Kisah Petualangan: Menggelandang Ke Maldives I.

Standard

Setelah usai melakukan urusan kantor di India, maka sayapun segera pamit dan tidak lupa mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengunjungi negara itu.  Rekan –rekan saya kebanyakan langsung pulang kembali ke negaranya masing-masing.  Saya sendiri berencana akan mengunjungi Maldives  bersama dua orang teman saya. Alasannya adalah karena jarak dari Bangalore ke Maldives sangat dekat.  Tentu biayanya lebih murah.

Namun beda dengan perjalanan ke India yang dibiayai oleh kantor, perjalanan ke Maldives ini adalah atas biaya kami sendiri.  Jadi untuk irit-irit ongkos, kamipun akhirnya memutuskan untuk ‘menggelandang’ saja. Mencari penginapan yang murah meriah dan membuat acara dengan ongkos terjangkau.

Saya Menunggumu Selama Sejam!!

Pagi-pagi, seperti dijanjikan oleh teman yang mengatur  taxi yang akan mengantar kami ke bandara, maka sayapun bangun dan bersiap sejak pukul 4 pagi. Pesawat Air India yang akan kami tumpangi  menuju ke Male International Airport di Maldives akan berangkat pukul 9 pagi. Sesuai dengan peraturan maskapai penerbangan itu, saya sudah harus ada di bandara 2 jam sebelumnya, yakni jam 7 pagi. Dan perjalanan ke bandara kurang lebih akan memakan waktu selama 2 jam juga. Jadi saya harus berangkat pukul 5 pagi.

Pukul 4.30 saya minta tolong ke operator untuk melakukan checking apakah  taxi saya sudah datang? Informasi yang saya dapatkan: Taxi sudah on the way. Pukul 5, taxi belum datang. Check ulang, taxi sudah on the way. Pukul 5.30 ; taxi juga belum datang.  Akhirnya pukul 6, saya diinformasikan  bahwa taxi sudah menunggu di pintu gerbang. Waduuh.. saya mungkin terlambat.

Ketika sudah di dalam taxi, supir taxi menyemprot kami dengan nada ketus “Saya menunggumu selama sejam!!!.” katanya dengan wajah tidak senang. Lalu bertanya, bukankah kami seharusnya berangkat jam 5 pagi?  Lho??!! “Saya menunggumu selama dua jam!!!” Kata saya. Gimana sih? Bukannya saya ya yang seharusnya lebih berhak marah? Kok malah dia yang marah? Akhirnya setelah saling menjelaskan, kami tahu rupanya Satpam di pintu gerbang tidak memberitahukan kepada operator Guest House bahwa taxi sudah datang sejak pukul 5 pagi.

Akhirnya supir taxi itu meminta maaf dan sayapun meminta maaf juga. Ia berusaha membantu membawa kami lebih cepat dengan cara memotong jalan agar bisa tiba di airport pukul 7 pagi. Sepanjang perjalanan sikapnya sangat baik dan  menyenangkan. Penuh cerita dan canda tawa.

Trivandrum.

Sama dengan di Indonesia, jadwal penerbangan di sinipun rupanya suka molor juga. Pesawat delay dari jam 9 pagi ke pukul 10.25. Lalu delay lagi ke pukul 10.45 dan akhirnya kami berangkat pada pukul 11.25. Melewati imigrasi,kembali lagi kesan saya bahwa disinilah satu-satunya saya menemukan petugas imigrasi yang sangat ramah dan menyenangkan. Entahlah. Barangkali kebetulan saja. Di dalam pesawat , pramugari menegur teman saya yang mengambil foto. Oh, rupanya ketat sekali urusan foto memfoto di negara ini. Banyak nggak bolehnya. Saya agak kecewa. Karena terus terang tadinya saya berencana akan mengambil foto-foto Maldives dari udara lewat jendela pesawat. Namun baiknya, pramugari membiarkan kami memilih tempat duduk di dekat jendela  karena kebetulan  pesawat sedang tidak penuh penumpang.

Kira-kira sejam kemudian, saya merasa pesawat mulai turun dari ketinggian. Terdengar pengumuman dalam bahasa India yang kemudian disusul dalam Bahasa Inggris. Tidak terlalu jelas karena deru suara pesawat yang bergemuruh. Tapi intinya bahwa kami akan segera mendarat.  Kami diminta untuk memperketat ikat pinggang, mengekakan sandaran kursi dan sebagainya dan sebagainya. Saya melihat  ke bawah lewat jendela.

Oh..Maldives!! Saya merasa sangat senang sekali. Rupanya banyak sekali pohon kelapa. Kelapa. Kelapa.Dan Kelapa. Oh..rasanya lebih banyak daripada di tempat manapun di Indonesia. Saya sedang berpikir, jangan-jangan judul lagu “Rayuan Pulau Kelapa” lebih tepat untuk negara ini ketimbang untuk Indonesia.  Garis pantainya terlihat agak jauh. Rupanya besar juga ya Maldives? Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, gugusan pulau-pulau kecil dengan air laut dimana-mana. Mungkin karena pesawat sekarang sudah terbang terlalu rendah. Sehingga garis pantai terlihat agak jauh.

Pesawat mendarat dengan mulus. Penumpang pada mengambil barangnya di kabin pesawat. Demikian juga saya. Lalu kami keluar segera.  Setelah keluar dari pesawat, tiba-tiba saya dicegat oleh seorang petugas bandara. Saya diminta untuk menunjukkan pasport dan ticket pesawat saya. Walahh!!! Ada apa ini??? Saya merasa agak tidak nyaman dan sedikit nervous. Kenapa ya kok penjagaannya sedemikian ketat? Dan hari ini rasanya apes banget! Semuanya tidak mulus. Mulai dari salah paham dengan supir taxi, lalu pesawat yang delay nggak kira-kira.Kemudian ditahan petugas seperti ini.  Hmm… lalu dengan muka “baku” seorang petugas bandara, wanita itu mengatakan kepada saya  “You are in Trivandrum!” Saya tidak paham. “I am…what???” Maksudnya apa? Trivandrum itu apa? Apakah saya melakukan sejenis pelanggaran yang disebut Trivandrum? Saya tidak mengerti. Saya ingin mendapatkan penjelasannya. Tapi karena mengganggu lalu lintas penumpang lain, wanita itu lalu menyuruh saya masuk kembali ke pesawat.

Di pesawat, pramugara Indian Airline menjelaskan kepada saya, bahwa saya salah turun. Ini bukan Male International Airport, tapi Trivandrum International Airport. Kami hanya transit saja sebentar menurunkan penumpang lain. Jadi tempat ini bernama Trivandrum. Bukan Male. Ia lalu mengambil peta dan menunjukkan bahwa Trivandrum adalah salah satu kota di negara bagian Kerala – India bagian selatan. Trivandum adalah nama versi Inggris dari Trivunanthapuram. Yah, serupalah dengan nama Bangalore yang versi Inggris dari nama aslinya Bengaluru.  Oooooh… begitu!. Wah.. saya jadi malu atas kebodohan saya. Pramugara lalu memeriksa ticket saya dan heran, rupanya di ticket tidak dijelaskan  bahwa pesawat akan transit sebentar di Trivandrum untuk menurunkan dan menaikkan penumpang baru. Ha ha..lumayan, walaupun tetap malu, saya merasa sedikit terhibur. Jadi tidak 100% terjadi akibat kebodohan saya.

Begitu saya duduk, saya lihat lewat jendela, rupanya di bandara itu jelas-jelas terpampang tulisan besar nama bandara itu “TRIVANDRUM”.  Dan bukan “MALE”.  Nah, sekarang saya tahu, bahwa saya memang benar-benar bodoh!.

20 responses »

    • awalnya sih saya agak jengekel juga, karena merasa itu bukan salah saya. tapi setelah mengerti bahwa iapun dirugikan karena kejadian itu..ya kasihan juga. Tapi setelah itu ia kembali riang dan sangat menolong kok Mbak..

  1. Bangalore-Trivunanthapuram- Male yang seru. Untuk sedikit membantu saya tanya om google map, oo Male seperti titik di samudra Hindia, menunggu cerita berikutnya Jeng.

  2. Ini salah satu negara tujuan para pesohor sejagat. Liat foto2 di gugel emang Maladewa negeri yang cantik, unik dan menarik. Berbahagialah Ni Made udah kesana. Saya juga udah…(via google earth)🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s