Monthly Archives: December 2012

Mengasah Hati Yang Tidak Peka.

Standard

Kursi PijatDi sebuah bandara International di negeri tetangga, terdapat 4 buah kursi pijat gratis yang difasilitasi oleh pihak bandara. Kursi pijat yang saya maksud adalah yang serupa dengan yang bertebaran di mall-mall di Indonesia, yang bisa kita gunakan selama 15 menit dengan ongkos Rp 5 000, 10 000 atau maximum Rp 15 000. Bedanya yang ini gratis. Read the rest of this entry

Advertisements

Di Antara Duabelas SMS.

Standard

SMS

Suatu kali saya meminta tolong suami untuk membantu saya memindahkan semua daftar kontak dari  pesawat hp saya yang lama ke pesawat yang baru. Karena saya agak gaptek tidak bisa melakukannya sendiri. Pesawat yang lama sudah sering hang dan banyak somplaknya. Ia setuju dan sayapun menyerahkan hp saya kepadanya. Saat melihat jumlah SMS yang belum saya buka mencapai ratusan di Inbox, suami saya kelihatan terkejut. “Lho? Kok  sms sampai ratusan begini banyaknya nggak dibaca sih?”  katanya menegur. “SPAM!” Kata saya membela diri. Saya tahu suami saya tidak suka jika saya tidak membalas sms orang lain dengan segera. Menurutnya itu perbuatan yang sangat tidak sopan. Ia lalu melihat sepintas sms –sms saya yang belum terbuka itu, sebelum akhirnya mulai mencoba membantu saya. Read the rest of this entry

Indahnya Keberagaman Di Nusa Damai. Selamat Hari Natal, Saudaraku!

Standard

Selamat Hari Raya NatalSuatu siang, sehari menjelang Natal. Saya ke toko roti untuk membeli kue-kue. Banyak sekali tersedia paket-paket bingkisan Natal. Dengan harga yang beragam. Orang-orang pun ramai mengantri. Saya tidak merayakan Natal. Tapi saya merasa perlu untuk membeli kue-kue buat  bingkisan Natal bagi beberapa sahabat saya yang merayakannya. Terutama bagi sahabat yang setiap tahunnya juga mengirimkan bingkisan kepada keluarga saya saat kami merayakan hari raya. Read the rest of this entry

Taman Ujung Karangasem: Tempat Wisatanya Orang Bali.

Standard

Taman Ujung Karangasem Bali15

Saya tertawa geli mendengar pertanyaan seorang teman kepada saya, “Jika orang  Bali berwisata di Bali, mereka pergi ke mana?. Apakah sama dengan tourist-tourist yang lain?”. Teman saya itu ingin mengunjungi tempat wisata yang memang dijadikan tempat wisata bagi orang Bali sendiri. Lucu juga! Pertanyaan yang tidak umum, namun menggelitik. Kelihatannya memang tidak sama persis. Misalnya ketika pelancong Jakarta menyebut Kuta sebagai tempat tujuan teratas di Bali, belum tentu orang Bali akan menempatkan Kuta di posisi teratas. Ada lebih banyak lagi tempat-tempat lain di Bali yang umumnya mereka kunjungi dan anggap lebih menarik. Orang Bali pergi ke Kuta untuk bekerja. Bukan untuk berwisata. Kalaupun bisa disebut sebagai berwisata, paling banter ke sana hanya untuk melihat sunset. Read the rest of this entry

Standard

Saya menemukan tulisan saya satu setengah tahun yang lalu dan berpikir tulisan ini barangkali masih relevant untuk saya post kembali.

nimadesriandani

Catatan dari Sebuah Dinding Sekolah

 

 


Tadi pagi saya ke sekolah anak saya untuk mengambil rapot. Sambil menunggu giliran berkonsultasi dengan guru atas perkembangan kemampuan akademis anak saya, maka saya melihat-lihat dinding kelas, tulisan dan hiasan-hiasannya. Entah kenapa semua itu membuat pikiran saya melayang ke masa berpuluh puluh tahun silam saat saya masih di bangku Sekolah Dasar.

Pada sebuah dinding kelas saya dulu, terpampang  tulisan tangan  guru saya yang berbunyi  “Pikir Itu Pelita Hati”. Saya masih ingat betapa indahnya tulisan tangan guru saya itu. Dan saya juga masih ingat guru saya menjelaskan kepada saya  bahwa makna dari gurindam tua itu  adalah “ Jika pelita itu padam, maka gelap gulitalah hati kita”. Artinya, setiap kali jika kita ingin melakukan suatu perbuatan, hendaknya kita pikirkan terlebih dahulu dengan matang-matang segala dampak baik dan buruknya, agar kita tidak terjebak dalam perangkap kegelapan.

Mengingat itu, tiba tiba saya terkenang akan semua…

View original post 252 more words

Jogjakarta: Ginger And Javanese Massage.

Standard

air jahe

Salah satu hal yang membuat saya selalu bangga akan tanah air adalah kebudayaannya yang kaya raya.  Tentu saja pada awalnya saya tidak terlalu  memperhatikan dan menghargainya. Semuanya terlihat seperti hal sehari-hari  yang terabaikan dari  pemikiran. Terlalu biasa dan tak ada yang tampak istimewa.Setelah beranjak dewasa dan mendapatkan kesempatan untuk melihat-lihat bagian lain dari dunia ini, barulah  saya menyadari betapa kayanya Indonesia. Betapa beragamnya budaya,adat, kebiasaan,kesenian, makanan dan sebagainya  yang bisa disajikan oleh berbagai suku yang ada di Indonesia. Sejak saat itu, saya mulai lebih menghayati setiap pengalaman yang saya dapatkan dari setiap kunjungan saya ke setiap sudut tanah air. Read the rest of this entry

Menjadi Ibu Bagi Anak ABG.

Standard

Tempat Perhiasan Dari jogja

Beberapa hari yang lalu anak saya mengikuti Study Tour ke Jogjakarta. Subuh-subuh ia berangkat dengan menumpang bus rombongan yang disediakan sekolahnya. Sebenarnya bukan sebuah peristiwa yang aneh. Setiap anak, pastinya suatu saat akan ikut Study Tour yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh saya juga melakukan hal yang sama semasa kecil dulu. Namun entah kenapa, yang namanya seorang ibu, selalu saja was-was memikirkan keselamatan anaknya.

Saya memastikan semua keperluannya terbawa dengan baik. Saya melarang ia membawa barang-barang yang kurang bermanfaat agar tidak terlalu berat. Saya juga memintanya berhati-hati dan menjaga dengan baik  barang bawaannya agar jangan ketinggalan. Salah satunya adalah buku tentang burung yang  saya dapatkan dari Inggris. Sebenarnya saya pikir kurang ada gunanya ia bawa ke sana. Tapi karena ia memaksa akan membacanya untuk membunuh waktu dalam perjalanan, akhirnya saya ijinkan juga asal dijaga dengan baik. Lalu saya juga sempat menelponnya dua kali selama perjalanan untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Namun beberapa saat  kemudian, setelah jam makan siang, signal telpon anak saya terputus. Sayapun mulai agak gelisah.

Kebetulan saat yang sama saya juga ada urusan kantor yang harus saya selesaikan di Jogjakarta. Saya berangkat sore dan tiba di Jogja dalam sejam. Saya coba telpon anak saya, namun belum bisa tersambung lagi.  Apakah ia sudah sampai di Jogja? Apakah ia sudah makan malam? Alangkah sedihnya.

Semakin sedih lagi jika saya bandingkan dengan keadaan saya. Anak saya berangkat dengan naik bus, sementara saya naik pesawat. Anak saya menginap di hotel ala kadarnya, sementara saya menginap di hotel berbintang lima.Tentu saja semua karena fasilitas kantor yang saya terima. Namun akhirnya saya pikir-pikir kembali, memang sebaiknya ia  menjalani kehidupan ini apa adanya. Tanpa perlu saya manjakan secara berlebihan.Dengan demikian ia akan tumbuh dengan normal seperti seharusnya.

Setelah mencoba menelpon beberapa kali tanpa hasil, akhirnya pada pukul sembilan malam saya berhasil tersambung dengan anak saya.  Ia sudah sampai dengan selamat di hotel dan kelihatan sangat menikmati perjalanannya dengan bis dan kebersamaannya dengan teman-teman sekolahnya. Ia juga sudah selesai makan malam. Namun yang cukup mengejutkan bagi saya adalah pertanyaan anak saya “Why do you keep calling me? What’s wrong?” tanyanya. Uups!. Sebenarnya agak sedikit kurang sopan pada orangtuanya, namun saya menghargainya karena ia berterus terang dengan pikirannya. Saya mulai berpikir, barangkali karena ia mulai besar sekarang. Dan anak laki mungkin malu jika teman-temannya tahu bahwa ibunya terlalu mengkhawatirkannya. Okey,akhirnya saya berhenti menelponnya.

Malam harinya, saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Kalau di rumah, ia sering asyik dengan laptopnya hingga larut malam, sehingga harus digubrak-gubrakin dulu baru mau berhenti,mandi dan tidur. Khawatir teman sekamarnya mendengar dan meledeknya sebagai “anak mami”, akhirnya saya kirimkan pesan saja kepadanya  agar jangan lupa mandi sebelum ketiduran. Yang dijawabnya pendek “Okay”.  Lalu saya teringat kembali bahwa ia sangat sulit bangun pagi. Biasanya saya membutuhkan waktu  5-10 menit di pagi hari hanya untuk membangunkannya. Jadi saya kirimkan pesan lagi agar jangan lupa menyalakan alarm pagi agar ia tidak ketinggalan acara gara-gara bangun kesiangan. Kali ini ia menjawab dengan panjang “ I’m 12 years old.I can handle myself. So don’t worry. By the way your book is 100% save (maksudnya safe – salah ketik) and secure”. Tentu saja saya terkejut bukan alang kepalang oleh jawabannya. Ada tiga butir pelajaran yang bisa saya petik di sini.

Pertama bahwa anak saya telah tumbuh menjadi ABG, yang mulai mencari jati dirinya sendiri. Ia mampu mengekspresikan dengan kuat segala pikiran, pendapat dan apa yang diinginkannya – yang mana itu merupakan hal yang baik bagi pertumbuhannya. Ia juga mulai terlihat ‘aware’ akan lingkungannya dan citra dirinya di mata teman-temannya.

Kedua,sebagai ibu seharusnya saya menyadari perubahan itu. Dan juga sebaiknya segera melakukan perubahan dalam menanganinya. Tentu saja saya tidak bisa lagi menanganinya sebagaimana saya menangani seorang anak TK yang masih cengeng dan perlu banyak bantuan. Sekarang ia sudah besar dan mandiri.

Ketiga, saya harus meluruskan hal-hal yang berpotensi kurang baik ke depannya.Meluruskan persepsi yang salah bahwa saya menelponnya karena urusan materi. Lebih mengkhawatirkan buku saya ketimbang anak saya. Tentu saja tidak. I keep calling you because I love you!.Not because I love the book more…Aduuh..gimana sih?Saya ingin ia tetap merasakan cinta,kehangatan kasih sayang dan perhatian saya  melebihi apapun di dunia ini.

Memikirkan itu, akhirnya sayapun berusaha keras menahan diri saya untuk tidak selalu menghubunginya. Mungkin ia membutuhkan privacy. Mungkin ia membutuhkan saat-saat dimana ia bisa sendiri tanpa campur tangan orangtuanya. Mungkin ia ingin memperlihatkan kepada teman-teman dan gurunya, bahwa ia telah dewasa.  Dan sayapun tidak ingin mengganggu kebahagiaan anak saya. Namun saya selalu memanjatkan doa terbaik saya untuknya. I stop calling you, also because I love you…

Sepulangnya dari Jogja, anak saya segera menghambur ke dalam pelukan saya. Wajahnya sangat bahagia.  Dengan mata berbinar-binar ia menunjukkan oleh-olehnya  dari Jogja –  sebuak kotak perhiasan terbuat dari batu marmer untuk saya. Rupanya ia mengirit-irit uang jajannya, demi bisa membelikan saya oleh-oleh.  Ya..ampuuun!. “Love you, mom. Thanks for understanding” katanya sambil menciumi pipi saya. Saya merasa sangat terharu oleh kalimatnya.

Setiap orang berkata bahwa hidup itu penuh dengan perubahan. Dan tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Demikian juga dunia saya sebagai seorang ibu. Juga mengalami perubahan. Anak-anak tumbuh menjadi ABG, tentunya mengalami perubahan fase dan membutuhkan perubahan dalam cara menyayanginya tanpa harus kehilangan intisari dari kasih sayang itu sendiri. Mungkin demikian juga yang dirasakan oleh ibu saya ketika saya meningkat remaja, dan tumbuh menjadi seorang pemberontak di dalam keluarga. Namun ibu saya selalu menyanyangi saya anaknya, melebihi apapun di duia ini. Saya mendongakkan wajah saya ke langit.  Berdoa untuk kebahagiaan ibu saya di alam sana.

Selamat Hari Ibu..

Women Talk More Than Men?

Standard

BBM

Saya sering mendengar bahwa wanita berbicara lebih banyak daripada pria.  Saya tidak terlalu yakin dengan pendapat itu. Barangkali karena saat jaman kuliah 85% teman saya adalah anak laki-laki. Teman wanita termasuk mahluk langka di fakultas Kedokteran Hewan yang didominasi oleh para pria itu. Bergaul dengan mereka, berdiskusi dengan mereka, berbagi pekerjaan, tugas,kesulitan, makanan  dan sebagainya. Bahkan menggelandang ke berbagai tempatpun dengan mereka. Jadi walaupun ada sedikit perbedaan, saya pikir dunia saya sangat serupa dengan dunia para teman-teman pria saya. Teman-teman pria saya berbicara sama banyaknya dengan saya.  Beberapa diantaranya bahkan berbicara lebih banyak daripada saya. Namun tentu saja saya tidak pernah melakukan pencatatan ilmiah tentang ini. Namun setidaknya itulah yang menyebabkan saya tak begitu yakin dengan pendapat umum bahwa wanita berbicara jauh lebih banyak daripada pria.Hingga beberapa hari yang lalu.

Saat itu saya sedang melihat kembali percakapan saya dengan suami di message sebuah telpon genggam. Barulah saya sadari bahwa ternyata suami saya sangat sedikit berbicara. Saya menulis, bercerita tentang kelakuan anak saya yang lucu “ Bla bla bla…dst (14 kata)”. Suami saya membalas dengan satu emoticon tertawa.

Lalu saya menulis lagi “Bla bla bla bla…dst (19 kata)” Suami saya membalas dengan dua emoticon tertawa (satu tertawa datar, satunya lagi tertawa miring).

Lalu saya menulis lagi. Kali ini dua  point – satu kesimpulan tentang anak saya dan satunya lagi informasi mengenai jam ketibaan saya di bandara.”Bla bla bla…dan bla bla..(total 21 kata) “ suami saya menjawab “Oke, Ma”.

Wah, betapa iritnya ia dengan kata-kata. Saya belum pernah menyadari sebelumnya.

Karena penasaran, lalu sayapun memeriksa kembali percakapan-percakapan sebelumnya yang belum sempat saya hapus. Ternyata memang selalu serupa itu. Saya bercerita banyak tentang apa saja kepadanya. Sementara  suami saya menanggapinya hanya dengan satu-dua kata. Maksimal 30% dari jumlah kata –kata yang saya keluarkan. Dan anehnya sayapun tidak pernah terganggu dengan kebiasaan irit kata-katanya itu. Barangkali karena saya tidak menyadarinya.Atau barangkali karena terkadang ia melemparkan emoticon senyum, tertawa, jempol, kiss, hug dan sebagainya sebagai representasi emosinya. Sehingga saya cukup terhibur juga.

Gara-gara melihat itu, akhirnya saya memeriksa kembali semua percakapan-percakapan saya dengan para pria di daftar kontak saya – anak saya, saudara, sepupu, sahabat dan teman-teman pria saya. Walaupun score-nya tidak separah suami saya, ternyata mereka serupa juga. Rata-rata hanya menulis kata sebanyak 30-50% saja dari jumlah kata yang saya tulis. Hanya ada satu-dua saja yang  kadang menulis agak panjang. Ada yang memang kebetulan suka ngobrol dan ada juga karena memberikan penjelasan teknis kepada saya. Waduuuh!!.

Sekarang sangat sulit bagi saya untuk tidak mempercayai apa kata orang bahwa wanita berbicara lebih banyak dari pria.

Mendampingi Anak-Anak: Melihat Burung Macaw.

Standard

Macaw Bird

Liburan akhir tahun akan segera tiba. Salah satu hal menyenangkan untuk dilakukan bersama anak-anak adalah berjalan-jalan ke Taman Hiburan. Banyak yang bisa dilakukan di sana. Menikmati berbagai jenis wahana permainan, restaurant, attraksi menarik dan sebagainya. Walaupun bukan kebun binatang,  kadang-kadang ada juga  taman hiburan yang memelihara berbagai jenis burung   dan menyedot perhatian anak-anak. Salah satunya adalah Burung Macaw. Barangkali karena warnanya yang sangat ngejreng cemerlang dan kemampuannya berbicara.

Melihat burung meriah ini, tentu saja anak-anak akan sangat bersemangat,  berceloteh dan bertanya seputaran burung itu kepada kita. Sebagai orang tua, ada baiknya kita memberikan informasi yang memadai untuk memenuhi keingin-tahuannya.

Warna-Warni Cerah Yang Menstimulasi.

Macaw Bird4

Burung Macaw Biru Dada Kuning (Ara ararauna) memiliki penampilan yang luarbiasa cantik. Bagian bawah tubuhnya (dada, ekor) didominasi oleh warna kuning cemerlang yang sangat kontras dengan bagian atasnya (sayap,punggung, ekor) yang didominasi oleh warna biru terang. Sehingga sepintas lalu, burung ini terlihat hanya berwarna Kuning dan Biru saja. Namun sebenarnya  masih ada warna lain juga yang menghias burung ini. Bagian dahi  burung ini berwarna kehijauan. Wajahnya berwarna putih dengan garis-garis hitam mirip Zebra. Lehernya berwarna hitam dan paruhnya sendiri  juga berwarna hitam. Anak-anak biasanya akan cenderung mendekat karena tertarik akan warna-warni tubuh burung ini. Sebenarnya, masih ada lagi jenis burung Macaw  yang berwarna lain. Misalnya Macaw Merah Sayap Hijau, Macaw Scarlet atau Macaw yang berwarna Biru penuh.

Warna-warni yang cerah pada sayap burung ini menstimulasi bola mata anak untuk lebih aktif mengirimkan sinyal-sinyal ke otaknya, sehingga anak-anak akan lebih cepat mengenal dan mengidentifikasi warna. Warna cerah juga cenderung menstimulasi perasaan riang, sehingga mengajaknya mendekati burung ini, cukup membantu untuk membujuk anak yang rewel agar lebih tenang. Selain itu, kombinasi warna yang menarik juga melatih otot-otot mata untuk berkoordinasi dengan baik. Secara umum, tidak ada salahnya mengijinkan anak-anak mendekat.

Mengindarkan Anak Dari Patokan Dan Cakaran Macaw. 

Macaw Bird3

Pada dasarnya Macaw adalah burung yang  cukup bersahabat. Namun tergantung umur anak, sebaiknya kita juga tetap perlu mendampinginya. Apalagi mengingat bahwa tubuh burung ini berukuran besar,  sekitar 75 – 83 cm.  Dengan paruh tebal yang bengkok dan cakar yang kuat untuk berpegangan pada ranting ataupun dahan pohon.  Balita sebaiknya jangan dibawa terlalu dekat dengan Macaw. Namun anak-anak yang umurnya lebih besar tentu tidak bermasalah jika mendekat dan didampingi.

Anak-anak sebaiknya diajarkan untuk bersikap tenang dan sopan. Jangan biarkan anak-anak melempari burung dengan batu atau benda-benda lainnya. Karena perbuatan itu, selain akan menyakiti burung juga akan membuat burung ini menjadi marah dan berusaha melindungi dirinya dengan mematok anak dengan aggresive.

 Terkadang  atas keinginannya sendiri ataupun atas bujukan tukang foto keliling, anak-anak ingin berfoto dengan burung Macaw bertengger di kepalanya, di pundaknya maupun di lengannya. Dalam hal ini kita perlu berhati-hati dan mempertimbangkan umur, kesiapan fisik dan mental anak. Perhatikan cakar burung ini dan kukunya. Serta bandingkan dengan ukuran lengan anak kita. Jika terlalu kecil, sebaiknya jangan diijinkan. Yang jelas burung ini pasti berat (900 gram – 1.5 kg) dan mencengkeram dengan cukup kuat. Namun anak-anak di atas sepuluh tahun yang menjelang remaja, mungkin sudah cukup kuat menahan beban dan cengkraman burung ini. Jadi tidak ada salahnya mengijinkannya bergaya dengan Macaw.

 Bolehkah memberikan makanan pada Macaw?

Macaw Bird1

Umumnya, pihak pengelola taman hiburan tidak mengijinkan pengunjung memberikan makanan pada binatang peliharaan yang ada di sana, termasuk burung. Alasannya adalah untuk menghindarkan burung agar jangan sakit akibat mengkonsumsi makanan yang tidak diperiksa kecocokan dan kebersihannya yang diberikan oleh pengunjung. Jadi sebaiknya kita jangan membiarkan anak memberikan makanan pada Macaw.

Namun beberapa taman hiburan ada juga yang memperbolehkan. Seperti halnya burung-burung berparuh bengkok lainnya,Burung Macaw Biru Dada Kuning adalah pemakan biji-bijian, buah-buahan dan kacang-kacangan. Pastikan bahwa makanan yang diberikan berada dalam kondisi yang baik, bersih dan sesuai dengan yang biasa dimakan oleh burung itu. Jangan pernah memberikan biji kopi ataupun coklat kepada burung ini, karena bisa sangat berbahaya bagi kesehatannya.

Beberapa Informasi Lain

Selain hal-hal diatas, sebaiknya kita juga perlu mengetahui beberapa informasi tambahan mengenai burung ini, yang berguna dalam melakukan pendampingan terhadap anak.

Macaw Bird6

Habitat Asal.

Macaw  Biru Dada Kuning, adalah salah satu burung asli dari Amerika Selatan. Burung ini menyebar mulai dari daerah Panama Barat, Colombia Selatan, Amazone, Brazil bagian tenggara, Bolivia, Equador, Peru,Paraguay. Tentu saja di Indonesia kita hanya bisa melihatnya terbatas di Kebun Binatang ataupun di tempat hiburan.  Di habitat aslinya,burung ini adalah penghuni puncak-puncak pohon di hutan-hutan Amazone. Biasanya hidup berkelompok maupun berpasangan. Oleh karenanya, tempat hiburan yang memelihara burung ini, idealnya memiliki pohon-pohon besar dalam jumlah yang cukup di sekitarnya guna menghindarkan burung ini dari keterasingan.

 Status Kepunahan.

Burung ini mengalami penurunan jumlah populasi yang sangat drastis dengan kecepatan di atas 10% per tahunnya. Tentu saja penangkapan dan perdagangan yang menjadi salah satu sebab musababnya. Sayangnya tidak diketahui dengan persis berapa jumlah sisa populasinya pada saat ini.

BirdBurung Yang Sakit.

Sebenarnya secara umum penyakit burung tidak menular pada manusia dan sebaliknya, namun tetap saja ada satu dua jenis penyakit yang berpotensi ‘zoonosis’ (menular dari binatang ke manusia dan sebaliknya). Walaupun demikian ada baiknya sebagai orang tua, kita berhati-hati juga.

1/.Jangan membawa anak yang sakit mendekati Macaw.

2/. Jangan membiarkan anak mendekati Macaw yang sakit.

Sebelum anak-anak mendekat, perhatikan gejala-gejala yang mungkin ada misalnya, mata burung yang selalu menutup, bengkak  atau berair; nafas yang terlihat tersengal, tampak menggigil atau keluar lendir dari paruhnya. Jika melihat ini, sebaiknya anak dihindarkan untuk mendekat.

Ada beberapa jenis penyakit yang umumnya menyerang jenis burung ini. Misalnya penyakit Psittacosis yang disebabkan oleh jenis bakteri Chlamidia, Infeksi Sinus yang kronis, Psittacine Beak & Feather Disesase,dan sebagainya.  Namun jangan terlalu khawatir, jika memang burung itu sakit, tentunya pihak taman hiburan akan segera menarik burung itu dari jangkauan umum dan membawanya ke dokter hewan setempat.

Menulislah! Inspirasi Akan Menyusul.

Standard

Menulis

Akibat kesibukan pekerjaan yang meningkat tajam belakangan ini, sudah beberapa hari saya tidak sempat menulis. Bahkan hanya sekedar menengok blog dan membaca komentar teman-temanpun jarang bisa saya lakukan. Maka setelah kesibukan sedikit mereda, walaupun masih banyak juga, sayapun berniat hendak menulis lagi. Sepulang dari kantor, sehabis membersihkan diri  saya segera duduk di depan komputer. Siap menulis!!. Read the rest of this entry