“W” For Worm – Lost In Translation.

Standard

Suatu kali seorang teman datang berkunjung untuk pertama kalinya ke Indonesia. Saya dan teman-teman saya mengajaknya makan siang di sebuah restaurant yang saya pikir cukup representatif namun lokasinya agak jauh dari kantor.  Teman saya itu terlihat agak pendiam dan kurang menikmati makanannya. Saya pikir barangkali karena baru pertamakalinya datang ke Indonesia dan belum terlalu kenal dekat dengan kami. Atau barangkali belum familiar dengan masakan Indonesia. Atau barangkali saja memang orangnya pendiam seperti itu. Yah..wajar saja. Saat itu saya tidak terlalu memikirkannya.

Kali ke dua ia datang berkunjung lagi ke Indonesia. Karena terbatasnya waktu, kami lalu mengajaknya makan di restaurant lebih kecil yang  dekat kantor saja. Ia terlihat riang dan kelihatan menikmati makanan yang disuguhkan. Banyak menanyakan tentang jenis masakan yang kami order dan bahan bakunya. Ia memuji bahwa masakannya enak. Sayapun ikut senang.

Pada akhir jamuan ia bertanya kepada saya tentang nama restaurant tempat kami makan saat kunjungan pertamanya. Sayapun menyebut nama restaurant itu dan bertanya kenapa?  Ia bilang bahwa ia melihat code “W“di salah satu masakan dalam menu list di restaurant itu dan bertanya mengenai artinya. Kebetulan masakan bercode “W” itulah yang diorder oleh teman saya. Saya mencoba mengingat ingat.Terus terang saya tidak ngeh kalau restaurant itu ada menggunakan code “W” dalam salah satu masakan di menu listnya. Dan saya juga tidak tahu persis apa maksud code “W” itu.

Lalu teman saya bercerita bahwa  karena penasaran  ia sudah sempat menanyakan arti code “W”itu ke pramusaji restaurant. Dan diberi keterangan bahwa “W” itu artinya “Worm (cacing)”. Hah?????!!!.  Saya terkejut. Nggak mungkinlah!.Rasanya nggak masuk akal saya. Mana mungkin ada masakan berbahan baku cacing di restaurant di Indonesia?.  Walaupun jujurnya banyak juga restaurant Indonesia  yang bukan menyajikan masakan asli Indonesia.  Tapi tetap saja tidak akan menyajikan makanan berbahan baku cacing?  Tentu tidak ada yang mau membeli.

Tapi teman saya yakin, karena  dia  telah mengkonfirmasi kembali kepada pramusaji itu “with worm?” dan mendapatkan jawaban dari  sang pramusaji  bahwa itu memang “worm”.  Saat itu saya duduk agak jauh dengan teman saya itu dan  tidak mendengar bagaimana persisnya  percakapannya dengan sang pramusaji restaurant. Hal kedua yang membuatnya yakin bahwa masakan itu mengandung cacing adalah karena ketika ia menawarkan kepada dua orang teman saya yang lain (orang Indonesia)  yang duduk di kiri kanannya untuk ikut mencicipi masakan bercode “W” yang kepalang diordernya itu, tidak ada seorangpun yang mau. Saya jadi ikut mengerenyitkan kening saya. Begidik juga kalau begitu.

Bahan masakan yang umum di Indonesia adalah ayam, sapi, ikan,udang, cumi, kerang, kepiting. Lebih jauh mungkin ada kambing, babi, kelinci, belut. Di satu dua tempat di daerah Indonesia, saya pernah mendengar ada masakan daging anjing, kodok, penyu, ular, kelelawar, sejenis tikus. Dan tentunya tidak semua orang memakan masakan jenis itu. Tapi cacing? Rasanya saya belum pernah mendengar. Atau barangkali ada yang disebut cacing wawo ? Saya tidak tahu. Dan tidak yakin restaurant yang saya kunjungi itu menyajikan cacing.

Saya mencoba mengingat-ingat. Jika kita perhatikan, di restaurant tertentu memang kita  kadang melihat kode  tertentu diletakkan  dalam  beberapa jenis masakan di dalam menu list.  Misalnya ada yang menggunakan code gambar ”satu cabe/ dua cabe/ tiga cabe”  untuk mengkomunikasikan  tingkat kepedasan masakan itu  mulai dari “kurang pedas/ agak pedas /sangat pedas”.  Ada juga yang menggunakan gambar “bintang” untuk menandakan  “masakan istimewa” dari restaurant itu, atau “favorit sang Chief”. Ada lagi yang menggunakan huruf “S” untuk mengatakan bahwa masakan itu adalah “Specialty” dari restaurant itu. Ada juga yang meletakkan huruf “F” untuk menandakan bahwa jika mengorder menu itu, kita tak perlu membayar alias gratisan atau “Free”.   Nah ada lagi yang menggunakan huruf “H” untuk “penyajian panas” dan “C” untuk “penyajian dingin”  dan sebagainya.

Eiits! Tunggu sebentar! Jangan –jangan maksud dari “W” itu adalah “Warm (hangat)”. Bukan “Worm (cacing)”. Mungkin cara pramusaji itu mengucapkan kata “Warm” itu terdengar mirip “Worm”. Ya..maklumlah, kita kan bukan pengguna bahasa Inggris aktif. Bahasa Indonesia adalah bahasa kita sehari-hari. Walaupun memang tak bisa dihindarkan kosa kata asing dan daerah juga masuk bercampur aduk jadi satu. Syukur-syukur pelayan itu masih bisa mengucapkannya dalam bahasa Inggris dengan mirip. Ha ha ha!  Ada-ada saja. Sekarang saya mengerti. Pantesan saja teman saya itu sangat pendiam saat kunjungan pertamanya. Syukurnya sekarang semuanya sudah clear. Dan ia bisa menikmati Indonesia dengan baik.

Wah, lain kali saya perlu sedikit lebih perduli. Jangan sampai kejadian sama terulang lagi. Dimana seseorang merasa kurang dijamu dengan baik dan saat pulang kembali ke negaranya membawa kesan yang kurang nyaman tentang Indonesia hanya gara-gara kesalah pahaman bahasa seperti itu. Lost in translation!.

21 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s