The Power Bank That Has No Power.

Standard

Saya sedang melakukan perjalanan panjang. Di tengah jalan, blackberry saya kehabisan batere. “Wadow! Nggak bisa be be em-an lagi deh” kata saya. Yah,memang nggak enak rasanya kalau lagi ngobrol tiba-tiba batere habis begini. Teman saya menoleh. “Lanjutin pake hape biasa saja, Bu” katanya. “Habis juga baterenya” kata saya.

Kalau gitu Ibu mesti beli Power Bank aja, Bu. Penting banget loh. Apalagi buat ibu yang sering bepergian. Saya nggak pernah lagi punya problem seperti itu sejak punya Power Bank” Saran teman saya. Kedengaran seperti sedang berpromosi di telinga saya.  Saya tertawa. Sebenarnya saya juga membawa Power Bank di tas saya, tapi Power Bank itupun sedang tidak ada nyawanya juga.  Belum sempat saya charge. Saat saya kasih tahu kenyataan itu, teman saya tertawa terbahak-bahak. “Walah!! Parah bener ibu ini “ katanya tidak bisa menahan geli. “Saya baru tahu ada Power Bank yang tidak punya power” Saya hanya bisa ikut tertawa dengan getir. Sebenarnya ini bukan komentar pertama yang saya terima tentang kemalasan saya men’charge’ batere gadget saya.  Tapi kali ini saya jadi berpikir.

Power Bank, seperti kita tahu adalah salah satu piranti yang banyak tersedia di pasar untuk menyimpan cadangan batere/power buat gadget kita yang kehabisan batere ditengah jalan, sementara kita tidak bisa menemukan sumber listrik biasa yang kita butuhkan untuk melakukan ‘power charge’. Kekuatannya tentu bervariasi. Ada yang menyimpan power cadangan untuk 2x,  3 x , 4x charge dan sebagainya. Tergantung jenisnya. Dan tentunya tergantung harganya juga. Lumayan juga sih. Sangat berguna saat kita bepergian dan membutuhkan power. Agar Power Bank ini bisa melakukan tugasnya dengan baik, tentu ia sendiri harus memiliki power yang ia simpan dan bisa ditransfer ke gadget yang lain. Oleh karenanyalah ia perlu dicharge terlebih dahulu. Idealnya, setelah powernya penuh, barulah kita bawa bepergian.

 Nah, jika Power Bank kita tidak punya power, tentu saja ia tidak bisa menjadi sumber power bagi gadget yang lain.  Ia tidak melakukan fungsi yang sharusnya ia lakukan. Itu tentu mirip dengan seorang Guru yang tidak punya ilmu untuk diajarkan kepada muridnya. Atau mirip Manager yang tidak mampu mengelola pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Atau mirip Dokter yang tidak bisa mengobati pasien yang membutuhkan pertolongannya. Atau Arsitek yang tak mampu merancang bangunan yang indah. Atau Ibu yang tidak memiliki kasih sayang untuk anaknya. Atau Seniman yang kehilangan kreativitasnya. Atau Kekasih yang tak mampu mencintai. Dan sebagainya. Tidak mampu memberikan apa yang masyarakat umum harapkan padanya.

Saya melihat ke arah Power Bank milik teman saya yang sedang bekerja. Lampu signalnya berkelap kelip menunjukkan % power yang dimiliknya. 90%!. Entah kenapa, saya jadi merenungkan diri saya.

Mungkin hidup saya, sebagiannya adalah serupa dengan gadget penerima power dari Power Bank. Namun sebagian darinya ada juga  yang serupa seperti Power Bank. Dimana saya harus memberikan apa yang saya miliki kepada orang lain.  Namun entah berapa % power yang tersisa di dalam diri saya, yang bisa saya berikan kepada yang membutuhkan. Bagaimana jika saya ternyata sudah  tidak memiliki apa-apa yang dibutuhkan orang lain lagi? Ooh!

Rasanya saya harus cepat-cepat me“re-charge’nya kembali. Sebelum semuanya padam dan menjadi tidak berguna.

19 responses »

  1. Harus selalu meng-update kemampuan ya Mbak. Dan re-charge itu memang penting juga dalam keseharian. Agar hidup tidak hanya begitu-begitu saja.😀

  2. Saya punya, tapi selama ini jarang sekali memakainya. Kalau pas kerja di field, meski berminggu-minggu tetapi sudah ada suplay energi dari generator-set. Jadi sebenarnya manusia seperti saya itu mirip power bank itu. jarang dipakai kecuali sudah kepepet. Nah, sekarang kabel penghubung dengan gadget-nya siapa? Sumber energi power bank-nya siapa?

  3. Pengen punya power bank dalam arti yang sesungguhnya & arti yang kedua…

    Liat nenek saya sakit, saya pengen bantu tapi ternyata energi saya msh cupu… pas jagain malem emang lumayan seger, pas akhirnya bs tidur, eeeh jd susah bangun… hehehe… krn saya cucu, mbah juga jd risih kalau saya bantu urusan yang personal banget… sedih…

  4. Untungnya kita bukan power bank beneran Mbak Dani walau ada kemiripannya. Kita gak perlu nunggu kedatangan listrik agar mampu di charge. Kita cukup menata pikiran atau berpaling kearah nurani, charger kita biasanya akan terisi🙂

  5. sejak ganti iPhone, aku merasa sekali pentingnya power bank ini…
    dan mbak Made merawi dengan manis, power bank di kenyataan dengan yang di dalam diri kita.
    Aku jadi diingatkan masih punya power ngga ya aku? hehehe Jangan-jangan sudah jenuh dan tidak bisa dipakai lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s