Bangalore, Incredible India!.

Standard

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam dengan menumpang Singapore Airlines, saya tiba di Bangalore International Airport. Begitu keluar dari pintu pesawat, segera tercium aroma  hangat jintan, ketumbar, cengkeh, kayumanis dan kapulaga menebar berbaur di udara malam. Aroma India! Ah,akhirnya sampai juga saya di kota ini. Bandara malam itu tidak terlalu adat. Namun antrian penumpang yang keluar tetap terjadi.

Saya terkesan akan petugas Imigrasi  India yang menangani saya. Sangat berbeda dibandingkan umumnya petugas imigrasi yang saya tahu di negara-negara lain termasuk di Indonesia. Biasanya petugas Imigrasi selalu berwajah serius dan diam.  Sama sekali tidak ada ramah-ramahnya. Terkadang bahkan sedikit ketus dan galak. Ya…maklumlah, barangkali karena setiap hari harus menghadapi lalu lintas manusia yang beragam. Ada yang begini, ada yang begono. Dan tentunya tidak semuanya disiplin mengikuti aturan yang berlaku. Ada juga yang bandel atau bahkan melanggar hukum. Mungkin itu sebabnya, rata-rata petugas itu jadi menampakkan wajah serius.

Petugas imigrasi ini, agak berbeda. Ia bertanya ini dan itu kepada saya, namun dengan cara yang sangat sopan, ramah dan bersahabat.  Malah banyak bercanda dan tertawa. Saya merasa sangat senang dan nyaman karenanya. Tanpa terasa, iapun telah berhasil mengorek informasi yang ia butuhkan dari saya, tanpa sedikitpun membuat saya merasa diinterogasi.

Kedatangan saya ke kota yang terletak di negara bagian Karnataka – India ini, sebenarnya adalah untuk mengikuti Induction Proggram dari Wipro – perusahaan tempat saya bekerja. Letaknya di Sarjapur Road – kurang lebih 1 jam perjalanan dari airport. Di tempat ini, selain kantor, juga terdapat campus/learning centre dan guest house. Di sanalah saya –bersama dengan beberapa rekan kerja saya –  juga yang berasal dari berbagai negara lain akan tinggal selama beberapa hari untuk mengikuti agenda yang disiapkan oleh perusahaan. Tentunya termasuk diantaranya juga adalah agenda bertatap muka langsung dengan Mr Azim Premji, boss kami yang sangat termahsyur ke seluruh dunia, bukan saja karena kesuksesannya dalam bisnis, namun juga akan kedermawanan dan kelurusan hatinya. Selama beberapa hari pekerjaan saya hanya belajar dan belajar. Mendengar, melihat dan menyimak banyak hal. Sebagai seorang Wiproite, tentu saja saya sangat senang mendapatkan kesempatan ini. Bisa berdiskusi dan duduk semeja saat makan siang dengan Pak Azim, tidak pernah terbayang dalam pikiran saya sebelumnya.

Di luar urusan pekerjaan, tentu saya juga sangat tertarik untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan India secara umum, khususnya Bangalore.

Bangalore vs Bengaluru.

Saya rasa Bangalore adalah kota terbesar keempat di India setelah  New Delhi, Calcotta dan  Mumbay. Letaknya di dataran tinggi Dekan, India agak selatan. Udaranya cukup sejuk. Seorang rekan bercerita, bahwa Bangalore sekarang berubah nama menjadi Bengaluru. Apa pasal? Oh, rupanya nama asli Bangalore adalah Bengaluru. Penjajah Inggrislah yang pertama menyebutkan Bengaluru sebagai Bangalore sesuai dengan lidah mereka, sehingga sejak itu Bengaluru selalu dikenal dengan nama Bangalore. Kejadian serupa juga menimpa Mumbay, Chennai, Delhi dan sebagainya. Sekarang rupanya pemerintah India ingin mengembalikan nama-nama kota itu kembali ke nama awalnya. Usaha yang bagus.

Klakson & Rickshaw

Kota  Bangalore sangat luas, dengan jalanan yang juga tak kalah amburadulnya dengan Jakarta. Kesan pertama saya kotanya agak kotor  dan penduduknya sangat padat. Apalagi kalau kita berada di jalanan pada siang hari. Jalanan juga macet. Orang-orang mengemudi kendaraannya dengan cepat dan tanpa perhatian terhadap pejalan kaki (baca: susah menyeberang jalan!). Para pengemudi juga kelihatannya kurang sabaran. Jika sesuatu terjadi, maka tidak segan mereka  akan memencet klakson kencang-kencang.  Namun anehnya, banyak sekali mobil-mobil pribadi yang berlalu lalang dengan jendela terbuka. Bahkan di lampu merah. Dengan santainya, pengendara membiarkan udara dan debu masuk ke dalam mobilnya. Saya sangat heran. Kalau itu terjadi di jakarta, tentu perampokan dan penodongan bisa banyak sekali terjadi. Namun di Bangalore, kejahatan seperti itu nyaris-nyaris tak pernah terjadi. Walaupun penuh dengan suara klakson, namun jalanan di Bangalore secara umum sangatlah aman.

Yang cukup menarik lagi di jalanan adalah adanya Tuc-Tuc – di India disebut sebagai Rickshaw saja. Kendaraan angkutan umum yang mirip Bajaj di Jakarta ini sangat banyak berlalu lalang. Serasa telah menjadi Icon dari jalanan India.

The Sacred Cow

Bagi yang pertama kali datang ke India, tentu akan terheran-heran akan banyaknya Sapi tak bertuan yang bebas melenggang di jalanan  Bangalore.  Sungguh, sapi itu tidak ada pemiliknya. Tidak ada yang memelihara dan tidak ada yang berani mencurinya. Jadi dibiarkan begitu saja.  Seorang penduduk setempat menjelaskan bahwa Sapi disucikan karena dianggap sebagai binatang yang telah memberikan banyak sekali jasa dalam kehidupan manusia.  Mulai dari menyediakan berbagai jenis produk seperti susu, mentega, yoghurt, keju yang menjadi bahan makanan sehari-hari, hingga brown butter yang digunakan untuk menyalakan pelita. Selain itu Sapi juga digunakan tenaganya untuk membantu bekerja di daerah pertanian.

Artistic Temple & Statue

Temple ada di banyak tempat di India. Setiap kali berkesempatan berada di jalanan, saya selalu senang melihat bentuknya yang sangat artistik. Bangunan yang indah-indah ini selalu dihiasi dengan berbagai bentuk ukiran. Saya sempat masuk ke dalam salah sebuah temple itu, mengikuti acara pooja dan pradakshina.

Saya juga senang mengamat-amati berbagai benda seni yang saya temukan di India, seperti misalnya gerabah dan patung-patung batu cadas.

Sebenarnya masih banyak sekali hal lain yang menarik perhatian saya di India.

16 responses »

    • Thanks, Mbak Nella. Ya, nama Bengaluru itu pertama kali kulihat di ticket. Terus berikutnya di papan petunjuk jalan. Dan belakangan aku dijelasin seorang teman, bahwa namanya memang sedang mau dirubah ke Bengaluru..

    • Ya sih Mbak. Saya juga khawatir begitu. Tapi barangkali orang di sini sudah terbiasa dengan Sapi yang melenggang bebas di jalan raya. jadi mereka otomatis berjalan pelan dan minggir agar sapinya tidak terganggu.

  1. makasih Mba Made. saya jadi tahu cerita tentang India dari sudut pandang lain nih. Beberapa cerita dari teman saya dari sisi kurang sedapnya India. heheee.
    Bagus juga ya ide pemerintah India mengembalikan nama daerahnya ke nama asal.. Ingin melestarikan keaslian India dan mungkin bisa jadi cerita untuk wisatawan..

    • ooh..gitu ya? he he he..
      Saya pikir setiap tempat pasti ada enak dan nggak enaknya, ada sisi baik dan sisi buruknya. kemanapun kita pergi. Apalagi untuksebuah negara yang penduduknya banyak dan susah mengaturnya..
      negara kita juga kurang lebih samalah. Ada sisi yang sudah berkembang dengan baik, namun ada juga sisi yang masih perlu perbaikan.

    • BenerPak Mars. memang serupa banget dengan beberapa kota-kota kita. Tentunya ada bagian yang bersih dan terawat dan banyak bagian yang kurang terawatnya juga. Mungkin karena penduduknya terlalu banyak barangkali pak Mars.

  2. Halo mbak, masih di Bangalore nggak??
    Aku udah 5 bulan disini tapi masih kurang sosialisasi nihh.. Mau nyari temen tapi belum ada. Hehehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s