Daily Archives: January 6, 2013

Jogjakarta: Patung Penari Bedhaya

Standard

Jogjakarta! Kota itu selalu menarik hati saya. Walaupun saya besar di Bali dan tinggal di Jakarta. Walaupun saya  belum pernah tinggal di sana dan menjadi warganya, namun karena saya telah beberapa kali mengunjunginya dan selalu menemukan sesuatu yang unik dan menarik untuk dipotret dan diceritakan, maka rasanya saya sama jatuh cintanya dengan penduduk aslinya terhadap kota itu. Nah lho!.

Bagi saya kota itu, selalu bisa menjadi etalase Indonesia bagi pengunjung luar yang ingin tahu tentang Indonesia. Terlebih-lebih jika ada yang ingin melihat ‘art’ dan ‘culture’ dari Indonesia.  Di sanalah kita bisa melihat batik, di sana juga kita bisa melihat Wayang, melihat keramik, melihat topeng, melihat lukisan, melihat tukang becak, melihat jamu, melihat segala macam yang berjudul Jawa dan tentunya …Indonesia.

Kali ini saya hanya ingin mengupload foto  patung penari Bedhaya yang sangat indah yang saya temukan di sebuah hotel di Jogjakarta. Sangat indah dan sangat menarik. Tentu saja sebelumnya saya sudah minta ijin telebih dahulu kepada petugas,  sebelum saya memotretnya.  Entah siapa senimannya. Namun patung yang menceritakan tentang penari sebuah tarian sakral yang biasanya hanya ditarikan di Keraton Jogjakarta ini terasa begitu memukau.   Seperti disebutkan oleh beberapa sumber, bahwa tari Bedhaya adalah tarian tradisional Jawa yang menceritakan tentang keindahan gerak-gerik Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan yang diceritakan memiliki hubungan khusus dengan Sultan Jogjakarta. Umumnya ditarikan oleh 7 atau 9 orang penari.  Memandang patung-patung ini  seolah kita bisa membayangkan betapa luwesnya gerakan penarinya yang lemah gemulai.  Betapa halus dan teduhnya musik Jawa yang mengiringinya. Saya bisa membayangkan suasana Keraton. Saya bisa membayangkan Jawa dan Indonesia di dalamnya.

Hormat  bagi senimannya. Dan hormat juga kepada pihak hotel yang selalu setia memperkenalkan tentang budayanya kepada setiap pengunjung.

Yuk, kita mampir ke Jogja!.

Cut Off ! Jika Yang Kusut Tak Bisa Diurai Lagi.

Standard

Andani - Benang KusutSalah satu hobby lama saya yang terlupakan adalah membuat renda dari benang. Saking senangnya dengan kegiatan crochetingini, pada suatu masa saya pernah mengumpulkan puluhan jenis benang wool  warna-warni yang bisa saya gunakan untuk merenda. Walaupun warna benang favorit saya tetap adalah yang berwarna putih. Benang-benang itu saya simpan di dalam sebuah tas travelling yang besar bersama dengan benang sulam, kain flanel,jarum renda, jarum rajut dan alat-alat untuk membantu pekerjaan tangan lainnya.

Entah karena kemalasan ataukah karena kesibukan yang lain, sudah lama saya tidak pernah merenda dan memeriksa koleksi benang saya itu lagi. Sesekali jika anak saya membutuhkan benang untuk prakarya sekolahnya, maka saya suruh ia mengambil benang yang ia butuhkan dari tas saya itu. Dan itu telah terjadi beberapa kali.  Sehingga saya sudah tidak tahu lagi status terakhirnya.

Karena kebetulan saya sedang cuti, maka suatu hari saya sempatkan memeriksa benang-benang saya itu kembali. Dan astaga!!! Ternyata banyak sekali benang yang sudah tidak ada di tempatnya. Ada yang digunakan untuk prakarya sekolah, untuk membuat mainan dan dijadikan mainan kucing. Dan yang lebih parah lagi, ternyata benang-benang di dalam tas itu posisinya sudah pada uwel-uwelan dan banyak yang terlibat dalam kekusutan massal yang saya tak tahu lagi dimana ujung pagkalnya.  Waduuh!

Tentu saja saya tidak bisa memarahi anak saya atas keadaan benang itu. Karena selama ini sayapun kurang perduli. Saya coba melepaskannya satu persatu. Ada yang berhasil, namun lebih banyak lagi yang tidak berhasil. Benang A membelit benang B lima kali. Benang B membelit benang C dan benang A masing-masing tujuh kali. Benang D membelit benang B dan benang C sekian kali. Berikutnya benang E, F, G.. dan seterusnya.  Terlalu ruwet!

Anak saya yang merasa bersalah, mencoba membantu saya memecahkan kekusutan itu. Namun  ‘perkusutan’ itu emang sudah terlalu kusut!.  Saya menyerah. ”Jadi gimana dong, Ma?“ tanya anak saya prihatin.  Lalu saya mengambil gunting dari lemari. “Ini namanya ‘Cut off’!” Kata saya sambil menjelaskan  bahwa kadang-kadang tindakan seperti ini kita perlukan dalam kondisi tertentu untuk menyelamatkan bagian benang lain yang masih bisa diselamatkan. Lalu saya menunjukkan padanya,  bagaimana dan dimana kita baiknya melakukan pemotongan. Menyingkirkan bagian yang  sudah terlalu kusut. Memisahkan bagian yang masih bisa diselamatkan. Dan menggulung ulang serta merapikan kembali benang yang sehat.

Sedikit demi sedikit akhirnya saya bisa merapikan kembali sebagian benang-benang saya. Tentu saja kondisinya tidak seutuh sebelumnya. Namun setidaknya mulai rapi lagi dan siap digunakan untuk merenda atau merajut.  Itulah keuntungan kita melakukan Cut Off. Anak saya menonton saya mengerjakan semuanya  dan mengangguk-angguk paham akan apa yang saya maksudkan. Lalu ia pergi bermain ke rumah tetangga. Tinggallah saya sendiri dengan sisa benang kusut yang memicu saya untuk merenungkan diri.

Kerika permasalahan yang kita hadapi, baik itu dalam bisnis, politik maupun keseharian sudah terlalu kompleks sehingga tidak bisa lagi kita urai dan obati satu persatu,  barangkali ada baiknya juga sesekali kita melakukan upaya penataan ulang kembali dengan melakukan ‘cut off’.  Amputasi dan buang saja bagian yang sudah bernanah dan busuk. Daripada menular ke bagian tubuh lain yang masih sehat, yang masih memiliki peluang untuk sembuh kembali. Sedikit merugi tidaklah berarti apa-apa jika kemudian bisa mempercepat produktifitas kita kembali. Daripada mempertahankan yang sakit namun menghambat semua produktifitas kita yang akhirnya membuat semuanya menjadi gagal total.

Demikian juga dalam aspek kehidupan yang lain. Misalnya dalam hubungan pribadi kita dengan seseorang. Sahabat, teman, saudara, kekasih dan seterusnya.Jika sudah terlalu kusut dan tak jelas lagi bentuknya, mungkin sebaiknya  kita lakukan Cut Off saja.  Entah siapa yang salah atau benar. Harga diri turun? Turun deh sejenak. Nggak apa-apa. Pokoknya minta maaf, maafkan dan buang serta  lupakan  segala permasalahan kusut yang pernah ada. Lalu mulai dengan hubungan baru yang  lebih segar dan lebih baik ke depannya. Dengan demikian persahabatan, percintaan  ataupun persaudaraan akan selalu terasa manis, dibanding hanya merenungi kesedihan dan luka hati.

Sangat mirip dengan mengoperasi tumor. He he..

Memikirkan itu, hati saya terasa lebih bahagia dan lapang. Everyday with happiness…

Deep Blue Salvia: Keteduhan Laut Yang Dalam.

Standard

Andani Blue Salvia3Ini adalah salah satu tanaman hias yang sangat saya sukai, namun belum pernah saya miliki. Tidak seperti  saudaranya jenis Scarlet Salvia yang berwarna merah terang dan  sangat umum kita temukan di tukang tanaman, maupun di taman-taman  perumahan ataupun perkantoran, Salvia berwarna biru ini hanya pernah saya lihat di Taman Bunga Nusantara, di Cipanas, Cianjur. Barangkali ada juga sih di tempat lain – namun sayangnya saya tidak tahu.  Barangkali juga tanaman ini hanya bersahabat dengan udara yang dingin.

Apa yang menarik dari tanaman ini? Sudah pasti bunganya yang berupa  tajuk-tajuk panjang dengan tangkai gelap dan penuh dengan bunga berwarna biru. Baik kelopak bunganya maupun mahkotanya, semuanya berwarna biru. Sehingga ketika kita memandang hamparan tanaman ini yang sedang berbunga dan terangguk-angguk oleh hempasan angin dingin pegunungan,  serasa kita sedang memandangi sebuah keteduhan laut biru yang dalam.

Daunnya  sepintas lalu mirip dengan daun kemangi.  Hijau lembut dan agak lonjong. Rupanya  tanaman ini memang termasuk keluarga “Sage” yang banyak digunakan sebagai bumbu dapur di negara-negara Eropa. Karena tingginya tidak seberapa, rasanya sangat indah jika dimanfaatkan sebagai tanaman border atau untuk mengisi blok-blok tanah di halaman rumah ataupun untuk ditanam di bawah pohon penaung.