Monthly Archives: October 2012

Surabaya – Art In Office & Public Area.

Standard

Satu hal yang sangat sering saya lakukan jika sedang berada di tempat-tempat tertentu misalnya lobby hotel, lobby kantor, ruang meeting kantor, dan sebagainya adalah melihat-lihat lukisan yang tergantung di dindingnya. Banyak lukisan yang bisa saya nikmati. Tentu saja jenisnya beragam. Ada yang terlihat diproduksi massal oleh “pabrik lukisan”, ada juga yang memang terlihat eksklusif dan langka. Gayanya pun beragam. Ada lukisan traditional, ada juga yang bergaya modern.Ada yang abstract. Ada juga yang realis. Ada yang memberikan keteduhan jiwa saat memandangnya.Ada yang membuat api semangat kita berkobar. Pokoknya macam-macamlah. Read the rest of this entry

Berkawan Dengan Air.

Standard

Ada hal yang paling saya takuti saat melakukan perjalanan jauh. Yaitu Sakit. Terutama jika perjalanan itu harus saya lakukan seorang diri. Walaupun pada akhirnya di tempat tujuan saya pasti akan ditemani oleh orang lain, namun tentu saja menjadi tidak mengenakkan jika kita harus membebani teman dengan keluhan kita. Oleh karenanya, saya benar-benar takut sakit. Read the rest of this entry

Mencari Sahabat Lama.

Standard

Sekembalinya dari melakukan perjalanan beberapa hari di luar kota, saya baru  berkesempatan lagi melihat blog saya dan melakukan blog-walking. Wadow… saya mendapatkan tugas dari sahabat blogger saya SEKAR LANGIT untuk menulis postingan berkaitan dengan  “Mencari Sahabat Lama”.  Dengan persyaratan yang harus saya penuhi sebagai berikut:

1. Tulisan harus berjudul “Mencari Sahabat Lama”.

2. Tulisan bertujuan untuk mencari sahabat lama.

3. Menuliskan 8 sahabat lama yang sedang atau ingin dicari.

4. Sertakan deskripsi sederhana tentang sahabat yang dicari.

5. Tuliskan 8 aturan ini di awal tulisan.

6. Tunjuk 8 teman blog  untuk direkomendasikan menuliskan posting serupa.

7. Teman yang direkomendasikan boleh menuliskan posting serupa atau tidak menuliskannya.

8. Tulisan tidak boleh bertujuan untuk mendapatkan backlink. Read the rest of this entry

The Power Bank That Has No Power.

Standard

Saya sedang melakukan perjalanan panjang. Di tengah jalan, blackberry saya kehabisan batere. “Wadow! Nggak bisa be be em-an lagi deh” kata saya. Yah,memang nggak enak rasanya kalau lagi ngobrol tiba-tiba batere habis begini. Teman saya menoleh. “Lanjutin pake hape biasa saja, Bu” katanya. “Habis juga baterenya” kata saya.

Kalau gitu Ibu mesti beli Power Bank aja, Bu. Penting banget loh. Apalagi buat ibu yang sering bepergian. Saya nggak pernah lagi punya problem seperti itu sejak punya Power Bank” Saran teman saya. Kedengaran seperti sedang berpromosi di telinga saya.  Saya tertawa. Sebenarnya saya juga membawa Power Bank di tas saya, tapi Power Bank itupun sedang tidak ada nyawanya juga.  Belum sempat saya charge. Saat saya kasih tahu kenyataan itu, teman saya tertawa terbahak-bahak. “Walah!! Parah bener ibu ini “ katanya tidak bisa menahan geli. “Saya baru tahu ada Power Bank yang tidak punya power” Saya hanya bisa ikut tertawa dengan getir. Sebenarnya ini bukan komentar pertama yang saya terima tentang kemalasan saya men’charge’ batere gadget saya.  Tapi kali ini saya jadi berpikir.

Power Bank, seperti kita tahu adalah salah satu piranti yang banyak tersedia di pasar untuk menyimpan cadangan batere/power buat gadget kita yang kehabisan batere ditengah jalan, sementara kita tidak bisa menemukan sumber listrik biasa yang kita butuhkan untuk melakukan ‘power charge’. Kekuatannya tentu bervariasi. Ada yang menyimpan power cadangan untuk 2x,  3 x , 4x charge dan sebagainya. Tergantung jenisnya. Dan tentunya tergantung harganya juga. Lumayan juga sih. Sangat berguna saat kita bepergian dan membutuhkan power. Agar Power Bank ini bisa melakukan tugasnya dengan baik, tentu ia sendiri harus memiliki power yang ia simpan dan bisa ditransfer ke gadget yang lain. Oleh karenanyalah ia perlu dicharge terlebih dahulu. Idealnya, setelah powernya penuh, barulah kita bawa bepergian.

 Nah, jika Power Bank kita tidak punya power, tentu saja ia tidak bisa menjadi sumber power bagi gadget yang lain.  Ia tidak melakukan fungsi yang sharusnya ia lakukan. Itu tentu mirip dengan seorang Guru yang tidak punya ilmu untuk diajarkan kepada muridnya. Atau mirip Manager yang tidak mampu mengelola pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Atau mirip Dokter yang tidak bisa mengobati pasien yang membutuhkan pertolongannya. Atau Arsitek yang tak mampu merancang bangunan yang indah. Atau Ibu yang tidak memiliki kasih sayang untuk anaknya. Atau Seniman yang kehilangan kreativitasnya. Atau Kekasih yang tak mampu mencintai. Dan sebagainya. Tidak mampu memberikan apa yang masyarakat umum harapkan padanya.

Saya melihat ke arah Power Bank milik teman saya yang sedang bekerja. Lampu signalnya berkelap kelip menunjukkan % power yang dimiliknya. 90%!. Entah kenapa, saya jadi merenungkan diri saya.

Mungkin hidup saya, sebagiannya adalah serupa dengan gadget penerima power dari Power Bank. Namun sebagian darinya ada juga  yang serupa seperti Power Bank. Dimana saya harus memberikan apa yang saya miliki kepada orang lain.  Namun entah berapa % power yang tersisa di dalam diri saya, yang bisa saya berikan kepada yang membutuhkan. Bagaimana jika saya ternyata sudah  tidak memiliki apa-apa yang dibutuhkan orang lain lagi? Ooh!

Rasanya saya harus cepat-cepat me“re-charge’nya kembali. Sebelum semuanya padam dan menjadi tidak berguna.

Catatan Dari Bandara Ke Bandara: TKI Oh TKI…

Standard

Setelah menempuh penerbangan selama dua jam  dari Kuala Lumpur, sampailah saya di  Jakarta. Pesawat merapat ke terminal. Saya berkemas turun dan berdiri di alley pesawat. “Adik ke Jakarta, kan?” tanya seorang Ibu di belakang saya..”Ya, Bu. Saya ke Jakarta.  Ibu juga dari Kuala Lumpur?”. Jawab saya. Ibu itu mengiyakan. “Dik, nanti saya tolong dikasih tahu caranya  ya. Saya bingung caranya pulang. Belum pernah sebelumnya”.  Ia mau ke Pamulang, tapi saudaranya yang awalnya mau jemput ternyata memberi kabar tidak bisa menjemput.  Ok. Saya lalu menawarkan, bahwa Ibu itu boleh ikut saya sampai di Cileduk atau Bintaro. Dari sana bisa mengambil taxi sendiri ke Pamulang. Sudah dekat dan lumayan bisa irit ongkos.

Lalu ia bercerita banyak. Bahwa ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Majikannya cukup baik. Namun menurutnya pekerjaannya sangat melelahkan. Ia jarang sekali mendapat istirahat.  Kerja terus dari pagi sampai larut malam. Istirahat sebentar. Subuh harus bangun lagi utuk  bekerja. Mulai mengurus anak,  membersihkan dan merapikan rumah, mencuci gosok, memasak di dapur dan sebagainya. Semua ia kerjakan sendiri. Tidak ada pembantu lain. Ooh! Kasihan sekali. Berat juga ya?

“Tapi, dik.  Agent saya jahat sekali” Katanya mengeluh kepada saya. “Saya dipindahkan terus dari  satu agent ke agent yang lain. Dijanjikan pulang setelah dua tahun. Tapi sampai lima tahun saya ditahan terus. Dan inipun setelah saya  nekat mau melapor, barulah saya diperbolehkan pulang.” katanya. Perasaan saya tidak enak mendengarkan itu. Bagaimana bisa seorang manusia ditransaksikan sedemikian rupa dari satu agent ke agent yang lain dan dicabut haknya untuk pulang dan bertemu keluarganya begitu saja.

Kami melewati gerbang imigrasi. Saya lihat pasport ibu itu warnanya hijau muda, sedikit berbeda dengan warna kulit pasport saya.  Saya tidak tahu,apakah  itu cuma variasi warna hijau saja  atau memang semua pasport TKI warnanya hijau muda ? Petugas itu bertanya “Lho? Ibu belum pernah pulang dalam 5 tahun terakhir ini ya?” yang dijawab oleh ibu itu ”Ya Pak. Soalnya agent saya menahan saya terus” Petugas itupun bertanya lagi “ Oh, jadi ibu bekerja di sana?”  “ Iya, Pak” Petugas lalu memberikan  passport ibu itu kembali.

Saya mengajak ibu itu  ke rest room, lalu  menemani saya mengambil bagasi terlebih dahulu. Ia bercerita bahwa ia terpaksa menjadi TKI, karena mantan suaminya (almarhum) penjudi dan meninggalkan sisa utang sebesar 10 juta rupiah  yang harus ia bayar.  Jika tidak, maka rumah satu-satunya yang mereka miliki akan disita. “Kalau tidak begitu, bagaimana nasib kedua anak saya dan ibu mertua saya? Tidak bisa  makan. Tidak punya tempat tinggal. Saya kangen sekali anak saya. Sudah  lima tahun saya ditahan terus di Malaysia. Tidak diperbolehkan ke Indonesia.” Katanya dengan airmata mengambang. Saya jadi ikut terbawa oleh kesedihannya. Saya melihat kemuliaan hati seorang ibu di hadapan saya. Pengorbanan demi anak-anaknya. Betapa menyedihkannya.

Ia juga menyebutkan kepada saya, mengenai besaran penghasilannya dalam ringgit. Ketika saya kurs 1 ringgit = Rp 3 000,- saya agak terkejut. Ternyata hanya sekitar 25% lebih tinggi dari rata-rata gaji pembantu di Jakarta.  Sebenarnya banyak juga rumah tangga yang membayar lebih tinggi atau sama dengan itu. Pekerjaannya pun lebih santai dan tidak capek, karena banyak yang membayar 2 atau 3 orang pembantu rumah tangga sekaligus.  Bervariasi sih. Dan sayang, ibu itu ternyata tidak tahu berapa kurs ringgit. Sehingga tidak tahu, berapa jumlah gajinya dalam rupiah. Weleh! Pahit bener!. Dan lebih pahit lagi mendengarnya,  ternyata ibu itu pulang tanpa membawa uang. Uangnya masih disimpan majikannya. Katanya nanti akan ditransfer. Ya..ampuuun!.

Menjelang pintu keluar, dua orang petugas menghampiri kami.  Seorang wanita muda yang sangat cantik dalam pakaian dinasnya ditemani oleh seorang pria.  Ia minta agar ibu itu menunjukkan pasportnya.  Saya menghentikan langkah saya. Petugas mempersilakan saya keluar. Saya tidak bergerak, karena saya sudah berjanji kepada ibu itu untuk menolongnya pulang.  Wanita cantik itu berkata, bahwa ibu itu seharusnya melewati jalur khusus TKI.  Ooh, OK. Saya tidak ngeh sebelumnya. Salah ya?

Lalu saya bertanya, proses apa yang harus dijalani oleh ibu itu dan berapa lama?  Saya akan menunggunya sampai selesai. Wanita itu menolak menjelaskan kepada saya prosesnya dan menyuruh saya meninggalkan saja ibu itu, karena nanti akan ada yang mengantarkannya pulang. Ibu itu merengek, minta tolong  jangan ditahan. Ia ingin dilepaskan karena  ingin ikut saya, cepat pulang dan cepat bertemu anaknya. Tapi petugas tetap menyuruhnya  lewat jalur itu.  Karena begitu peraturannya. Oke, kalau begitu aturannya, saya membujuk ibu itu untuk mengikuti prosedur yang benar. Sebagai warga negara yang baik, sebaiknya kita mentaati aturan dengan baik.

Ibu itu merengek lagi, “Ibu ini saudara saya. Saya ingin ikut dengannya”  katanya menunjuk saya.  Saya pikir ibu itu sekarang mulai ngacau untuk menyelamatkan dirinya. Saya tidak mau dilibatkan dalam sebuah kebohongan.  Akhirnya saya jelaskan apa adanya kepada petugas “ Saya bukan saudaranya. Saya hanya penumpang biasa yang kebetulan bertemu dengannya di pesawat. Merasa kasihan dan bersedia membantunya. Saya akan menunggu di luar. Silakan di proses”.

Saya tidak mau melakukan sebuah pelanggaran apapun. Saya hanya mau menolong orang yang kesusahan.  Tapi tidak mau menolong orang melakukan pelanggaran hukum.  Saya lalu bertanya kepada petugas, apa yang akan dilakukan oleh petugas terhadap ibu itu? Petugas tidak mau menjelaskan kepada saya. “Nanti  ibu akan tahu di sana saja” kata wanita cantik itu kepada ibu TKI itu tanpa menjawab kepada saya. Aneh juga!. Berala lama? Sejam? Dua jam? Sehari? Dua hari? Seminggu?  Aneh!. Petugas tetap menyuruh saya pulang saja dan jangan menunggu. Meyakinkan saya,bahwa ibu itu pasti akan diantarkan pulang.

Karena saya tahu ibu itu tidak membawa uang, lalu saya bertanya lagi kepada petugas, apakah Ibu itu nantinya perlu melakukan suatu pembayaran kepada petugas? Ibu itu  mengatakan bahwa ia  tidak punya uang jika harus membayar sesuatu kepada petugas. Mendadak saya lihat wajah wanita cantik itu berubah ketus dan suaranya kedengeran seperti membentak di telinga saya “ Nah itulah masalahnya, kenapa ibu tidak mebawa uang? Sudah berapa lama ibu bekerja ?” .  Ibu itu menjawab setengah menangis” Lima tahun”. Wanita itu bertanya lagi.  ” Mengapa lima tahun bekerja , tidak membawa uang?”. Gila!! Aneh banget sih menurut saya pertanyaannya.  Apa memang  harus begitu ya?  Saya bingung deh melihat pemandangan itu.

Ini baru pertamakalinya saya melihat adegan seperti ini. Saya melihat ke wajah ibu itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sinar matanya penuh permintaan pertolongan kepada saya. Namun saya tidak bisa menolongnya. Karena saya juga tidak mengerti bagaimana aturan kepulangan TKI di negara kita.  Dan saya pikir, sebaiknya setiap warga negara harus  mengikuti peraturan yang berlaku. Saya urungkan niat saya untuk memberinya uang ala kadarnya untuk sekedar bekal. Karena saya takut nanti malah mempersulit keadaannya. Tapi saya merobek secarik kertas dan meninggalkan nomor telpon saya, seandainya ia masih ingin berteman dengan saya suatu saat nanti. Lalu saya mengucapkan selamat tinggal dan berdoa semoga semuanya berjalan baik-baik saja. Semoga negara memelihara dan melindunginya dengan baik.

Sayapun keluar.  Masih sempat saya mendengar suara petugas itu yang memerintahkan ibu itu untuk berjalan lurus terus sampai ke gerbang di mana ada tulisan “ Selamat Datang Pahlawan Devisa”. Saya mendengarnya dengan getir. Mengapa pahlawan devisa diketusin ya?  Hati saya rasanya seperti teriris. Pilu.

Di perjalanan pulang, tatapan mata ibu itu terbayang terus di mata saya.  Saya baru saja menyaksikan sepenggal drama  kehidupan seorang Ibu yang berusaha membantu memecahkan kesulitan keluarganya dengan segala kepahitan dan kegetiran yang harus dijalaninya.  Seorang wanita yang mulia.

Tak terasa air mata saya meleleh …

Catatan Dari Bandara Ke Bandara: Kuala Lumpur.

Standard

Hari ini saya  berniat balik kembali ke Jakarta, setelah  setelah menghabiskan beberapa waktu di Selangor. Tukang taxi yang mengantarkan saya ke bandara di Kuala Lumpur menyebutkan ongkos yang harus saya bayar. 65 ringgit. Lalu ia bertanya, apakah saya membutuhkan bon. Ya, saya bilang saya membutuhkannya untuk saya claim ke kantor. Berikutnya ia bertanya lagi, apakah saya ingin menuliskannya sendiri atau ia yang akan menuliskannya? Sejenak saya mengernyitkan alis saya. Maksudnya apa ya? Tentu saja ia yang harus menuliskannya. Kan ia yang menerima duitnya?

Belakangan saya mengerti bahwa,  ternyata ia memberi saya kesempatan, jika saya ingin berbuat curang menulis angka sendiri sesuka saya di bon, sehingga saya bisa claim lebih ke kantor. Ia memberi isyarat bahwa banyak orang yang berbuat seperti itu. Oops!. Parah juga rupanya!. Tidak habis pikir rasanya, mengapa kecurangan sejenis ini disupport ya?.Tapi saya tidak ingin berpikir lama-lama. Biarlah itu urusan orang lain. Saya memilih jalan hidup saya sendiri. Simple saja. Bayar apa adanya. Dan claim apa adanya. Hidup kita akan jauh lebih mudah jika menghindarkan diri dari praktek kecurangan. Live life in simplicity. Ga usah neko-neko!

 Setelah membayar taxi dan mengucapkan terimakasih kepada pengemudinya, sayapun bergegas ke counter check in. Agak lumayan, karena saya menumpang penerbangan Malaysia, jadi saya tidak perlu berlari-lari mengejar sky train untuk pergi ke terminal udara yang lain.  Jadi saya masih sempat membasuh muka saya, merapikan diri lalu berjalan santai sambil melihat-lihat. Memotret sebuah accessories interior di langit-langit bandara yang terlihat artistik. Baling-baling dengan design mirip papan selancar. Lalu mampir ke Duty Free untuk membelikan anak saya coklat.

Di dekat ruang tunggu,  tanpa sengaja saya melihat seorang teman saya yang berkebangsaan India  sedang menggeret kopernya. Setahu saya ia berangkat sebelum makan siang. Oh,mengapa ia masih berada di bandara sesore ini? Rupanya banyak hal yang melelahkan dan membuat bete telah terjadi, yang menyebabkan penerbangannya mundur ke sore. Ia pun menceritakan uneg-unegnya ke saya. Saya mendengarkannya dan berharap ia lega setelah berhasil bercurhat ria kepada saya.  Seusainya, saya kemudian memeluk dan mencium pipinya, sambil mendokan keselamatan baginya dalam perjalanannya.Semoga ia mendapatkan hari yang menyenangkan bersama keluarganya sesampai di rumah.

Persis di depan ruang tunggu, saya diberi informasi bahwa saya belum boleh masuk. Karena pesawat yang akan saya tumpangi belum datang. Celangak celinguk sendirian,akhirnya saya mencari tempat duduk.  Seorang gadis berambut panjang  duduk sendiri bersama ransel dan tasnya tersenyum kepada saya. Saya merasa senang.Setidaknya ada orang yang memberikan senyum sebelum saya sempat tersenyum terlebih dahulu.

“Hai!” Kata saya. Dari wajahnya, saya menebak ia orang Indonesia. “Silakan duduk, Bu” ajaknya mempersilakan saya duduk di sebelahnya. “Ibu mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab bahwa saya akan ke Jakarta.Ia bilang bahwa ia akan ke Maldives dan tinggal di situ setahun teakhir ini. Sayapun memanfaatkan kesempatan untuk  bertanya-tanya sedikit tentang Maldives. Mana daerah yang enak dikunjungi, yang murah  meriah tanpa harus bermain air. “Nggak ada. Semuanya mahal.Semuanya air” katanya tertawa. Setelah mengobrol beberapa lama ia bertanya, dari mana saya berasal di Indonesia. Saya bilang dari Bali. Dengan cepat ia mengatakan bahwa ia juga berasal dari Bali. Oh! Di mananya di Bali? Saya bilang di Bangli. Di Kintamani. Dia tampak terkejut. “Lho, saya juga dari Kintamani” katanya. Giliran saya yang terkejut. Kintamani mana? Dia menyebutkan sebuah desa. Oh! Tentu saja saya tahu desa itu. Saya lalu mengatakan bahwa saya juga punya keluarga di desa itu. Lagi-lagi dia terkejut. Akhirnya usut punya usut, ternyata masih berkerabat dengan kerabat saya juga. Ah, dunia memang benar-benar selebar daun kelor.

Kami berpisah, karena gerbang ruang tunggu saya sudah dibuka.  Saya melambaikan tangan saya dan memintanya agar hati-hati di jalan dan menjaga dirinya dengan baik di negeri orang.

Namun penerbangan rupanya ditunda akibat cuaca buruk. Dengan memanfaatkan wifi gratisan di bandara, akhirnya saya membunuh waktu dengan berkomunikasi dengan orang-orang yang saya cintai di tanah air. Betapa saya merindukan mereka. Saya memandang ke luar jendela kaca bandara. Hujan turun masih deras dan langitpun gelap berkabut. Sepi dan kesendirian mendera. Alangkah tidak enaknya bepergian sendiri.

Oh, tapi layakkah saya mengeluh? Karena tuntutan pekerjaan, saya melakukan cukup sering perjalanan dari satu bandara ke bandara yang lain. Namun tentu saja perjalanan saya tidak seberapa sering dibandingkan orang-orang yang karena tuntutan pekerjaan harus selalu berada di atas kapal dan jauh dari keluarga serta orang-orang yang dicintainya? Bagaimana dengan para pilot, para pramugari, para pelaut atau bahkan mereka yang bekerja sebagi tenaga kerja di negara asing?

“…cause  I’m leavin’ on  a jet plane, don’t know when I’ll be back again. Oh babe, I hate to go…” suara lembutnya Chantal Kreviazuk terngiang di telinga saya. Nah, lagu itu lebih menyedihkan lagi. Masih untung saya tidak mengalaminya.

 Setidaknya  masalah saya masih jauh lebih ringan. Dan saya masih memiliki orang yang mencintai saya dan mendoakan keselamatan saya diperjalanan. Sekarang, saya tahu maknanya bersyukur…

Bandar Lampung: Ragam Motif Sulam Benang Emas Pada Kain Tapis.

Standard

Tidak ada hal  yang lebih menyenangkan bagi saya dari melihat-lihat kerajinan dan benda-benda seni di berbagai wilayah tanah air. Bagi saya, benda-benda seni itu selalu berbicara mengenai alam pikir dan imajinasi para seniman di masa lalu yang diwariskan secara turun temurun.  Demikian juga ketika mengunjungi Lampung. Saya ingin sekali dapat kesempatan untuk melihat motif-motif ukiran maupun tenunan yang diaplikasikan pada benda-benda adat Lampung. Namun apa daya, waktu kunjungan saya sungguh sangat pendek. Dan tentunya karena ini adalah kunjungan kerja, waktu yang sempit itu juga memang semata dihabiskan untuk mengurus pekerjaan.

Namun memang seperti kata pepatah, “Di mana ada niat di sana ada jalan”, akhirnya saya berhasil juga mengintip sedikit motif-motif sulaman benang emas yang diaplikasikan pada kain tapis.  Kain Tapis Lampung, sebagaimana halnya kain-kain tenunan tangan di wilayah lain di Indonesia, di dominasi oleh warna-warna gelap yang dulunya dibuat dari bahan pewarna alam seperti kulit pohon salam, buah pinang, kulit kayu mahoni,kunyit dan sebagainya. Yang menarik tentunya adalah ragam hias aplikasi benang emas yang dilakukan dengan teknik sulam atau cucuk.

Secara umum,ragam hias ini banyak menggunakan pengulangan motif, yang menyebabkan kain ini jadi kelihatan sangat rapi dan teratur. Motif yang paling umum adalah motif garis zigzag  yang banyak digunakan sebagai border dari kotif utamanya. Motif utama di tengah,ada yang menggunakan motif  serupa stitch penuh, ada juga yang menggunakan motif kait dan kunci dan sebagainya. Terkadang motif yang sama, jika diaplikasikan pada kain tapis dengan warna dasar yang berbeda, misalnya merah,hitam atau biru,  akan memberi kesan motif yang sangat beragam.

Memandang design kain ini, saya merasa sangat senang dan bangga akan kekayaan tanah air kita.  Akan keindahan dan keragamannya. Sayang, saya belum bertemu dengan seseorang yang bisa menceritakan kepada saya lebih detail mengenai motif motif pada kain Tapis Lampung ini. Nama motif dan filosofi di baliknya.

Bandar Lampung : Bukit Kunyit Yang Putih Berkilau.

Standard

Bagi siapa saja yang pertama kalinya menginjakkan kaki di Bandar Lampung, tentu akan terperangah melihat pemandangan tidak biasa sebuah bukit di daerah Teluk Betung yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Bukit Kunyit. Bukit batu kapur itu tampak berbeda dari bukit-bukit yang lainnya karena bentuk dan tampilannya. Dari kejauhan, sebagian punggung bukit itu tampak tergerus memperlihatkan isi perutnya yang putih bersih berkilau. Terang ditimpa cahaya matahari pagi. Sangat indah dengan latar belakang bukit-bukit lain yang tampak hijau abu-abu di kejauhan,laut biru dan langit biru yang cerah.  Memandangnya membuat kita serasa sedang berada di negara antah berantah yang memiliki pemandangan bukit-bukit putih karena salju. Tapi pemandangan ini kita lihat nyata di Indonesia. Di Lampung.Karena keindahan dan keunikannya, sayapun mengambil foto bukit ini berkali-kali. Memandangnya dan mengagumi keindahan komposisi warnanya.

Ketika kebetulan lewat di dekatnya, saya pun mengambil gambar bukit itu kembali. Kali ini dari dekat dengan menggunakan lensa normal. Dari dekat, detail bukit ini tampak lebih jelas. Warnanya tidak lagi terlihat putih bersih, namun bercampur coklat kekuningan. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak gersang, kering kerontang dan bahkan sebagian mati. Batu-batu hasil penambangan liar tampak bergelimpangan di sana-sini. Jika dilihat dari jarak dekat seperti ini, sekarang tidak ada lagi keindahan yang tersisa.  Kemarau panjang yang memanggang dan penggalian telah merusak bukit yang konon dulunya sangat luas ini.

Menurut teman saya yang memang lahir dan besar di Lampung, pengikisan bukit itu sudah dilakukan sejak lama sekali. Bahkan semenjak ia kecil.  Menurut iformasi lain, dulunya bukit ini sangat luas. Saking luasnya bahkan hingga menjorok ke pantai.  Karena lokasi dan ketinggiannya, bukit ini dulunya berfungsi sebagai benteng alam yang melindungi Bandar Lampung dari tsunami besar saat Gunung Krakatau meledak tahun 1883 ini.  Sekarang paling tinggal hanya sekitar 30%nya saja. Oh, sayang sekali ya.  Saya merasa sangat sedih mengetahui cerita itu. Semoga ada pihak yang perhatian dan mengambil tindakan penyelamatan lingkungan ini tanpa mengabaikan masalah sosial yang ada.

Tadinya apa yang kita lihat indah rupawan dari kejauhan, ternyata menyimpan cerita yang menyedihkan ketika kita tahu lebih dekat. Jadi teringat akan sebuah sesonggan (peribahasa) Bali yang mengatakan “Buka bukite, johin katon rawit” .   Terjemahannya ‘ Ibaratnya bukit, dari kejauhan tampak indah’.  Semua bukit selalu tampak indah dan rapi dari jauh. Namun, ketika kita dekati,  bukit yang terlihat indah itu ternyata memiliki jurang yang dalam, dinding yang terjal, semak belukar yang berduri, permukaan yang bopeng dan sebagainya yang tak tampak ketika kita melihatnya dari kejauhan.

Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang kita pikir mudah, ternyata ketika kita pahami dan kerjakan dengan detail ternyata tidak semudah apa yang kita pikir sebelumnya. Demikian juga apa yang kita pikir sebagai sebuah kehidupan yang enak. Belum tentu seenak apa yang kita bayangkan. Kita menyangka kehidupan teman kita A itu sungguh sangat enak, namun begiti kita mengetahuinya lebih lanjut ternyata barangkali lebih tidak enak daripada kehidupan yang kita jalani.

Serupa dengan Bukit Kunyit yang tampak indah putih berkilau  dari kejauhan ini. Setelah kita dekati, ternyata menyimpan berbagai pemandangan dan cerita yang memprihatinkan juga.

 

Lunas Dalam Keikhlasan.

Standard


Pernahkan punya pengalaman meminjamkan sesuatu kepada orang lain namun tidak dikembalikan?  Lalu bagaimana reaksi kita?  Marah, kesal, sedih,atau barangkali malah mengikhlaskannya saja?  Apapun pilihan sikap kita, sebenarnya syah-syah saja.  Namun bagaimana rasanya jika kita yang berada di posisi sebagai orang yang berutang?

Saya pernah  mengalami sebuah kejadian,  yang membuat saya yakin, bahwa kebanyakan orang  sebenarnya tidak ingin berutang. Tidak ingin ngemplang.  Tidak benar-benar melupakan utangnya. Apalagi  melupakan jasa orang yang memberikannya piutang.  Saya melakukan perenungan terhadap peristiwa nyata yang saya alami ini, tanpa bermaksud menggurui ataupun menyombongkan kedermawanan saya.  Saya menuliskannya, karena peristiwa ini penting dalam hidup saya. Membuka pemahaman saya akan betapa pentingnya kita melakukan segala sesuatu dengan ketulusan dan keikhlasan hati. Dan tidak selalu berprasangka buruk terhadap orang yang berhutang. Read the rest of this entry

“W” For Worm – Lost In Translation.

Standard

Suatu kali seorang teman datang berkunjung untuk pertama kalinya ke Indonesia. Saya dan teman-teman saya mengajaknya makan siang di sebuah restaurant yang saya pikir cukup representatif namun lokasinya agak jauh dari kantor.  Teman saya itu terlihat agak pendiam dan kurang menikmati makanannya. Saya pikir barangkali karena baru pertamakalinya datang ke Indonesia dan belum terlalu kenal dekat dengan kami. Atau barangkali belum familiar dengan masakan Indonesia. Atau barangkali saja memang orangnya pendiam seperti itu. Yah..wajar saja. Saat itu saya tidak terlalu memikirkannya. Read the rest of this entry