Persahabatan Dan Kesetiaan Seekor Anjing.

Standard

Suatu kali saya sempat ngobrol ngalur ngidul dengan sahabat saya di telpon mengenai keinginannya untuk mengunjungi Nepal. Pegunungan Himalaya dengan puncak-puncaknya yang sakral. Tentu merupakan tempat menarik untuk melakukan perjalanan spiritual. Berbicara mengenai puncak-puncak Himalaya ini, tanpa terasa pembicaraanpun bergeser tentang kekaguman sahabat saya itu terhadap kesetiaan Yudhishtira, putra Pandu yang tertua terhadap anjing yang telah dengan setia menemani perjalanan hidupnya. Sayapun teringat kembali akan kisah kesetiaan persahabatan yang luar biasa itu.

Dalam Mahabrata, dikisahkan bahwa Panca Pandawa bermaksud untuk melakukan perjalanan spiritual guna mencapai sorga melalui puncak Meru di Himalaya. Mereka melepaskan semua urusan duniawi, menyerahkan separuh kerajaannya kepada Yuyuthsu – putra Widura dan separuhnya lagi kepada Parikshith, putra Abimanyu. Maka berangkatlah mereka berlima plus Drupadi istrinya. Seekor anjing dengan setia ikut menemai perjalanan mereka yang sangat melelahkan dan penuh tantangan. Dalam perjalanan, satu persatu Panca Pandawa ini wafat sebelum mencapai surga. Nakula, Sadewa, Arjuna, Bima dan Drupadi. Semuanya terbebani oleh dosa-dosa masing-masing yang mereka perbuat selama hidupnya.

Tinggal kini hanya Yudhishtira seorang ditemani anjingnya yang setia meneruskan perjalanannya hingga ke puncak Meru. Di sana Dewa Indra, sang malaikat penjaga surga menyambutnya dan menyuruhnya naik ke dalam kereta yang akan mengangkat mereka ke surga. Yudhistira lalu meminta agar anjingnya pun diperbolehkan masuk ke surga. Dewa Indra menolak dan mengatakan hanya Yudhishtira lah yang berhak masuk surga dengan badan kasarnya. Yudhishtira yang memang sangat terkenal akan  perbuatannya yang selalu memihak kebaikan dan kebenaran, lalu mengatakan bahwa ia tidak akan masuk ke sorga tanpa anjingnya yang setia itu. “Bagaimana mungkin saya akan meninggalkan anjing yang telah dengan setia menemani saya dalam keadaan senang maupun susah?” Dewa Indra berkata ”Mengapa engkau meninggalkan adik-adik dan istrimu, namun tidak mau meninggalkan anjing ini?”. Yudhisthira menjawab “Bukan saya yang meninggalkan mereka, namun merekalah yang meninggalkan saya. Arwahnya telah meninggalkan saya. Tapi anjing ini masih hidup. Jika saya naik kereta itu tanpanya, maka sayalah yang meninggalkannya”  Dan ia tetap tidak mau masuk ke sorga dengan meninggalkan anjingnya. Lalu anjing itupun berubah menjadi Dewa Dharma dan memuji kesetiaan persahabatan yang telah dilakukan oleh Yudhishtira terhadapnya, walaupun hanya dengan seekor anjing.

Kisah ini mengingatkan saya akan kesetiaan yang serupa yang saya tahu dari Paula, seorang kakak kelas saya saat  kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana jaman dulu.  Paula kost tidak jauh dari tempat saya kost di Gang Keris, di belakang Kampus Unud di daerah Sudirman. Jadi saya mengenalnya cukup baik. Ia memang seorang penyayang anjing. Kerapkali saat kami masih ko-ass di klinik, ia membawa anak-anak anjing yang sudah belatungan ke Klinik. Mungkin anak-anak anjing ini dibuang oleh pemiliknya (barangkali karena terlalu banyak) ke tempat sampah. Dan Paula memungut dan mengobatinya. Atau membawanya ke Klinik kampus. Sebagian anak-anak ko-ass ada juga yang menggerutu akibat pekerjaan tambahan yang diberikan Paula ini. Tapi sebagian lagi ada yang senang, karena semakin banyak pasien, tentu semakin banyak berlatih mengobati,  selain juga karena memang sesama penyayang binatang.

Paula memiliki seekor anjing. Sayang saya  lupa namanya. Untuk memudahkan, sebut saja Si Belang. Si Belang ini dipeliharanya dengan baik. Diberi makan dan minum, dibersihkan dan dirawat setiap hari. Suatu hari Si Belang hilang. Paula pun sibuk mencarinya. Semua teman-teman diberi tahu tentang anjingnya yang hilang. Termasuk saya sendiri. Dengan harapan ikut membantu memulangkan, seandainya salah satu dari kami ada melihatnya. Ia berkata bahwa anjingnya itu sangatlah setia. Menemani dan menjaganya dengan baik selama dia kost di tempat itu. Anjing memang memiliki kesetiaan yang luar biasa terhadap tuannya. Anjing juga selalu menerima keadaan yang diberikan oleh tuannya. Tidak pernah mengeluh dan tidak pernah complaint.

Setiap hari Paula berjalan menyusuri jalan-jalan di seputar tempat kostnya dan seputaran kampus. Berharap melihat Si Belang. Sering saya dengar suaranya memanggil nama anjingnya.  Namun Si Belang tidak juga kunjung datang juga. Sayapun berusaha ikut mencarinya. Namun Si Belang benar-benar menghilang seperti di telan bumi. Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan berlalu. Paula selalu menghabiskan waktunya di luar jam kampus untuk menyusuri jalanan di Denpasar untuk mencari anjingnya. Saya sendiri kemudian mulai melupakan perihal hilangnya Si Belang itu.

Beberapa bulan kemudian, pada suatu sore menjelang malam, saya pulang dari perpustakaan kampus. Hari mulai gelap. Namun jalanan cukup terang oleh lampu jalanan. Saya bertemu Paula di gerbang dekat laboratorium Kimia. Saya pikir iapun baru balik dari perpustakaan. Samar-samar telinga saya mendengar suara rintihan anjing dari got  agak jauh di depan kami.  Tiba-tiba saya melihat Paula berlari  sambil berteriak  memanggil nama anjingnya. Ia  turun ke got itu dan menemukan Si Belang merintih kesakitan di sana.   Saya mendekat dan melihat Paula memeluk anjingnya yang patah kakinya. Airmatanya bercucuran. Paula menggendong Si Belang dan membawanya ke tempat kostnya. Saya hanya bisa terbengong-bengong melihatnya dan berusaha membantu sedapatnya. Tak terasa airmata sayapun ikut mengalir. Terharu sekali.  Saya tidak pernah melihat kesetiaan persahabatan seperti itu sebelumnya.

Itulah persahabatan yang paling mengharukan yang pernah saya lihat dalam hidup saya. Sangat takjub menyadari bagaimana akhirnya ia bisa menemukan Si Belang setelah berbulan-bulan mencari. Sangat heran bagaimana ia bisa mengenali bahwa rintihan suara yang di got itu adalah suara Si Belang, anjingnya. Tetap menjadi mystery, kemanakah gerangan Si Belang pergi selama ini dan bagaimana ia bisa terdampar di got dengan kaki  yang patah.

Berbahagialah orang yang memiliki persahabatan yang tulus. Yang tak aus oleh panas dan hujan dan tak lekang oleh waktu. Apakah saya akan bisa memiliki kesetiaan yang setara terhadap sahabat saya? Semoga.

13 responses »

  1. Kalau ngomongin kesetiaan anjing saya jadi ingat Hachiko yang di film Jepang. Saya juga ingat nenek saya punya anjing namanya ibas yang menemani nenek saya kalau jalan-jalan keliling kampung. Pernah Ibas pergi hampir dua minggu tetapi kemudian pulang sehari dalam kondisi terlihat masih sangat sehat. Yang membuat nenek saya sedih adalah sehari kemudian ibas mati. Ternyata ibas pulang ke rumah hanya untuk pamit.

    • Oohh mengharukannya. Penyebab kematiannya tidak jelas ya ? Mendadak ya?
      Bisa saya bayangkan kesedihan nenek atas kematian Ibas.
      Saya pernah melakukan penelitian tentang cacing jantung (Dirofilaria imitis) yang mengakibatkan kematian mendadak pada anjing yang terlihat sehat.

      • Oh itu saya juga pernah dengar dari teman, katanya cacing jantung bisa menyebabkan penyumbatan jantung dan untuk mengambil cacing yang sudah mati di dalam jantung harus dioperasi ya?

      • Ya.. salah satu teknik penyembuhannya seperti itu. Tapi sebenarnya bisa juga dengan terapi anthelmetik tertentu dan perawatan yang khusus untuk memastikan agar remah-remah cacing yang pasti terabsorb dengan baik dan tidak menyebabkan gangguan pada klep jantung maupun sumbatan paru-paru. dam pengobatan juga dilanjutkan untuk memebrantas microfilarianya yang beredar di dalam darah.

  2. Sebuah kisah yang paling mendalam tentang makna persahabatan dari epos Mahabharata, berulangkali saya baca bagian ini sejak kecil, hingga ketika diberi tugas pementasan drama singkat dibangku sekolah SMP dulu cerita ini telah mengispirasi saya untuk dijadikan tema pementasan kecil didepan kelas. Sayang sang Yudistira kami telah lama menderita kelumpuhan akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Semoga kita tetap bisa bersahabat Jaya”Yudistira”Winata, selamanya… salunglung sabayantaka. Terimakasih Ibu, telah menulis cerita ini, …seperti mendapat hadiah bu,…

    • Sama-sama. Terimakasih commentnya. Persahabatan yang tulus merupakan hubungan yang terbaik yang bisa dilakukan setiap mahluk tanpa memandang bentuk dan asal usul seseorang. Saya ikut berdoa semoga persahabatannya dengan Jaya “Yudhishtira” Winata tetap langgeng selamanya.
      Walaupun saya bukan sahabat terdekatnya, tapi saya cukup sering juga menengoknya setiap kali saya pulang ..

  3. Cerita tentang kesetiaan Anjing memang tidak putus-putusnya dibicarakan orang.

    Tentu Ibu pernah mendengar cerita tentang seekor anjing di jepang Hachico (?) yang begitu setia menunggu tuannya di stasiun …
    Kesetiaan itu memang mengharukan

    salam saya Bu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s