Monthly Archives: January 2013

Experiential Marketing- Display Sarang Lebah Madu.

Standard

???????????????????????????????

Saat sarapan pagi, mata saya tertumbuk pada  sepapan sarang lebah penuh madu yang dipajang di sudut restaurant sebuah hotel tempat saya menginap. Wowo..madu! Warnanya kuning keemasan berkilau memenuhi rongga-rongga persegi enam teratur yang berdempetan. Lebih muda warnanya dibanding madu yang biasa saya lihat sehari-hari. Cairan madu itu setetes demi setetes tampak jatuh  ke sebuah talang yang mengarah ke sebuah pot keramik di bawahnya. Tertarik melihatnya, sayapun mencoba icip-icip dengan mengoleskannya di atas roti tawar yang saya ambil tak jauh dari situ. Hm… manis. Tentu saja!. Namanya juga madu. Read the rest of this entry

Advertisements

Pentingnya Memberi Identitas Pada Hasil Karya Kita.

Standard

Andani - Pink LotusKetika kita sedang browsing gambar di internet, seringkali kita melihat foto-foto dengan tanda watermark nama pemiliknya. Kitapun mahfum bahwa foto itu di’protect’ oleh pemiliknya.Dan tentunya dengan melihat tanda itu kita tidak akan berani menggunakannya sesuka hati kita. Saya juga sering melihat foto-foto beberapa teman blogger saya ditandai serupa. Duluya saya juga pengen meniru memberi tanda. Tapi karena saya tidak menemukan cara yang praktis untuk menamainya, maka saya urungkan niat saya. Read the rest of this entry

Grafiti, Expresi Seni Jalanan.

Standard

Grafiti Tepi Rel Poris 8Berada di kemacetan kota sering membuat kita tak mampu melakukan apa-apa, selain menghibur diri dengan menikmati apa yang ada. Salah satu yang cukup sering saya lakukan adalah melempar pemandangan keluar jendela kendaraan. Terkadang beruntung melihat lukisan atau gambar di tembok-tembok beton tol, pagar jalanan maupun pagar gedung atau rumah orang. Banyak yang cukup menarik, dengan ide-ide yang cukup brilliant, tarikan grafis yang bagus dan komposisi warna yang sangat menghibur. Namun sering juga kita hanya melihat gambar corat coret ala kadarnya, dengan maksud entah apa dan komposisi warna yang amburadul. Atau bahkan terkadang hanya coretan, expresi cinta si anu kepada si ani, slogan atau bahkan jeritan kepedihan hidup dan protes atas keadilan sosial yang tak kunjung datang. Tentu saja karya Grafiti ini masih belum bisa dikategorikan sebagai Mural, karena masih  terlihat sangat sederhana baik dari sisi pengembangan grafis, tata warna, komposisi bentuk dan sebagainya. Read the rest of this entry

Cara Mengundang Kupu-Kupu Hitam Berbando Putih Ke Halaman.

Standard

Andani-Papilio demolion 2Tanah air kita sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Sayangnya, kita tidak memiliki cukup banyak para ahli bangsa kita yang melakukakn penelitian,menganalisa dan membuat tulisan tentang berjenis-jenis spesies tanaman ataupun hewan yang menghuninya. Salah satu kekayaan hayati kita adalah puluhan atau bahkan mungkin ratusan jenis kupu-kupu indah yang terbang bebas di udara hangat Indonesia. Read the rest of this entry

Persia, The Cutest Morning Alarm.

Standard

Animal behaviour.

Andani- Persia

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah bercerita tentang Persia, anak kucing liar yang membuntuti anak saya terus. Karena setelah melapor ke Satpam dan minta cross-ceck, ternyata tetap tidak ada seorangpun yang memilikinya, maka anak kucing liar  itu akhirnya menjadi anggota keluarga kami. Sekarang sudah lebih dari 3 bulan ia bersama kami. Anak saya memelihara dan merawatnya dengan sangat baik. Memberinya makan dan memandikannya dengan telaten.Juga menemaninya bermain di saat-saat senggang. Sebagai akibatnya kucing kecil ini menjadi sangat manja dan selalu menyenangkan. Wajahnya sangat lucu, cantik dan menggemaskan. Read the rest of this entry

I Belog Pergi Ke Kuta.

Standard

Andani-Kuta BaliKuta! Di Bali!. Nama itu mungkin sudah tidak asing lagi bagi banyak orang. Banyak orang ingin pergi ke Kuta. Para pelancong dari luar negeri, juga dari tempat lain di Indonesia. Terutama pelancong dari Australia dan Jakarta, entah kenapa lebih memilih tinggal di Kuta ketimbang tempat-tempat lain di Bali. Intinya Kuta penuh wisatawan. Oleh karenanya tempat itu penuh dengan Hotels, Restaurants, Money Changers,  Toko-toko Cinderamata dan lain sebagainya. Read the rest of this entry

Pouch Renda: Selalu Romantis, Selalu Feminine.

Standard

Andani- Crochet PouchMelakukan pekerjaan rutin dari waktu ke waktu tanpa variasi tentu sangat membosankan, bukan? Untuk menghilangkannya saya suka melakukan hal-hal yang menyenangkan hati saya. Apasaja. Dan tak jarang adalah kegiatan  yang sudah lama tak pernah saya lakukan lagi. Misalnya kali ini, sambil menunggu hujan reda, saya teringat akan sisa-sisa benang lama saya yang masih bisa saya manfaatkan. Saya akan membuat renda dari benang nylon (karena benang sudah lama – saya sudah tidak melihat lagi entah apa merknya – tapi yang jelas warnanya coklat muda/krem yang terlihat sangat manis). Saya sangat menyukai renda atau crochet dalam bahasa internationalnya, karena menurut saya renda selalu terlihat feminine dan romantis. Apapun warnanya. Read the rest of this entry

Dichorysandra thyrsiflora: The Blue Ginger.

Standard

Andani-Blue Ginger 1Di resort-resort tertentu di daerah dingin,terkadang kita menemukan sebuah tanaman yang batang dan daunnya mirip jahe yang berbunga biru terang benderang yang sangat menawan. Saya selalu meluangkan waktu saya untuk mengamat-amati tanaman ini setiap kali saya menemukannya sedang berbunga.  Ingin sekali memilikinya, namun belum pernah menemukannya dijajakan di tukang tanaman. Namun beberapa waktu yang lalu saya merasa sangat terkejut, ketika menemukan tanaman itu ternyata tumbuh di tepi kolam di rumah mertua saya. Sedang berbunga. Lebat pula!. Saya pikir sebelumnya itu  hanya sejenis tradescantia biasa yang tak berbunga.

Orang-orang menyebutnya dengan nama Blue Ginger, si Jahe Biru. Dichoryssandra thyrsiflora. Barangkali karena tampilan batang dan daunnya agak serupa dikit dengan keluarga jahe-jahean.Walaupun sebenarnya tanaman ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan jahe. Saya sendiri sih memang tidak merasa bahwa tanaman ini serupa jahe – tapi begitulah orang menamainya. Kalau bisa saya gambarkan tanamannya seperti ini. Batangnya berbuku-buku mirip tebu atau mirip tanaman Dracaena. Agak tinggi juga, bisa mencapai tinggi di tas kepala saya , mungkin sekitar 1,75 – 2 meter.  Daunnya mirip dengan keluarga daun Suji, namun lebih besar dan lebar, tumbuh berurutan ke atas dengan arah tumbuh mengikuti spiral pada batangnya yang tegak ke atas.  Secara keseluruhan tampilan tanaman ini cukup menarik juga untuk dinikmati sebagai tanaman hias yang berdaun indah.

Tangkai bunganya keluar dari setiap ujung pucuknya dengan ukuran yang cukup panjang dengan beberapa bunga individu yang muncul dari tangkai satu per satu. Keseluruhan kuncup bunga terlihat kokoh, kerucut gendut dan berwarna biru. Ketika mekar satu per satu, kita bisa melihat ternyata setiap bunga terdiri atas 3 helai mahkota bunga yang berwarna biru terang, dengan sedikit warna putih pada pangkal mahkotanya serta sari yang berwarna kuning. Jika kita memandang bunga ini, seketika perasaan teduh merayap memasuki perasaan kita. Barangkali karena keindahan warna birunya.

Tanaman kelihatannya tumbuh dengan sangat baik di daerah yang agak sejuk dan jika ditanam dibawah naungan pohon yang lebih besar atau rimbun, sehingga tidak langsung terkena paparan panasnya matahari. Cara memperbanyaknya adalah dengan memisahkan anakannya dari akar atau memotong cabangnya lalu menancapkannya di tanah yang subur.

Jogjakarta: Patung Penari Bedhaya

Standard

Jogjakarta! Kota itu selalu menarik hati saya. Walaupun saya besar di Bali dan tinggal di Jakarta. Walaupun saya  belum pernah tinggal di sana dan menjadi warganya, namun karena saya telah beberapa kali mengunjunginya dan selalu menemukan sesuatu yang unik dan menarik untuk dipotret dan diceritakan, maka rasanya saya sama jatuh cintanya dengan penduduk aslinya terhadap kota itu. Nah lho!.

Bagi saya kota itu, selalu bisa menjadi etalase Indonesia bagi pengunjung luar yang ingin tahu tentang Indonesia. Terlebih-lebih jika ada yang ingin melihat ‘art’ dan ‘culture’ dari Indonesia.  Di sanalah kita bisa melihat batik, di sana juga kita bisa melihat Wayang, melihat keramik, melihat topeng, melihat lukisan, melihat tukang becak, melihat jamu, melihat segala macam yang berjudul Jawa dan tentunya …Indonesia.

Kali ini saya hanya ingin mengupload foto  patung penari Bedhaya yang sangat indah yang saya temukan di sebuah hotel di Jogjakarta. Sangat indah dan sangat menarik. Tentu saja sebelumnya saya sudah minta ijin telebih dahulu kepada petugas,  sebelum saya memotretnya.  Entah siapa senimannya. Namun patung yang menceritakan tentang penari sebuah tarian sakral yang biasanya hanya ditarikan di Keraton Jogjakarta ini terasa begitu memukau.   Seperti disebutkan oleh beberapa sumber, bahwa tari Bedhaya adalah tarian tradisional Jawa yang menceritakan tentang keindahan gerak-gerik Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan yang diceritakan memiliki hubungan khusus dengan Sultan Jogjakarta. Umumnya ditarikan oleh 7 atau 9 orang penari.  Memandang patung-patung ini  seolah kita bisa membayangkan betapa luwesnya gerakan penarinya yang lemah gemulai.  Betapa halus dan teduhnya musik Jawa yang mengiringinya. Saya bisa membayangkan suasana Keraton. Saya bisa membayangkan Jawa dan Indonesia di dalamnya.

Hormat  bagi senimannya. Dan hormat juga kepada pihak hotel yang selalu setia memperkenalkan tentang budayanya kepada setiap pengunjung.

Yuk, kita mampir ke Jogja!.

Cut Off ! Jika Yang Kusut Tak Bisa Diurai Lagi.

Standard

Andani - Benang KusutSalah satu hobby lama saya yang terlupakan adalah membuat renda dari benang. Saking senangnya dengan kegiatan crochetingini, pada suatu masa saya pernah mengumpulkan puluhan jenis benang wool  warna-warni yang bisa saya gunakan untuk merenda. Walaupun warna benang favorit saya tetap adalah yang berwarna putih. Benang-benang itu saya simpan di dalam sebuah tas travelling yang besar bersama dengan benang sulam, kain flanel,jarum renda, jarum rajut dan alat-alat untuk membantu pekerjaan tangan lainnya.

Entah karena kemalasan ataukah karena kesibukan yang lain, sudah lama saya tidak pernah merenda dan memeriksa koleksi benang saya itu lagi. Sesekali jika anak saya membutuhkan benang untuk prakarya sekolahnya, maka saya suruh ia mengambil benang yang ia butuhkan dari tas saya itu. Dan itu telah terjadi beberapa kali.  Sehingga saya sudah tidak tahu lagi status terakhirnya.

Karena kebetulan saya sedang cuti, maka suatu hari saya sempatkan memeriksa benang-benang saya itu kembali. Dan astaga!!! Ternyata banyak sekali benang yang sudah tidak ada di tempatnya. Ada yang digunakan untuk prakarya sekolah, untuk membuat mainan dan dijadikan mainan kucing. Dan yang lebih parah lagi, ternyata benang-benang di dalam tas itu posisinya sudah pada uwel-uwelan dan banyak yang terlibat dalam kekusutan massal yang saya tak tahu lagi dimana ujung pagkalnya.  Waduuh!

Tentu saja saya tidak bisa memarahi anak saya atas keadaan benang itu. Karena selama ini sayapun kurang perduli. Saya coba melepaskannya satu persatu. Ada yang berhasil, namun lebih banyak lagi yang tidak berhasil. Benang A membelit benang B lima kali. Benang B membelit benang C dan benang A masing-masing tujuh kali. Benang D membelit benang B dan benang C sekian kali. Berikutnya benang E, F, G.. dan seterusnya.  Terlalu ruwet!

Anak saya yang merasa bersalah, mencoba membantu saya memecahkan kekusutan itu. Namun  ‘perkusutan’ itu emang sudah terlalu kusut!.  Saya menyerah. ”Jadi gimana dong, Ma?“ tanya anak saya prihatin.  Lalu saya mengambil gunting dari lemari. “Ini namanya ‘Cut off’!” Kata saya sambil menjelaskan  bahwa kadang-kadang tindakan seperti ini kita perlukan dalam kondisi tertentu untuk menyelamatkan bagian benang lain yang masih bisa diselamatkan. Lalu saya menunjukkan padanya,  bagaimana dan dimana kita baiknya melakukan pemotongan. Menyingkirkan bagian yang  sudah terlalu kusut. Memisahkan bagian yang masih bisa diselamatkan. Dan menggulung ulang serta merapikan kembali benang yang sehat.

Sedikit demi sedikit akhirnya saya bisa merapikan kembali sebagian benang-benang saya. Tentu saja kondisinya tidak seutuh sebelumnya. Namun setidaknya mulai rapi lagi dan siap digunakan untuk merenda atau merajut.  Itulah keuntungan kita melakukan Cut Off. Anak saya menonton saya mengerjakan semuanya  dan mengangguk-angguk paham akan apa yang saya maksudkan. Lalu ia pergi bermain ke rumah tetangga. Tinggallah saya sendiri dengan sisa benang kusut yang memicu saya untuk merenungkan diri.

Kerika permasalahan yang kita hadapi, baik itu dalam bisnis, politik maupun keseharian sudah terlalu kompleks sehingga tidak bisa lagi kita urai dan obati satu persatu,  barangkali ada baiknya juga sesekali kita melakukan upaya penataan ulang kembali dengan melakukan ‘cut off’.  Amputasi dan buang saja bagian yang sudah bernanah dan busuk. Daripada menular ke bagian tubuh lain yang masih sehat, yang masih memiliki peluang untuk sembuh kembali. Sedikit merugi tidaklah berarti apa-apa jika kemudian bisa mempercepat produktifitas kita kembali. Daripada mempertahankan yang sakit namun menghambat semua produktifitas kita yang akhirnya membuat semuanya menjadi gagal total.

Demikian juga dalam aspek kehidupan yang lain. Misalnya dalam hubungan pribadi kita dengan seseorang. Sahabat, teman, saudara, kekasih dan seterusnya.Jika sudah terlalu kusut dan tak jelas lagi bentuknya, mungkin sebaiknya  kita lakukan Cut Off saja.  Entah siapa yang salah atau benar. Harga diri turun? Turun deh sejenak. Nggak apa-apa. Pokoknya minta maaf, maafkan dan buang serta  lupakan  segala permasalahan kusut yang pernah ada. Lalu mulai dengan hubungan baru yang  lebih segar dan lebih baik ke depannya. Dengan demikian persahabatan, percintaan  ataupun persaudaraan akan selalu terasa manis, dibanding hanya merenungi kesedihan dan luka hati.

Sangat mirip dengan mengoperasi tumor. He he..

Memikirkan itu, hati saya terasa lebih bahagia dan lapang. Everyday with happiness…