Jogjakarta: Ginger And Javanese Massage.

Standard

air jahe

Salah satu hal yang membuat saya selalu bangga akan tanah air adalah kebudayaannya yang kaya raya.  Tentu saja pada awalnya saya tidak terlalu  memperhatikan dan menghargainya. Semuanya terlihat seperti hal sehari-hari  yang terabaikan dari  pemikiran. Terlalu biasa dan tak ada yang tampak istimewa.Setelah beranjak dewasa dan mendapatkan kesempatan untuk melihat-lihat bagian lain dari dunia ini, barulah  saya menyadari betapa kayanya Indonesia. Betapa beragamnya budaya,adat, kebiasaan,kesenian, makanan dan sebagainya  yang bisa disajikan oleh berbagai suku yang ada di Indonesia. Sejak saat itu, saya mulai lebih menghayati setiap pengalaman yang saya dapatkan dari setiap kunjungan saya ke setiap sudut tanah air.

Dalam kunjungan saya yang sangat singkat ke Jogja, sebenarnya nyaris-nyaris saya tidak bisa mengalami apa-apa yang namanya “Jogjakarta” hanya dari bandara-hotel-bandara lagi. Semua urusan saya bereskan di hotel tempat saya menginap. Tidak ada acara jalan-jalan atau melihat-lihat. Apalagi belanja –belanja.  Namun karena kebetulan malam itu saya tidak terlalu sehat dan masuk angin, maka saya memutuskan untuk datang ke Spa yang berlokasi di lantai lain hotel itu juga.

Tentu saja yang namanya Spa, ada berbagai treatment yang ditawarkan. Sebenarnya saya hanya ingin dipijit di punggung saya saja. Karena punggung saya terasa sakit dan tidak nyaman. Namun begitu melihat Javanese Traditional Massage di dalam list,maka sayapun ingin mencoba. Selagi berada di Jogjakarta. Begitu  duduk, saya disuguhi air jahe yang hangat. A warming drink!. Minuman tradisional yang sangat pas untuk kondisi tubuh saya saat itu.

Jahe atau ginger, sebagaimana kita ketahui merupakan bahan tradisional yang sangat umum digunakan untuk membantu mengatasi masuk angin, mual-mual, sakit kepala, mencegah flu dan mengatasi kedinginan. Dan memang terbukti memberikan efek yang nyata. Dalam waktu beberapa menit saja, badan saya langsung terasa hangat. Rasa kembung dan masuk angin saya berkurang.

Seorang therapist lalu datang menghampiri saya dan mempersilakan saya masuk ke dalam ruangan massage.  Design interior ruangan itu sangat Jawa. Demikian juga musik latarbelakang yang digunakan, adalah musik tradisional jawa yang sangat mendayu, menenangkan dan melelapkan.

Rangkaian treatment dimulai dengan acara pembasuhan kaki yang dilakukan beberapa menit dengan sangat hati-hati dan khidmat oleh therapist itu. Aduuuh..saya sebenarnya merasa agak risih diperlakukan seperti itu. Tapi itu adalah standard perawatan yang mereka sajikan dalam paket itu. Air rendaman yang hangat yang barangkali ditetesi dengan essential oil atau garam (saya lupa bertanya), membuat kulit kaki saya mengembang dan terasa lembut. Sang therapist mengeringkannya dengan handuk kecil. Saya lalu menjelaskan bahwa saya tidak menyukai pijatan yang terlalu keras. Saya hanya mau  pijatan yang lembut namun di titik-titik otot yang  tepat.Sang therapist menangkap maksud saya. Sekarang saya siap untuk dimassage.

Seperti umumnya massage di salon atau spa-spa yang lain, pijatan dimulai dari telapak kaki dengan gerakan menekan dan mengurut. Tentunya dibantu dengan essential oil untuk menghindarkan iritasi karena gesekan pada kulit. Setelah usai dengan pijatan pada bagian tengah, bawah dan bagian telapak kaki yang paling banyak bersentuhan dengan sepatu, lalu sang therapist melanjutkan dengan pijatan pada masing-masing jari kaki dan bagian tumit. Terasa sekali tekanan pada tendon achiles yang barangkali terjadi akibat penggunaan sepatu hak tinggi yang lama.

Langkah berikutnya setelah telapak kaki, pijatan dan urut dilanjutkan ke bagian betis.  Di sini sang therapist juga melakukan tugasnya dengan baik. Ia bisa mengenali otot-otot dan syaraf-syaraf yang dekat dengan permukaan dengan baik. Demikian juga dengan paha, punggung, tangan dan leher. Semuanya dilakukan dengan tekanan yang pas dan arah urut yang sesuai. Saya meminta tolong agar sang therapist menambahkan frequensi urutan pada daerah punggung saya. Lalu head massage yang sangat relaxing sebelum sang therapist mempersilakan saya membersihkan diri. Sesi Javanese massage itu diakhiri kembali dengan minum air jahe hangat. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Badan saya terasa lebih hangat, segar dan ringan.

Sangat mengesankan karena ternyata therapist yang menangani saya ini memang sangat menguasai peta otot manusia dengan baik. Dalam hati saya berpikir. Jangan-jangan ia pernah belajar Anatomi manusia dan mendapat nilai A. Mungkin ia mengerti yang mana bernama musculus flexor digitorum brevis, yang mana  musculus extensor digitorum longus, yang  mana bernama nervus tibial plantar dan sebagainya.  Entahlah!. Saya sendiri sudah lupa!. Tersenyum sendiri akan imajinasi saya tentang keahlian anatomi ini. Mungkin saya sedikit agak lebay. Tapi sungguh! Therapist ini menurut saya sangat ahli. Sehingga keseluruhan Javanese Traditional Massage ini membuat saya menjadi sangat terkesan, walaupun kunjungan saya ke Jogjakarta kali ini hanya sebentar.

Yuk  kita main ke Jogjakarta!

4 responses »

  1. enaknya pijatan terapis yang ahli ya mbak…hilang deh capeknya
    saya suka dipijat bagian telapak kaki…suka minta berlama2 dipijay disitu..rasanya semua capek bisa hilang deh…sayangnya tak semua pemijat tahu titik2 yang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s