Maldives : The More Pampering Side.

Standard

Maldives -Anantara

Daripada hanya bengong di Maafushi, Ibrahim menceritakan beberapa hal yang bisa kami lakukan  untuk mengisi liburan. Misalnya kita bisa  menikmati tamasya  bawah laut dengan kapal Submarine terbesar di dunia. Kelihatannya menarik juga sih. Lalu Resort-resort mewah papan atas yang bertebaran Maldives.  Atau bermain ke Pulau Biyaadhoo yang hijau menikmati restaurant dan spa yang ada di situ dengan entry fee yang lebih murah. Atau Pulau  Fihaalhohi, Kandooma, Maadhoofinolhu dan sebagainya. Tentunya dengan fee yang beragam.

Lalu ada juga diceritakan kepada saya sebuah tempat menarik berupa pulau pasir tak berpenghuni yang disebut Furafathi– hanya pasir tok, tak ada sebatang pohonpun yang hidup di situ. Hanya pasir super putih dan laut yang sebening kristal.  Atau bisa juga kita memilih aktifitas Snorkeling ataupun olahraga air seperti Windsurfing,  Waterskiing, Jet skiing, Speed boating, Banana boats, Kayak, Surfing dan sebagainya. Atau ikut Sunset Cruise dan menonton lumba-lumba, Night Fishing , Diving, mengamati ikan  hiu, ikan pari raksasa. Atau hanya sekedar mendengarkan musik tradisional Boduberu  atau beach dinner.Wah.. banyak ya!.

Sebenarnya saya lebih suka hanya melihat-lihat  ikan, kulit kerang dan kelomang ataupun mengamat-amati burung-burung laut. Saya lebih menyukai alam. Kedamaian di pulau-pulau yang masih alami. Dan saya sedang tidak ingin melakukan perjalanan berlama-lama dengan speedboat. Namun kedua teman saya berpikir mungkin ada baiknya kami menikmati sesuatu yang lebih ‘pampering’misalnya menikmati spa, restaurant yang lebih baik, kolam renang yang nyambung ke laut dan sebagainya, yang disediakan oleh hotel/resort yang lebih berkelas. Yang sebenarnya itulah yang dicari setiap orang ketika pergi ke Maldives.  “Kan sudah jauh-jauh ke Maldives… ” katanya membujuk. Akhirnya, sebagai yang paling tua, sayapun mengalah. Lagipula saya hanya seorang diri, sedangkan teman saya berdua. Tentu saja saya kalah suara. Setelah memperhitungkan jarak tempuhnya dengan speedboat,  dan mempertimbangkan costnya, kami memilih sebuah resort yang letaknya tidak jauh dari Maafushi yakni Anantara Digu Resort & Spa. Agak mahal memang, tapi yah..saya menghibur diri saya bahwa tidak setiap hari saya menghamburkan uang seperti ini.

Kamipun berangkat ke sana keesokan harinya dengan diantar oleh Mohamed dan Ahmed. Laut sangat tenang dan indah. Hanya sekitar 10menit perjalanan. Sebenarnya nama pulaunya adalah Digu. Di sana hanya ada sebuah Resort tunggal yang bernama Anantara. Di Maldives, banyak sekali pulau-pulau kecil yang  keseluruhan pulau itu ya isinya cuma Hotel/resort tok. Kalau di Indonesia barangkali serupa dengan Pulau Ayer di kepulauan Seribu dan sebagainya.

Setibanya di dermaga hotel itu yang sedikit menjorok ke laut, kami melihat pertunjukan musik drum traditional yang digunakan untuk menyambut kedatangan tamu. Senang sekali melihat para pemain drum itu memainkan musiknya di bawah matahari di atas laut. Angin bertiup nyaman, air laut sangat bening seperti kristal yang berkilau penuh dengan ikan-ikan hingga ke pantainya yang putih bersih.  Pulau Digu yang luar biasa indah.

Pemandangan di pulau ini persis seperti yang biasa kita lihat di artikel-artikel ataupun iklan tentang Maldives. Pulau kecil dengan pasir super putih, air yang super bening seperti kristal, lalu laut yang bergradasi dari biru muda kehijauan lalu bergradasi  ke biru tua. Kolam renang di tepi laut. Dan Hammock alias tempat tidur gantung yang diikatkan kuat di dua tiang pancang di tengah laut. Yeah..persis seperti yang pernah saya lihat di iklan. Kamipun segera meregister diri dan mulai menikmati fasilitas yang ada di sana.

Tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya saya cuma duduk-duduk memandang laut, makan dan minum juice saja. Memang ada juga  kami berkunjung ke sport center dan spa.Teman saya sibuk  berenang dan berpose dengan latar belakang resort itu. Sementara saya lebih tertarik mengambil foto-foto alam sekitar dengan kamera saya.

Sementara teman-teman saya sibuk berpose dengan latar belakang laut biru dan pasir yang super putih, saya menemukan seekor burung ayam-ayam (White breasted water hen; Amaurornis phoenicusrus) di semak-semak yang sengaja dibiarkan tumbuh teratur di pulau itu. Kalau di Bali, burung itu biasanya disebut sebagai Kedis Terkuak – meniru suaranyanya yang ribut ’ terkwak-kwak-kwak’. Banyak bisa kita temukan di bantaran sungai di dekat sawah. Burung ini juga banyak terdapat di bantaran kali di  belakang rumah saya di Jakarta. Terkadang pada akhir pekan, saya sengaja berjalan-jalan ke pinggir kali untuk  menikmati suaranya yang ramai. Nah yang mencengangkan bagi saya, adalah mengetahui bahwa penyebaran habitat burung-burung yang banyak di Indonesia ini ternyata  sangat luas hingga ke Maldives.

Hal menarik lainnya adalah,selain bungallow yang ada di darat, banyak  juga kamar-kamar yang dirancang berdiri dengan tiang-tiang pancang hingga ke tengah laut. Design dan arsiteknya mengadaptasi design lokal. Dengan bentuk atap  mirip kerucut terbuat dari alang-alang.  Demikian juga bangunan spanya.  Lantainya terbuat dari kayu. Dan ketika kami memasuki ruangan itu, kami harus melepas alas kaki.  Sangat menyenangkan suasananya. Dan di spa itu ternyata kami bertemu dengan dua orang karyawan yang berasal dari Indonesia. Yang satu berasal dari Jakarta, dan yang satunya lagi berasal dari Kupang. Sambil menikmati air jahe segar yang disuguhkan, sayapun ngobrol dengan mereka. Menurutnya, ada ribuan orang dari Indonesia yang bekerja di hotel-hotel dan resort yang bertebaran di Maldives. Kebanyakan  terserap di sektor Spa.

Maldives! Rupanya bukan saja memiliki daya tarik  yang tinggi sebagai tempat untuk berwisata, namun juga sebagai tempat untuk mencari nafkah…

14 responses »

    • Kalau Spa, menurut saya mendingan kita di sini deh. Soalnya toh yang menjadi therapistnya di sana juga kebanyakan orang Indonesia atau Thai..he he.. Jenis therapynya juga serupa kok dengan yang di Indonesia (bali, jawa dsb)-
      Harganya saya lihat di daftar bervariasi tergantung dari jenis spa/therapy yang diambil mulai dari US$ 65 sampai US$550. Jadi kalau 1 US$ = 9000 sampai 9 500 rupiah ya…kira-kira kalau diduitkan jadi rupiah antara Rp 600 ribu sampai Rp 5 jt kali ya.. he he..

  1. Pingback: Dunia Pinggir Kali III: Mengajak Anak Mengamati Burung Terkwak. | nimadesriandani

  2. Mbak, kalau di maldives makanannya gimana? Apa cuma ada di hotel2nya aja? Kisaran harganya brp? Saya pengeen banget kesana, lg ngumpulin literatur sebanyak2nya nih.. terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s