Menjadi Ibu Bagi Anak ABG.

Standard

Tempat Perhiasan Dari jogja

Beberapa hari yang lalu anak saya mengikuti Study Tour ke Jogjakarta. Subuh-subuh ia berangkat dengan menumpang bus rombongan yang disediakan sekolahnya. Sebenarnya bukan sebuah peristiwa yang aneh. Setiap anak, pastinya suatu saat akan ikut Study Tour yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh saya juga melakukan hal yang sama semasa kecil dulu. Namun entah kenapa, yang namanya seorang ibu, selalu saja was-was memikirkan keselamatan anaknya.

Saya memastikan semua keperluannya terbawa dengan baik. Saya melarang ia membawa barang-barang yang kurang bermanfaat agar tidak terlalu berat. Saya juga memintanya berhati-hati dan menjaga dengan baik  barang bawaannya agar jangan ketinggalan. Salah satunya adalah buku tentang burung yang  saya dapatkan dari Inggris. Sebenarnya saya pikir kurang ada gunanya ia bawa ke sana. Tapi karena ia memaksa akan membacanya untuk membunuh waktu dalam perjalanan, akhirnya saya ijinkan juga asal dijaga dengan baik. Lalu saya juga sempat menelponnya dua kali selama perjalanan untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Namun beberapa saat  kemudian, setelah jam makan siang, signal telpon anak saya terputus. Sayapun mulai agak gelisah.

Kebetulan saat yang sama saya juga ada urusan kantor yang harus saya selesaikan di Jogjakarta. Saya berangkat sore dan tiba di Jogja dalam sejam. Saya coba telpon anak saya, namun belum bisa tersambung lagi.  Apakah ia sudah sampai di Jogja? Apakah ia sudah makan malam? Alangkah sedihnya.

Semakin sedih lagi jika saya bandingkan dengan keadaan saya. Anak saya berangkat dengan naik bus, sementara saya naik pesawat. Anak saya menginap di hotel ala kadarnya, sementara saya menginap di hotel berbintang lima.Tentu saja semua karena fasilitas kantor yang saya terima. Namun akhirnya saya pikir-pikir kembali, memang sebaiknya ia  menjalani kehidupan ini apa adanya. Tanpa perlu saya manjakan secara berlebihan.Dengan demikian ia akan tumbuh dengan normal seperti seharusnya.

Setelah mencoba menelpon beberapa kali tanpa hasil, akhirnya pada pukul sembilan malam saya berhasil tersambung dengan anak saya.  Ia sudah sampai dengan selamat di hotel dan kelihatan sangat menikmati perjalanannya dengan bis dan kebersamaannya dengan teman-teman sekolahnya. Ia juga sudah selesai makan malam. Namun yang cukup mengejutkan bagi saya adalah pertanyaan anak saya “Why do you keep calling me? What’s wrong?” tanyanya. Uups!. Sebenarnya agak sedikit kurang sopan pada orangtuanya, namun saya menghargainya karena ia berterus terang dengan pikirannya. Saya mulai berpikir, barangkali karena ia mulai besar sekarang. Dan anak laki mungkin malu jika teman-temannya tahu bahwa ibunya terlalu mengkhawatirkannya. Okey,akhirnya saya berhenti menelponnya.

Malam harinya, saya tidak bisa berhenti memikirkannya. Kalau di rumah, ia sering asyik dengan laptopnya hingga larut malam, sehingga harus digubrak-gubrakin dulu baru mau berhenti,mandi dan tidur. Khawatir teman sekamarnya mendengar dan meledeknya sebagai “anak mami”, akhirnya saya kirimkan pesan saja kepadanya  agar jangan lupa mandi sebelum ketiduran. Yang dijawabnya pendek “Okay”.  Lalu saya teringat kembali bahwa ia sangat sulit bangun pagi. Biasanya saya membutuhkan waktu  5-10 menit di pagi hari hanya untuk membangunkannya. Jadi saya kirimkan pesan lagi agar jangan lupa menyalakan alarm pagi agar ia tidak ketinggalan acara gara-gara bangun kesiangan. Kali ini ia menjawab dengan panjang “ I’m 12 years old.I can handle myself. So don’t worry. By the way your book is 100% save (maksudnya safe – salah ketik) and secure”. Tentu saja saya terkejut bukan alang kepalang oleh jawabannya. Ada tiga butir pelajaran yang bisa saya petik di sini.

Pertama bahwa anak saya telah tumbuh menjadi ABG, yang mulai mencari jati dirinya sendiri. Ia mampu mengekspresikan dengan kuat segala pikiran, pendapat dan apa yang diinginkannya – yang mana itu merupakan hal yang baik bagi pertumbuhannya. Ia juga mulai terlihat ‘aware’ akan lingkungannya dan citra dirinya di mata teman-temannya.

Kedua,sebagai ibu seharusnya saya menyadari perubahan itu. Dan juga sebaiknya segera melakukan perubahan dalam menanganinya. Tentu saja saya tidak bisa lagi menanganinya sebagaimana saya menangani seorang anak TK yang masih cengeng dan perlu banyak bantuan. Sekarang ia sudah besar dan mandiri.

Ketiga, saya harus meluruskan hal-hal yang berpotensi kurang baik ke depannya.Meluruskan persepsi yang salah bahwa saya menelponnya karena urusan materi. Lebih mengkhawatirkan buku saya ketimbang anak saya. Tentu saja tidak. I keep calling you because I love you!.Not because I love the book more…Aduuh..gimana sih?Saya ingin ia tetap merasakan cinta,kehangatan kasih sayang dan perhatian saya  melebihi apapun di dunia ini.

Memikirkan itu, akhirnya sayapun berusaha keras menahan diri saya untuk tidak selalu menghubunginya. Mungkin ia membutuhkan privacy. Mungkin ia membutuhkan saat-saat dimana ia bisa sendiri tanpa campur tangan orangtuanya. Mungkin ia ingin memperlihatkan kepada teman-teman dan gurunya, bahwa ia telah dewasa.  Dan sayapun tidak ingin mengganggu kebahagiaan anak saya. Namun saya selalu memanjatkan doa terbaik saya untuknya. I stop calling you, also because I love you…

Sepulangnya dari Jogja, anak saya segera menghambur ke dalam pelukan saya. Wajahnya sangat bahagia.  Dengan mata berbinar-binar ia menunjukkan oleh-olehnya  dari Jogja –  sebuak kotak perhiasan terbuat dari batu marmer untuk saya. Rupanya ia mengirit-irit uang jajannya, demi bisa membelikan saya oleh-oleh.  Ya..ampuuun!. “Love you, mom. Thanks for understanding” katanya sambil menciumi pipi saya. Saya merasa sangat terharu oleh kalimatnya.

Setiap orang berkata bahwa hidup itu penuh dengan perubahan. Dan tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Demikian juga dunia saya sebagai seorang ibu. Juga mengalami perubahan. Anak-anak tumbuh menjadi ABG, tentunya mengalami perubahan fase dan membutuhkan perubahan dalam cara menyayanginya tanpa harus kehilangan intisari dari kasih sayang itu sendiri. Mungkin demikian juga yang dirasakan oleh ibu saya ketika saya meningkat remaja, dan tumbuh menjadi seorang pemberontak di dalam keluarga. Namun ibu saya selalu menyanyangi saya anaknya, melebihi apapun di duia ini. Saya mendongakkan wajah saya ke langit.  Berdoa untuk kebahagiaan ibu saya di alam sana.

Selamat Hari Ibu..

17 responses »

  1. Bahagia sekaligus haru menyertai perkembangan Andrei yang kini ABG ya Jeng Ade. … I stop calling you, also because I love you… belajar dari tips ini, kadang refleks aja sering tilp padahal anak2 sedang belajar bekerja belajar menjadi dewasa hehe.
    Selamat Hari Ibu ya Jeng, ibu kebanggaan Andrei dan Aldo juga ibu bagi pembelajar marketing …. Salam

  2. Heee mbok dek..apa yang terjadi hampir sama yang pernah saya lakukan kepada Ayah saya…jadi teringat masa lalu heee…saya pernah marah sama bapak, karena terlalu mencemaskan saya waktu saya berangkat pertandingan IPSI di Surabaya…di suruh bawa minyak ini minyak itu…kalau sakit begini begitu, niatannya memang baik…tapi karena saya masih labil, saya menganggap hal itu berlebihan dengan usia saya yang sudah 15 tahun…Sepulang dari pertandingan saya persembahkan piala itu buat ayah…dan saya simpan di kamar Ayah heeeee

  3. jadi ingat lagi Kahli Gibran bahwa anakmu bukan lah anak. mereka adalah anak kebebasan. sekalipun pahit kita harus menerimanya Mbak Dani. bentar lagi mereka akan merasa lbh tahu dari kita dan gak sabaran melihat cara berpikir kita. sejarah berulangkrn dulu begitu pulayg sayalakukan. met hari ibu Mbak🙂

  4. anak usia segitu kelihatannya sudah sangat peka ya. ketika mamanya menunjukkan pengertian, dia pun gak lupa membelikan oleh2. setiap tahapan usia jadi petualangan baru bagi orangtua. (kayak yang udah punya anak aja😛 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s