India: Mengunjungi Istana Mysore Yang Indah dan Megah.

Standard

Salah satu acara yang sangat menyenangkan  bagi saya adalah saat mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Mysore  Palace yang sangat indah dan menakjubkan. Sesuai namanya, istana ini letaknya di kota Mysore, sekitar  4 jam perjalanan dari  kota Bangalore.   Namun, walaupun saya berangkat pada pukul 9 pagi, karena berhenti di beberapa tempat,akhirnya saya tiba di halaman Istana itu sekitar jam 3 sore. Udara sedang cerah.

Saya melihat pintu gerbang dan pagar berwarna kuning muda. Banyak orang berjualan di depannya. Tentu saja hati saya sangat senang, karena saya berencana untuk melihat-lihat  dan mengambil foto benda-benda seni di dalam istana itu. Namun sayang disayang, pengawasan di Istana ini  rupanya sangat ketat. Tidak ada pengunjung yang diperbolehkan mengambil foto dan membawa kamera masuk ke dalam Istana.  Photo hanya boleh diambil di luar istana. Yaah.. kecewa penonton!. Apa boleh buat. Rupanya saya harus melalui scanner dua kali. Dengan berat hati saya harus menghormati peraturan setempat.  Setelah menitipkan kamera dan sepatu saya, dengan bertelanjang kaki sayapun masuk ke dalam istana itu.

Begitu menapaki tangga Istana itu, rasanya saya terbawa ke dalam kemegahan alam masa silam. Tangga-tangga kuat dan keras yang terbuat dari batu granite dan lantai batu pualam. Lalu dinding-dinding yang indah penuh ukiran, dimana banyak lukisan yang indah tergantung di dindingnya. Lalu  pilar-pilar yang kekar dan tinggi, kubah-kubah yang menopang langit-langit istana yang biru dan lagi-lagi penuh ukiran dan kristal. Istana itu sedemikian besar dan megahnya. Pintu-pintu kayu jati tebal berukir, beberapa diantaranya berlapis perak dengan ukiran yang sangat renyep penuh detail. Saya berpikir,alangkah kayanya raja Mysore ini. Belum lagi jika kita perhatikan pernak-pernik interior yang ada di sana. Mulai perhiasan dari gading gajah hingga mahligai yang terbuat dari emas murni.  Benar-benar luarbiasa!. Sangat beruntung saya masih berkesempatan melihat  mahligai itu pada hari terakhir sebelum disimpan kembali di tempatnya dan ditutup untuk pengunjung umum.

Namun lepas dari semua kemewahan itu, saya justru memikirkan keindahan arsitektur istana itu. Saya pikir, arsitekturnya bergaya campuran India, Persia dan bahkan berbau Eropa. Benar saja, belakangan saya diberi informasi bahwa Istana  Mysore itu ternyata memang telah mengalami beberapakali perombakan sejak pertama kali didirikan  pada abad ke 14 oleh Dynasty Wodeyar. Renovasi terakhir dilakukan oleh Raja Krishna Wodeyar sekitar tahun 1912 akibat sebelumnya mengalami kebakaran yang hebat melanda salah satu hall-nya.  Jadi, tahun ini adalah  genap tahun ke 100 bagi istana yang direnovasi ini.  Dan saya diberi informasi bahwa Arsitek dari istana ini adalah Henry Irwin , seorang berkebangsaan Inggris. Dan pillar-pillar besi yang tinggi itupun rupanya diimport dari Scotlandia.

Hampir semua tempat di Istana itu menarik dan tak semuanya saya ingat namanya. Namun beberapa ruangan yang luarbiasa besar, ada juga yang saya ingat.Salah satunya adalah sebuah hall yang bernama Ambavilasa, adalah hall dimana raja biasanya melakukan audiensi.  Di ruangan inilah saya melihat mahligai Emas yang terkenal itu disemayamkan. Karena dibatasi oleh rantai penghalang, saya hanya bisa melihatnya dari jarak beberapa meter.

Lalu ada lagi ruangan yang bernama Kalyana Mantapa – dari ruangan besar inilah konon api mulai merambat saat kebakaran besar melanda istana itu.  Tepat saat terjadi pernikahan puteri raja.

Lalu ada lagi ruang besar terbuka yang disebut sebagai Durbar Hall, tempat dimana Raja biasanya  menemui public.  Tempatnya agak tinggi. Saat berada di sana, saya bisa membayangkan bagaimana rakyat yang berada di bawah bisa melihat rajanya dengan baik.

Karena kerajaan ini umurnya ratusan tahun, tentunya pemerintahannyapun silih berganti.  Saya membaca dari brosur mengenai Kerjaan Mysore ini,bahwa Kerajaan ini dibangun oleh Raja Wodeyar pada tahun 1399. Lalu pada tahun 1610 pusat kerajaan ini dipindahkan ke Srirangapatna.  Namun pada tahun 1610, Hyder Ali mengambil alih Kerajaan ini dan berikutnya menyerahkan pada putranya yang bernama Tipu Sultan. Tipu Sultan, seorang yang gagah menentang penjajahan Inggris di jamannya. Sangat dikenal dengan ucapannya “ It’s better to live a day like a tiger, rather 100 years like a jackal”.  Tipu Sultan  memerintah hingga  tahun 1799.

Setelah Tipu Sultan wafat, Kerajaan dikembalikan pada Dynasty Wodeyar dan pusat pemerintahannya dikembalikan ke Mysore lagi.  Dua orang yang terkenal setelah masa itu antara lain adalah Ratu Vani Valasa, yang terkenal karena besar contribusinya terhadap Mysore. Beliau rela menjual perhiasannya demi untuk membantu mendanai pembangaunan sebuah dam.  Satunya lagi adalah Krishnaraja Wodeyar, yang membawa Kerajaan Mysore ke puncak keemasannya  dari tahun 1902 -1912. Lumayan juga deh, saya jadi mendapatkan pelajaran sejarah dari brosur itu.

Setelah habis berkeliling di dalam istana, maka sayapun keluar. Halaman istana Mysore itu penuh dengan kebun bunga. Di sampingnya saya melihat sebuah Temple  yang sangat menarik bernama Shveta Varahaswami. Sangat menarik,namun sayang sedang ditutup saat itu.

Hari berjalan denga sangat cepat. Tak terasa sore suudah tiba dan saya harus segera kembali ke Bangalore.

16 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s