Maafushi: Hidup Damai Tanpa Keserakahan.

Standard

Sebelum saya melanjutkan cerita tentang perjalanan saya di Maafushi, mungkin ada baiknya saya bercerita sekilas tentang Maldives terlebih dahulu. Negara ini terletak di Samudera Hindia, di bawah ujung India. Terdiri atas gugusan pulau-pulau Atoll yang berjumlah 26 buah. Setiap lingkaran Atoll terdiri atas ratusan pulau-pulau kecil, sehingga jika ditotal, jumlah pulau yang membentuk negara Maldives itu kurang lebih 1 200 –an. Namun tidak semua dari pulau itu berpenghuni. Barangkali hanya 200 an buah saja yang didiami manusia. Sisanya adalah pulau-pulau kecil yang kosong. Bahkan diantaranya ada yang hanya bantaran pasir putih belaka. Oleh karena itu, barangkali Maldives adalah negara Asia yang paling kecil dari sudut jumlah penduduk dan luas daratannya.

Pulau Maafushi tempat saya menginap adalah salah satu dari gugusan pulau-pulau yang terdapat pada rantai Atoll yang bernama Kaafu Atoll. Pulau ini berukuran sangat kecil. Memiliki panjang 1 kilometer dan lebar 200 meter. Nah, bisa dibayangkan jika kita berdiri di tengah pulau,maka dengan jelas kita akan melihat laut 100meter di depan kita dan 100 meter di belakang kita. Sisi yang satu adalah ‘Lagoon’ dari cincin atoll sementara sisi yang satunya lagi adalah “Samudera Hindia”.Dan pulau ini, seperti halnya pulau-pulau lain di Maldives, hanya memiliki ketinggian 1,5 meter di atas pemukaan laut. Agak ngeri jika memikirkan gelombang dan tsunami, namun pada faktanya pulau ini sudah dihuni selama berabad-abad. Konon sangat jarang air laut bisa naik lebih dari setengah meter. Saya mendapatkan penjelasannya, barangkali karena pulau ini adalah pulau koral yang bisa dikatakan ‘mengambang’ di permukaan laut dan selalu fleksible mengikuti ketinggian laut. Kecuali jika memang terjadi bencana gempa yang luar biasa seperti pada tahun 2004.

Pulau itu dihuni oleh sekitar 1000 orang, memiliki sekolah, rumah sakit, supermarket, masjid dan saya dengar malah  penjara Maldives ada berlokasi di pulau itu. Penduduknya sangat ramah dan sopan. Tutur bahasanya sangat lembut dan damai. Sebagian besar memiliki mata pencarian sebagai nelayan dan sebagian bergerak di bidang pariwisata. Sayur mayur dan bahan makan lain diimport semuanya. Ketika saya sedang berada di pantai,saya melihat bahan-bahan makanan ini baru diturunkan dari kapal. Agak aneh juga melihatnya. Namun memang keadaannya demikian. Si pulau karang sekecil itu memang sangat tidak memungkinkan untuk bercocok tanam dalam skala  yang cukup besar. Vegetasi yang tumbuhpun sangat terbatas. Didominasi oleh pohon kelapa, waru laut, sedikit pandan dan beberapa jenis pohon semak lainnya saja, lalu sisanya tanaman rambat ipomea yang umum kita temukan di pantai-pantai negara kita juga.  Namun demikian, saya masih ada melihat kambing dipelihara di sana.

Pantai, Kulit Kerang dan Kelomang.

Pulau  Maafushi  seperti halnya pulau lain dalam Atoll, tentu saja dipenuhi dengan coral yang indah memukau. Pantainya sangat bersih. Penduduknya tidak ‘nyampah’ ke laut. Sampah ‘industry’ bahkan bisa dikatakan nyaris tidak ada. Jika kita berjalan-jalan di bibir pantai,banyak sekali jenis kulit siput laut dan kulit kerang yang bisa kita temukan dalam ukuran cukup besar berserakan di sana.Saya membayangkan jika itu terjadi di Indonesia, tentu sudah diambilin atau bahkan dijual.Saya senang sekali melihatnya. Ada banyak sekali jenisnya. Berbagai rupa dan berbagai warna dengan dekorasinya masing-masing. Mulai dari siput laut kerucut yang panjang, siput laba-laba yang kakinya menonjol, siput putih yang mirip konde si nenek, dan sebagainya. Demikian juga berbagai jenis kulit kerang dan tiram. Tidak heran, tempat itupun menjadi rumah bagi berjuta-juta kelomang yang berlarian ke samping di sela-sela pasir dan akar pohon kelapa menggendong rumahnya. Berada di Pulau Maafushi, terasa kedamaian mengisi hati kita dengan penuh.

Ikan Dan Udang Menghampiri Dirimu.

Dengan mudah kita bisa menyaksikan ikan-ikan yang melimpah berenang bahkan hingga ke pantai. Kita bisa melihat gerombolan teri nasi yang berwarna putih kontras berjuta-juta jumlahnya ketika melintas diatas sebuah karang yang berwarna coklat.

Yang menarik lagi, untuk keperluan makan malam buat keluarganya, ibu-ibu di Maafushi berbaris di dermaga  memancing ikan pada sore harinya. Mereka hanya mengambil secukupnya dari laut. 5-6 ekor ikan kecil – benar-benar hanya secukupnya untuk makan malam itu saja. Sama sekali tidak serakah. Untuk makan esok harinya, ya mereka akan memancing lagi.  Entahlah. Saya merasa sangat menyukai kehidupan mereka. Kehidupan yang damai, sejahtera dengan didukung oleh alam. Barangkali tanah air kita, jaman dulunya begini juga. Nenek moyang kita cukup makan dan sejahtera dengan hanya menggantungkan hidup pada alam. Pada kail dan jalanya saja.  Sungguh kehidupan sederhana yang sangat damai. Jadi teringat lagu jadulnya Koes Plus jaman dulu  – dari album Nusantara yang entah ke berapa  “Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada ombak kau temui,ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman… dan seterusnya ”Yeah..!!!

Saking damainya pulau ini, maka kegiatan yang paling banyak dilakukan penduduk adalah bersantai di ayunan tali temali, baik yang diikatkan di dua batang pohon kelapa ataupun tali temali yang dijalinkan pada tiang kerangka besi, sehingga mirip kursi. What a beautiful life!.

 Pulau Burung Gagak.

Satu hal menarik dai pulau ini adalah riuhnya suara burung. Awalnya ketika suatu sore saya tertidur dan mendengar suara burung yang sangat ribut dari kamar saya. Sayapun keluar untuk melihat. Ya ampuun.. ternyata burung-burung gagak.  Banyak sekali jumlahnya. Mungkin beratus-ratus ribu populasinya di pulau kecil itu.  Saya duga, barangkali karena pulau ini menyediakan sumber makanan yang sangat berlimpah bagi para gagak ini. Tiap saat ibu-ibu mancing dan membersihkan ikannya – semua bahan buangannya menjadi makanan bagai burung gagak itu. Lagipula tidak ada seorangpun yang mengganggunya baik dengan bedil maupun hanya sekedar melemparinya dengan batu. Tidak heran populasinya jadi sedemikian banyak. Di mana-mana  kita temukan gagak. Di pohon kelapa, di pinggir pantai, di dermaga, di pagar rumah, dan sebagainya.

Saya melangkahkan kaki saya di bibir pantai. Melihat seekor burung gagak yang sedang terbang melayang mengincar seekor ikan untuk sarapannya pagi ini. Ia hanya mengambil secukupnya dari alam. Hanya untuk  makan satu kali. Hanya untuk pagi ini. Tidak ada konsep “menumpuk makanan” dalam hidupnya. Burung Gagak hitam! Itulah Maafushi..

Kehidupan yang masih sangat murni. Tanpa keserakahan. Setiap orang mengambil hanya secukupnya dari alam. Tidak memberi beban berlebihan kepada alam dengan selalu berusaha menjaga kebersihan  dan tidak mencemarinya dengan cara yang berlebihan. Itulah Maafushi. Semoga kelestariannya selalu bisa tetap terjaga..

13 responses »

  1. Astagaaa…saya kayaknya jadi pembaca pertama nih!
    Saya bisa ngebayangin gimana indahnya Pulau Maafushi yang mbak ceritain ini, dan sungguh, detail lengkap yang ditulis disini bikin saya pengen banget kesana biarpun sebenernya saya nggak terlalu suka pantai…
    Perjalanan yang menakjubkan🙂

  2. Sependapat mbak, hidup dama tanpa keserakahan itu sebenernya kan identik dengan memelihara alam. Rusaknya lingkungan adalah akibat keserakahan manusia yang tidak pernah merasa cukup. Seandainya saja prinsip hidup masyarakat Pulau Maafashi ini bisa kita adopsi disini ya, mbak!😀

  3. betapa saya sangat beruntung masa kecil yang mengalami kondisi yg diceritakan bu dani. mengambil alam secukupnya saja. saya tentunya dg keluarga ketika mau pulang dr sawah baru ngambil ikan di bawah tanaman padi gogo rancah untuk di masak.

  4. Iya mbak, memang hidup secukupnya itu sepertinya justru lebih membahagiakan. Kalau saya inginnya hidup pas-pasan mbak. Pas pengen makan sate ya bisa membeli atau membuat sate, pas pengen makan pizza ya pas ada uang untuk beli pizza, pas pengen beli mobil ya pas ada uang untuk beli mobil, pas pengen apartemen ya pas ada uang untuk beli apartemen. Serba pas-pasan lah… Hehehe… *ngaco*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s