Pancuran Bambu Yang Terisi Kembali.

Standard

Andani-Pancuran Bambu4Saya mengajak anak-anak berjalan-jalan di sebuah taman. Di dalam taman itu terdapat sebuah kolam berdinding batu alami yang indah walaupun terlihat kurang terawat. Sumber air didapatkan dari sebuah parit, dimana setelah airnya menggenang di kolam yang dangkal untuk beberapa saat, kemudian dialirkan keluar lewat parit yang lain. Yang menarik perhatian anak saya rupanya adalah sebuah pancuran bambu yang bergerak ungkat-ungkit di kolam itu. Dengan segera mereka berjongkok dan mengamati pergerakan pancuran bambu itu. Tertarik akan cara kerjanya sehingga bisa bergerak ke atas dan ke bawah dengan otomatis. Betapa antusiasnya mereka mendiskusikan cara kerja pancuran bambu itu.

Tentu saja pancuran tradisional seperti itu sudah sering saya lihat sebelumnya. Namun bagi anak saya, barangkali ini memang pemandangan  yang pertama. Tidak ingat apakah sebelumnya saya pernah mengajak mereka melihat pancuran seperti itu. Saya memandang pancuran itu.

Pancuran itu terlihat sangat selaras dengan sekitarnya. Air, batu, bambu, tali ijuk, tanaman liar dan lumpur! Mengingatkan saya akan kedamaian di kampung. Terbuat dari beberapa potong bambu yang terbagi menjadi dua kelompok. Pancuran pertama dan pancuran kedua.

Pancuran pertama, terbuat dari sepotong bambu yang disangga oleh tiga batang bambu yang diikat menjadi satu dengan tali ijuk dan terpancang kuat di dasar kolam. Pancuran pertama selalu menjadi alat pengalir. Seberapa banyakpun yang ia terima, sebanyak itulah yang ia alirkan . Air yang berada di dalam buluhnya hanya secukupnya  saja. Dan itupun terus bergerak. Itu yang membuat pancuran pertama itu hidup.

Pancuran ini mengalirkan air dari parit. Airnya  jatuh mengucur tepat di mulut sebuah tabung bambu yang tersangga dengan kuat namun fleksible pada tiang bambu.  Beberapa saat kemudian airnya memenuhi tabung bambu yang dasarnya buntu itu. Begitu penuh dan memberat, ujung tabung bambu itu segera bergerak ke bawah dan menumpahkan airnya ke dasar kolam. Dengan demikian ia berfungsi menjadi pancuran yang kedua. Setelah kosong, maka  tabung bambu yang sekarang  menjadi ringan, ujungnya kembali bergerak ke atas untuk segera diisi kembali dengan air oleh pancuran pertama. Dengan cara demikianlah, maka tabung itu bisa mengosongkan dirinya sehingga menjadi siap untuk diisi kembali.

Demikian seterusnya terjadi berulang-ulang secara otomatis. Mekanisme yang sangat menarik!

Apa yang terjadi jika ia kaku  dan tidak bergerak menumpahkan airnya sendiri ke sekitarnya ? Tentu saja air  baru yang akan masuk  segera tumpah sebelum sempat memasuki tabung bambu itu. Tabung itu tak akan pernah siap untuk menerima air yang baru karena terlalu penuh. Karena ia tidak pernah mengosongkan dirinya sendiri. Ooh!

Saya meninggalkan pancuran batu itu dan  bertanya di dalam hati  – Apakah itu juga yang terjadi pada diri kita? Ketika kita membiarkan diri kita penuh oleh rejeki tanpa pernah berusaha menumpahkannya sedikitpun  kepada orang lain di sekitar kita?

Ketika kita merasa penuh oleh pengetahuan tanpa berusaha mengalirkannya dan mengosongkan diri kita untuk menerima pendapat, pandangan dan ide-ide orang lain?  Barangkali ada saatnya kita juga perlu menyiapkan ‘mental’ kita untuk sesekali merasakan ‘ kosong’ agar kita bisa terisi kembali dengan pengetahuan baru yang memperkaya diri kita.

Barangkali itu juga yang terjadi dengan kesehatan tubuh kita. Ketika tubuh kita terlalu jenuh dengan makanan tanpa berusaha sesekali mengurasnya, tentu kebugaran akan berkurang, aktifitas mulai terbatas dan penyakit akan datang.

Barangkali itu juga sebabnya mengapa kita diajarkan untuk sesekali  berderma,  berpuasa dan menahan diri. Demi pengosongan dan pengisian kembali oleh mekanisme kehidupan.  Entahlah! Namun pancuran bambu itu telah membuat saya merefleksi sejenak ke dalam diri saya sendiri.

7 responses »

  1. Filosofi yg dioleh dari pancuran bambu ini dahsyat banget mba…
    Menurut saya, filosofi yang ditulis disini tidak asal tulis, tapi hasil perenungan yg dalam…
    Salam,

  2. humm/….iya..kadang mnusia memang susah utk mmbgi rezekinya pd orang lain😀
    kadang saya jg ky gitu (kdg sifat jlek muncul), pas lagi enak2 makan..tiba2 aja ada tmn mau nimbrung, wah..males deeh…pdhl sbnrnya bagi aja kan…

  3. mengingatkan masa kecil yang setiap hari mandi di kucuran pancuran, airnya dari mata air langsung, jernih dan dingin…

    salut dari pancuran bambupun Made bisa mengambil pilosofinya yang dalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s