lalu saya bertanya, mengapa ia tidak masuk ke dalam padahal malam telah mulai larut? Anak saya berkata bahwa ia akan menunggu kucing kecil itu karena kasihan. Menurutnya, ia  ketakutan karena tidak mau diterima oleh La Kitty. Kalau La Kitty tak mau, pasti papa akan lebih tidak mau lagi. “Tolonglah Ma? Gimana caranya biar kucing ini bisa berteman dengan La Kitty” pinta anak saya.

 Sebenarnya sayapun tidak begitu yakin, apakah La Kitty akan semudah itu menerima anak kucing lain untuk tinggal bersamanya di rumah? Akhirnya saya suruh anak saya untuk membawa masuk anak kucing itu dan menempatkannya di dekat La Kitty.“Oh, jangan Ma! Tadi sudah dicoba. Dan La Kitty marah.Menggeram terus.Kucing kecilnya ketakutan”kata anak saya. Saya mencoba memberi pengertian kepada anak saya,bahwa jika kita mengharapkan keakraban antara La Kitty dan kucing kecil itu terjadi, satu-satunya jalan adalah dengan memberikan peluang bagi kedua ekor kucing itu untuk saling mengenal satu sama lain. Tidak ada jalan lain.

 Karena tak punya pilihan, anak saya lalu mengikuti petunjuk saya. Mengangkat kucing beserta keranjangnya itu ke dalam rumah dan menempatkannya sangat dekat dengan La Kitty yang sedang berbaring di sofa. Saya memperhatikan reaksi pertama La Kitty. Ia bangun, melihat kearah anak kucing di dalam keranjang itu dan menggeram. Anak saya tampak khawatir, lalu cepat-cepat menutup kucing kecil itu dengan keranjang untuk menyelamatkannya dari cakaran La Kitty. La Kitty bereaksi dan semakin menggeram. Pandangannya sangat awas kepada kucing kecil itu.  Sekarang saya mulai berpikir lain.

 Saya suruh anak saya melepas keranjang penutup kucing itu. Anak saya ragu-ragu. Tapi saya setengah memaksa. Saya ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh La Kitty jika keranjang itu dibuka. “OK.Tapi mama pegang erat-erat La Kitty kalau nanti ia menggigit kucing kecil ini” kata anak saya.Saya setuju dan mulai mengusap-usap kepala La Kitty agar ia merasa nyaman dengan saya. Ia mendekat dan mengendus kucing kecil itu.Sementara kucing kecil itu mundur ketakutan di pojokan keranjang sambil mendesis-desis. Ia menyangka dirinya akan diserang La Kitty. La Kitty mendesak maju. Karena khawatir dan barangkali panik, anak saya cepat-cepat mengambil keranjang dan menutup kucing kecil itu kembali untuk melindunginya.

 “Oh Jangan!!!”kata saya. “Kita lihat apa yang akan dilakukan oleh La Kitty. Santai saja. Jangan dibikin panik.”  saran saya. Anak sayapun membuka kembali keranjang penutup itu. Sekarang La Kitty mendekat. Ia mengendus kucing kecil itu.  Anak kucing itu bergerak mundur. La Kitty maju dan rupanya memang hanya mau mencium kucing kecil itu. Ia hanya ingin berkenalan. Ia menciumkucing kecil itu berkali-kali. Tidak melakukan sesuatu yang membahayakan kucing muda itu. Halah!! Sekarang saya tahu. Anak saya terlalu berprasangka.

 Kadang-kadang kita terlalu panik dan menyimpan kekhawatiran yang berlebihan untuk sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana.  Dan kepanikan maupun kekhawatiran kita sering pula memicu kita untuk bertindak irrasional,  yang menyebabkan proses sederhana yang alami itu akhirnya malah tidak terjadi.  Akibat ketegangan baru yang muncul, segala sesuatunya akhirnya jadi berantakan. Persis seperti yang dilakukan oleh anak saya. Khawatir La Kitty tak mau menerima kucing kecil itu, maka ia pun memisahkan dan menjauhkannya dari La Kitty. Demikian juga saat La Kitty mendekat, anak saya panik dan menutup kucing itu dengan keranjang, yang menyebabkan ketegangan diantara La Kitty dan anak kucing itupun meningkat. Itulah sebabnya ia tak berhasil mengakrabkan ke dua kucing itu.  Padahal kalau perkenalan kedua kucing itu dibiarkan terjadi secara lami dan hanya diawasi dari jauh,  mungkin akan jauh lebih mudah.

 Sekarang La Kitty dan Kucing kecil itu sudah mulai akrab.  Ia menginap di rumah kami semalam dan kelihatan sangat senang.  Anak saya memberinya nama Persia. Lucu juga. Mungkin akan menjadi anggota keluarga baru kami. Namun besok saya berniat akan melakukan cross check ke Satpam terlebih dahulu, barangkali ada seseorang yang kehilangan kucingnya. Walaupun anak saya yakin Persia adalah salah satu anak kucing liar tanpa pemilik yang banyak berkeliaran di ruko perumahan kami.”Pasti kucing liar!. Ketahuan dari kurus dan kotornya. Berarti nggak ada yang ngurus.Nggak ada yang ngasih makan. Nggak ada yang memandikan” Kata anak saya dengan yakin. Namun siapa tahu jika ternyata Persia bukan kucing liar. Barangkali kucing rumah yang pemiliknya kurang telaten memeliharanya? Jika ya, mungkin kami perlu mengembalikan Persia kepada pemiliknya.

Anyway, welcome Persia…

18 responses »

  1. Mbak Dani sangat hebat mengolah kejadian sehari2 jadi pembelajaran kehidupan. well, ikut mengucapkan selamat datang kepada Persia. kok namanya manis sekali ya, afakah hubungan dng Prince of Persia? Haha..aku terpesona sama pemain utamanya soalnya Mbak…

    • thanks Mbak Evi. Ah,Mbak Evi juga banyak sekali pembelajarannya.
      ha ha..aku nggak tahu itu anak-anak yang ngasih nama. Entah inspirasinya dari mana. Tapi mungkin tidak mengambil inspirasi dari film itu, Mbak.
      Aku lupa nanya. Persia, katanya gitu aja saat kutanya apa mereka sudah kasih nama.
      Kupikir lucu juga..

  2. saya kagum sama ke dua anak Made yg begitu perhatian…..

    lucu kucingnya.

    oia Made sekalian bertanya, kucing saya di rumah bulunya pada rontok, apa penyebabnya ya ? lantas mengatasinya bagaimana ?

    maaf ngerepotin….hehe

    • Mungkin karena anak-anak suka kucing aja itu,Kang. jadinya perhatian he he.
      Di rumah juga pelihara kucing ya?
      Kerontokan bulu pada kucing, mungkin disebabkan oleh beberapa hal – bisa karena faktor kandungan makanan yang kurang seimbang dan mengakibatkan gangguan thyroid, alergy udara ataupun makanan, mungkin juga karena ada serangan kutu/tungau yang kita sebut Scabies ataupun demodex (agak sulit dilihat,karena tungaunya berada di lapisan dalam kulit – kucing hanya kelihatan gatal dan suka garuk-garuk sehingga bulunya rontok), atau mungkin juga karena serangan jamur dan masih banyak penyebab lain lagi. Memang untuk memastikannya perlu diperiksa agak detail oleh dokter dan jika perlu diambil sample jaringan kulitnya sedikit dan diperiksa di bawah mikroskop.
      Tapi untuk sementara, coba lakukan dulu sesuatu sebelum ke dokter, misalnya amati makanannya. lakukan percobaan dengan jenis makanan yang kira-kira membuatnya terganggu – misalnya jenis ikan yang kita kasih. Coba hentikan seminggu. ada reaksi nggak?
      Terus usahakan juga mengurangi kontak dengan kucing lain. Ada perubahan nggak?
      Lihat ke kulitnya, ada tanda-tanda seperti kulit kita yang kena serang jamur/kutu nggak? kalau kira-kira seperti itu, mendingan dibawa ke dokter untuk diobati.

      • oh gitu ya…hehe

        iya Mde..

        wah ternyata banyak kemungkinanya.

        pakanya di kasih wiskas, gak di kasih yg lain lagi. terus di rumah hanya ada 2 ekor kucing.
        iya Made nanti saya kan periksa kulitnya…

        oiya terima kasih banyak Made…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s