Lunas Dalam Keikhlasan.

Standard


Pernahkan punya pengalaman meminjamkan sesuatu kepada orang lain namun tidak dikembalikan?  Lalu bagaimana reaksi kita?  Marah, kesal, sedih,atau barangkali malah mengikhlaskannya saja?  Apapun pilihan sikap kita, sebenarnya syah-syah saja.  Namun bagaimana rasanya jika kita yang berada di posisi sebagai orang yang berutang?

Saya pernah  mengalami sebuah kejadian,  yang membuat saya yakin, bahwa kebanyakan orang  sebenarnya tidak ingin berutang. Tidak ingin ngemplang.  Tidak benar-benar melupakan utangnya. Apalagi  melupakan jasa orang yang memberikannya piutang.  Saya melakukan perenungan terhadap peristiwa nyata yang saya alami ini, tanpa bermaksud menggurui ataupun menyombongkan kedermawanan saya.  Saya menuliskannya, karena peristiwa ini penting dalam hidup saya. Membuka pemahaman saya akan betapa pentingnya kita melakukan segala sesuatu dengan ketulusan dan keikhlasan hati. Dan tidak selalu berprasangka buruk terhadap orang yang berhutang.

Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu.  Seorang wanita menelpon saya. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Ratna  istri dari  almarhum Imam (keduanya bukan nama asli). Ia bercerita, bahwa ia diminta almarhum untuk mencari saya guna melunasi hutang-hutangnya kepada saya. Saya terkejut. Karena saya tidak ingat pernah punya teman bernama Imam. Barulah setelah Ratna mengingatkan bahwa beberapa belas tahun yang lalu saya pernah bekerja di perusahaan X bersama almarhum Imam, akhirnya saya mulai ingat sedikit demi sedikit kejadiannya.

Saat itu Imam adalah seorang Sales Supervisor. Karena  kinerjanya dianggap kurang memuaskan, Imam dipersilakan mengundurkan diri oleh Managernya. Ia kehilangan pekerjaan. Padahal punya istri dan bayi  yang harus ditanggungnya. Hal itu menimbulkan iba dan beragam reaksi dari rekan-rekan kerja di kantor. Imam bercerita kepada saya, sementara ia akan membantu di toko Mebel pamannya di Kemang. Siapa tahu suatu hari ia punya modal, ia bercita-cita ingin membuka toko interior sendiri dan meminta tolong agar saya mensupportnya. Karena merasa iba dan terkesan akan semangatnya yang tinggi, maka untuk memulai, saya setuju membantunya mensuplay pernak-pernik interior  serta ukiran kayu dari Bali dengan system titip jual alias konsinyasi. Sayapun menyerahkan berbagai jenis patung dan ukiran kayu pemanis interior. Lengkap dengan jumlah dan harganya masing-masing. Ada bebek, berbagai model kucing, bunga, buah-buahan, topeng, ashbak, dan sebagainya. Semuanya terbuat dari kayu. Kami menyepakati keuntungan yang akan ia dapatkan jika barang-barang itu terjual.

Sebulan berlalu, kelihatannya hanya satu-dua  yang  terjual. Saya memberinya advise bagaimana cara memajang dan menawarkan barang-barang itu. Bulan berikutnya saya kunjungi lagi. Mulai lebih banyak yang laku. Imam belum mampu membayarnya kepada saya, karena ia masih membutuhkan uang itu untuk menghidupi keluarganya. Saya tidak mempermasalahkannya.

Enam bulannya kemudian, saya menengok Imam lagi di Kemang. Kelihatannya sebagian besar barang-barang saya itu sudah laku. Namun kembali lagi Imam meminta maaf kepada saya, bahwa uangnya masih ia pergunakan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Dan ia berjanji akan membayarnya kepada saya suatu hari nanti.

Sebenarnya ia perlu sedikit lebih professional dengan menyisihkan dan memutarnya sebagian untuk modal, agar keberlangsungan bisnisnya terjaga. Tapi saya mengerti keadaannya, barangkali hidupnya memang masih benar-benar susah. Rasanya tidak tega untuk menagihnya. Bulan- bulan setelah itu saya sangat sibuk, sehingga tidak sempat lagi mampir  ke Kemang. Selain itu tidak enak juga mengunjunginya. Khawatir ia menyangka saya akan menagih hutang. Padahal saya tidak bermaksud begitu. Saya sudah ikhlas. Biarlah ia pergunakan untuk membeli susu buat anaknya saja. Tak dibayarpun tidak apa-apa.

Tak terasa belasan tahun telah lewat. Saya tidak pernah mendengar kabar dari Imam. Bahkan lokasi toko pamannyapun saya mulai lupa-lupa ingat. Sampai akhirnya Ratna menelpon saya. Awalnya saya bilang kepada Ratna, bahwa ia tidak perlu membayar utang itu. Tapi Ratna menjelaskan bahwa itu adalah amanat dari almarhum suaminya. Ia tidak berani membantah. Baiklah kalau begitu. Tapi masalahnya adalah, baik saya maupun Ratna tidak ingat berapa jumlahnya. Kejadiannya sudah sangat lama. Dan bahkan Imam pun lupa. Almarhum justru menyuruhnya untuk menanyakan kepada saya. Sementara catatan sayapun  sudah hilang.

Saya minta kembali agar Ratna melupakannya. Ratna tetap tidak mau. Saya jadi bingung, bagaimana cara memecahkan kasus ini. Saya mencoba berkonsultasi dengan orang yang saya pikir mengerti soal pelunasan utang piutang orang yang sudah meninggal. Saya diberi informasi,  bahwa sebelum kita meninggal, seharusnya kita melunasi utang-utang kita. Jika keburu meninggal, bisa dibantu penyelesaiannya oleh keluarga kita yang masih hidup. Jadi memang utang itu harus tetap dibayar dan tidak boleh dilupakan.

Ratna bercerita bahwa sekarang mereka memiliki perusahaan export mebel Jepara sendiri yang lancar dan sukses. Jadi  tidak ada alasan baginya untuk tidak membayar utang almarhum suaminya kepada saya. Terus terang saya bukan ingin mempersulit Ratna atau almarhum. Saya benar-benar tidak ingat nilai barang itu. Saya tagih terlalu banyak atau terlalu sedikit, pasti salah.

Setelah beberapa hari merenung, saya bertanya kembali kepada orang yang saya pikir mengerti akan urusan utang piutang ini.  Kapan seseorang dibebaskan dari kewajiban membayar utang? Jawabannya adalah jika orang tersebut tidak mempunyai utang. Lalu, apakah yang disebut dengan utang?  Adalah kewajiban seseorang untuk mengembalikan sejumlah tertentu kepada pihak yang memberikan pinjaman. Bagaimana jika yang memberikan pinjaman itu telah mengikhlaskannya? Apakah masih tetap dianggap utang? Jika telah diikhlaskan, maka  pinjaman sekarang berubah menjadi pemberian. Dan pemberian tidak perlu dikembalikan. Sekarang saya menemukan titik cerah.

Akhirnya saya katakan kepada Ratna, bahwa sesungguhnya Imam tidak berutang sepeserpun kepada saya lagi. Karena saat Imam masih berada dalam kesulitan, saya sudah mengikhlaskan hasil penjualan itu untuk dimanfaatkannya saja guna menghidupi keluarganya.  Bukan utang lagi.Saya bahkan tidak ingat tentang uang itu sama sekali, sampai Ratna menelpon.  Saya berdoa, semoga perjalanan Imam diberi kelancaran tanpa halangan apapun dan tidak tersandung karena masalah ini. Karena ia memang sudah tidak berutang lagi. Semuanya telah lunas dalam bentuk keikhlasan. Jadi, sebenarnya tidak ada yang perlu dibayar lagi. Akhirnya Ratna menerima kata-kata saya. Saya lega. Ketulusan dan keikhlasan hati telah berhasil memecahkan masalah saya dan Ratna.

Satu hal yang saya pelajari dari sini adalah, walaupun telah bertahun tahun, walaupun  kita telah lupa, ternyata orang yang berutang sebenarnya tidak melupakan utangnya kepada kita.


 

13 responses »

  1. Memang sebaiknya kita tidak melupakan utang-utang kita ya mbak. Meskipun aku sih sedapat mungkin tidak mau berhutang. Mungkin istilahnya pinjam meminjam. Kadang kan kita suka pinjam uang sekedarnya utk bayar taxi, lalu lupa. Makanya saya sering tanya teman yang sering pergi dgn saya, apakah saya ada utang atau tidak. Cuma satu kali saya pernah dikagetkan teman yang tiba-tiba berterimakasih krn saya ikut membantu dia (bersma teman2 lain) membiayai biaya dokter. Padahal itu sudah lama sekali dan bukan dari saya pribadi saja. Rupanya yg mengkoordinir memberitahukan nama dan besaran uang yg dikasih, sehingga dia tetap ingat😦

    • Idea yang bagus Mbak, sesekali bertanya kepada teman yg sering bepergian dg kita barangkali ada utang yg kita lupa tanpa sengaja. Mungkin saya bisa tiru idenya itu.

      Terharu juga ya rasanya jika melihat orang yang kita bantu ternyata berhasil keluar dari masalahnya dan malah masih ingat pada kita.

    • ha ha..ya iya..saya pikir memang ada yang pura-pura melupakannya, tapi mungkin hanya sedikit yang benar-benar dengan sengaja melakukannnya. Yang lainnya, saya rasa berusaha keras mengembalikannya. Terutama karena kebanyakan orang takut membawa mati hutang-hutangnya..

      • hehehe iya mbak, saya juga yakin kok klo orang berhutang itu pasti slalu ingat. Paling tidak ingat pada siapa dia berhutang, walau besarannya berapa mungkin lupa. Repotnya klo ketemu yang pura-pura lupa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s