Catatan Dari Bandara Ke Bandara: Kuala Lumpur.

Standard

Hari ini saya  berniat balik kembali ke Jakarta, setelah  setelah menghabiskan beberapa waktu di Selangor. Tukang taxi yang mengantarkan saya ke bandara di Kuala Lumpur menyebutkan ongkos yang harus saya bayar. 65 ringgit. Lalu ia bertanya, apakah saya membutuhkan bon. Ya, saya bilang saya membutuhkannya untuk saya claim ke kantor. Berikutnya ia bertanya lagi, apakah saya ingin menuliskannya sendiri atau ia yang akan menuliskannya? Sejenak saya mengernyitkan alis saya. Maksudnya apa ya? Tentu saja ia yang harus menuliskannya. Kan ia yang menerima duitnya?

Belakangan saya mengerti bahwa,  ternyata ia memberi saya kesempatan, jika saya ingin berbuat curang menulis angka sendiri sesuka saya di bon, sehingga saya bisa claim lebih ke kantor. Ia memberi isyarat bahwa banyak orang yang berbuat seperti itu. Oops!. Parah juga rupanya!. Tidak habis pikir rasanya, mengapa kecurangan sejenis ini disupport ya?.Tapi saya tidak ingin berpikir lama-lama. Biarlah itu urusan orang lain. Saya memilih jalan hidup saya sendiri. Simple saja. Bayar apa adanya. Dan claim apa adanya. Hidup kita akan jauh lebih mudah jika menghindarkan diri dari praktek kecurangan. Live life in simplicity. Ga usah neko-neko!

 Setelah membayar taxi dan mengucapkan terimakasih kepada pengemudinya, sayapun bergegas ke counter check in. Agak lumayan, karena saya menumpang penerbangan Malaysia, jadi saya tidak perlu berlari-lari mengejar sky train untuk pergi ke terminal udara yang lain.  Jadi saya masih sempat membasuh muka saya, merapikan diri lalu berjalan santai sambil melihat-lihat. Memotret sebuah accessories interior di langit-langit bandara yang terlihat artistik. Baling-baling dengan design mirip papan selancar. Lalu mampir ke Duty Free untuk membelikan anak saya coklat.

Di dekat ruang tunggu,  tanpa sengaja saya melihat seorang teman saya yang berkebangsaan India  sedang menggeret kopernya. Setahu saya ia berangkat sebelum makan siang. Oh,mengapa ia masih berada di bandara sesore ini? Rupanya banyak hal yang melelahkan dan membuat bete telah terjadi, yang menyebabkan penerbangannya mundur ke sore. Ia pun menceritakan uneg-unegnya ke saya. Saya mendengarkannya dan berharap ia lega setelah berhasil bercurhat ria kepada saya.  Seusainya, saya kemudian memeluk dan mencium pipinya, sambil mendokan keselamatan baginya dalam perjalanannya.Semoga ia mendapatkan hari yang menyenangkan bersama keluarganya sesampai di rumah.

Persis di depan ruang tunggu, saya diberi informasi bahwa saya belum boleh masuk. Karena pesawat yang akan saya tumpangi belum datang. Celangak celinguk sendirian,akhirnya saya mencari tempat duduk.  Seorang gadis berambut panjang  duduk sendiri bersama ransel dan tasnya tersenyum kepada saya. Saya merasa senang.Setidaknya ada orang yang memberikan senyum sebelum saya sempat tersenyum terlebih dahulu.

“Hai!” Kata saya. Dari wajahnya, saya menebak ia orang Indonesia. “Silakan duduk, Bu” ajaknya mempersilakan saya duduk di sebelahnya. “Ibu mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab bahwa saya akan ke Jakarta.Ia bilang bahwa ia akan ke Maldives dan tinggal di situ setahun teakhir ini. Sayapun memanfaatkan kesempatan untuk  bertanya-tanya sedikit tentang Maldives. Mana daerah yang enak dikunjungi, yang murah  meriah tanpa harus bermain air. “Nggak ada. Semuanya mahal.Semuanya air” katanya tertawa. Setelah mengobrol beberapa lama ia bertanya, dari mana saya berasal di Indonesia. Saya bilang dari Bali. Dengan cepat ia mengatakan bahwa ia juga berasal dari Bali. Oh! Di mananya di Bali? Saya bilang di Bangli. Di Kintamani. Dia tampak terkejut. “Lho, saya juga dari Kintamani” katanya. Giliran saya yang terkejut. Kintamani mana? Dia menyebutkan sebuah desa. Oh! Tentu saja saya tahu desa itu. Saya lalu mengatakan bahwa saya juga punya keluarga di desa itu. Lagi-lagi dia terkejut. Akhirnya usut punya usut, ternyata masih berkerabat dengan kerabat saya juga. Ah, dunia memang benar-benar selebar daun kelor.

Kami berpisah, karena gerbang ruang tunggu saya sudah dibuka.  Saya melambaikan tangan saya dan memintanya agar hati-hati di jalan dan menjaga dirinya dengan baik di negeri orang.

Namun penerbangan rupanya ditunda akibat cuaca buruk. Dengan memanfaatkan wifi gratisan di bandara, akhirnya saya membunuh waktu dengan berkomunikasi dengan orang-orang yang saya cintai di tanah air. Betapa saya merindukan mereka. Saya memandang ke luar jendela kaca bandara. Hujan turun masih deras dan langitpun gelap berkabut. Sepi dan kesendirian mendera. Alangkah tidak enaknya bepergian sendiri.

Oh, tapi layakkah saya mengeluh? Karena tuntutan pekerjaan, saya melakukan cukup sering perjalanan dari satu bandara ke bandara yang lain. Namun tentu saja perjalanan saya tidak seberapa sering dibandingkan orang-orang yang karena tuntutan pekerjaan harus selalu berada di atas kapal dan jauh dari keluarga serta orang-orang yang dicintainya? Bagaimana dengan para pilot, para pramugari, para pelaut atau bahkan mereka yang bekerja sebagi tenaga kerja di negara asing?

“…cause  I’m leavin’ on  a jet plane, don’t know when I’ll be back again. Oh babe, I hate to go…” suara lembutnya Chantal Kreviazuk terngiang di telinga saya. Nah, lagu itu lebih menyedihkan lagi. Masih untung saya tidak mengalaminya.

 Setidaknya  masalah saya masih jauh lebih ringan. Dan saya masih memiliki orang yang mencintai saya dan mendoakan keselamatan saya diperjalanan. Sekarang, saya tahu maknanya bersyukur…

18 responses »

  1. Tiap orang punya garis hidup masing-masing Mbak Dani, jadi apapun yg telah menjadi garisan hidup, atau kehidupan yg kita pilih, wajib bersyukur atasnya ya…

    Barusan aku melihat anak tetanggaku menangis melepas ibunya yg hendak pergi kerja, pramugari senior sebuah maskapai penerbangan. Ini hari minggu dan dia harus membujuk2 anaknya yg tidak mau ditinggalkan..Dari jauh aku miris melihatnya Mbak, ingat pada anak2ku yg sedang tidur lelap di kamar. Untungnya mereka tidak pernah mengalami hal seperti itu, tp tentu dengan segala ongkos yg harus saya bayar. Jadi makhluk rumahan dan kurang gaul. Tapi yah itu lah hidup yang saya pilih, walau dulu pengen banget jadi wanita karier, masa sekarang saya harus menyesali? Tak syukuri saja ya…hehehehe…

  2. aku belum pernah ke bandara Kuala Lumpur, mungkin perlu merencanakan di masa datang.
    Soal kwitansi itu mbak, kalau di Jepang tidak bisa ganti harga sendiri (kwitansi kosong) tapi bisa ditulis : Uesama, jadi pemakai (nama yang tertera) tidak spesifik, jadi bisa diklaim oleh siapa saja yang perlu. (Kalau di Jepang harus dicantumkan menerima uang dari siapa (nama) ) Dengan ditulis uesama, kwitansi ini bisa diberikan pada suami. teman yang bisa mengklaim ke perusahaan. Cara ini bagus untuk orang yang kerja freelance, toh biaya itu memang dikeluarkan oleh dompet sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s