Indahnya Keberagaman Di Nusa Damai. Selamat Hari Natal, Saudaraku!

Standard

Selamat Hari Raya NatalSuatu siang, sehari menjelang Natal. Saya ke toko roti untuk membeli kue-kue. Banyak sekali tersedia paket-paket bingkisan Natal. Dengan harga yang beragam. Orang-orang pun ramai mengantri. Saya tidak merayakan Natal. Tapi saya merasa perlu untuk membeli kue-kue buat  bingkisan Natal bagi beberapa sahabat saya yang merayakannya. Terutama bagi sahabat yang setiap tahunnya juga mengirimkan bingkisan kepada keluarga saya saat kami merayakan hari raya.

Dua orang wanita berjilbab menyeruak di antara antrian. Seorang bertanya kepada kasir, apakah masih memiliki stock bingkisan seperti yang ia pegang. Sayapun minggir. Kasir berkata masih ada dan bertanya, berapa banyak yang ia butuhkan.Wanita itu menjawab bahwa ia masih membutuhkan 7 buah lagi bingkisan yang sama. Seorang pelayan toko membantu mereka menyiapkan bingkisan. Sambil tetap menunggu antrian kasir, pikiran saya melayang ke masa kanak-kanak saya saat di Bali.

Saya tumbuh dan besar di sebuah kota kecil di tengah-tengah pulau dewata. Rumah saya berada di lingkungan  yang dekat dengan rumah-rumah dinas dan asrama polisi. Dimana para penghuni asrama dan rumah dinas jabatan itu, banyak yang merupakan pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Dan sebagai keluarga penduduk asli, tentunya para tetangga kami yang pendatang itu selalu menjadikan rumah keluarga saya sebagai basis permintaan tolong terdekat pada jaman itu.  Misalnya – butuh kelapa, biasanya tinggal memetik dari halaman rumah saya. Butuh bambu, biasanya bapak saya tinggal menebangkannya dari halaman belakang. Butuh cabe, butuh bunga,butuh ini, butuh itu, minta tolong ini, minta tolong itu – kalau kami punya, biasanya mereka bisa mendapatkannya saat itu juga. Tentu saja semuanya dengan gratis. Bahkan bapak dan ibu saya selalu mengajarkan kami anak-anaknya agar sedapat mungkin membantu anak-anak para tetangga itu jika membutuhkan sesuatu. “Kan keluarga mereka itu jauh. Jadi, kalau di sini, kita inilah keluarganya. Kalau perlu kita harus mengalahkan kepentingan kita sendiri untuk membantu mereka” saya ingat selalu nasihat Bapak saya itu.

Dan tentunya karena tetangga banyak dan datang bermutasi silih berganti, sudah pasti mereka memiliki keberagaman suku dan agama. Ada yang Jawa, Sunda, Sumatera, Maluku, Sulawesi dan sebagainya. Mereka ditempatkan di sana untuk suatu masa tertentu,lalu bermutasi lagi ke daerah lainnya. Jadi tidak heran bahwa diantaranya ada yang merayakan Natal, ada  juga yang merayakan Idul Fitri, selain keluarga saya yang merayakan Galungan.

Kehidupan dalam keberagaman terasa sangat indah sekali saat itu. Setiap kali kami merayakan hari raya Galungan, para tetangga yang tidak merayakan selalu datang silih berganti ke rumah kami untuk bertamu dan mengucapkan selamat hari raya. Saya ingat ibu saya selalu menyiapkan kue-kue kering, tapai ketan dan kacang Bali  bikinan sendiri untuk dijadikan bingkisan dan dikirimkan kepada para tetangga kami yang Non Hindu setiap kali hari raya tiba. Biasanya makanan-makanan itu dihias dan diletakkan di atas nare (nampan Bali). Saya dan kakak saya yang biasanya bertugas mengantarkan bingkisan-bingkisan itu ke rumah tetangga.

Demikian juga sebaliknya. Kami yang Non Muslim selalu dikirimin bingkisan dan makanan oleh para tetangga yang merayakan jika hari Raya Idul Fitri tiba. Dan kami pun datang ke rumah para tetangga muslim kami untuk mengucapkan selamat. Demikian juga jika hari Natal tiba. Hal yang sama terjadi. Kami semua yang tidak merayakan Natal mendapat kiriman kue-kue dan makanan. Dan sesuai standardnya, maka kami semua  baik yang Hindu, Budha maupun yang Muslim juga datang berkunjung untuk mengucapkan selamat hari raya Natal kepada tetangga kami yang merayakan.

Itulah yang selama ini saya tahu tentang keberagaman yang sangat indah. Dan saya dibesarkan dalam suasana yang indah itu. Semua umat saling menghargai satu sama lain.Saling menghormati satu sama lain. Saling tolong menolong dan saling mendukung. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah derajatnya dari yang lain. Semuanya sama di mata Yang Maha Kuasa. Hanya jalan yang ditempuh untuk mencapaiNYA saja yang berbeda-beda. Betapa indahnya keberagaman di Nusa Damai.

Antrian kasir di toko roti itu bergerak. Lamunan saya terhenti. Sayapun membayar sejumlah kue yang saya beli. Lalu berlalu meninggalkan toko itu yang masih ramai oleh pembeli.

Selamat Hari Natal, saudaraku..

8 responses »

  1. di lingkungan tempat saya tinggal mayoritas Muslim Made hanya ada beberapa non Muslim, tapi indahnya kebersamaan itu terasa, mereka yg non muslin tetap bergaul dan berbaur dan yg Muslim juga menerima mereka tanpa memandang perbedaan agama..

  2. Pingback: Indahnya Keberagaman Di Nusa Damai. Selamat Hari Natal, Saudaraku! « jejak jejari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s