I Belog Pergi Ke Kuta.

Standard

Andani-Kuta BaliKuta! Di Bali!. Nama itu mungkin sudah tidak asing lagi bagi banyak orang. Banyak orang ingin pergi ke Kuta. Para pelancong dari luar negeri, juga dari tempat lain di Indonesia. Terutama pelancong dari Australia dan Jakarta, entah kenapa lebih memilih tinggal di Kuta ketimbang tempat-tempat lain di Bali. Intinya Kuta penuh wisatawan. Oleh karenanya tempat itu penuh dengan Hotels, Restaurants, Money Changers,  Toko-toko Cinderamata dan lain sebagainya.

Namun percaya tidak, kalau  orang Bali sendiri banyak juga yang belum pernah ke Kuta? Tentu saja di luar dari mereka yang memang bekerja di industri pariwisata atau yang mereka yang rumahnya memang di Kuta. Saya sendiri tidak tahu secara statistik. Tapi saya pernah mendengarkan cerita ini dari seorang teman yang mengindikasikan hal itu. Entah kejadian sebenarnya atau hanya sekedar joke karangan belaka. Saya juga tidak tahu persis.

Dikisahkan ada seorang pemuda petani desa di pedalaman pulau Bali, sebut saja namanya I Belog, untuk memudahkan. Sering mendengar cerita orang tentang Kuta dan betapa menariknya tempat itu. Ia merasa malu, mengapa dirinya belum pernah ke sana. Bertekad suatu hari bisa seperti yang lainnya juga, pergi ke sana,nongkrong di salah satu restaurants di sana dan pulang membawa cerita tentang Kuta. Kelihatannya keren!. Gaul !.

Suatu hari panennya sukses, maka iapun menjalankan impiannya itu. Pergi ke Kuta! Dengan berpakaian terbaik, maka berangkatlah I Belog sendiri. Sesampai di Kuta, ia melihat banyak sekali hotel, restaurant, money changers dan sebagainya. Wah! Menakjubkan! Masuklah ia ke dalam salah satu restaurant. Duduk di pojok dan langsung memesan makanan. Ia ingin terlihat seperti orang yang sudah biasa gaul di Kuta.

Seorang bule sedang makan steak tuna tak jauh dari tempatnya duduk.  Mencium wanginya yang semerbak, I Belog tidak kuat menahan air liurnya. Lalu melihat-lihat di daftar menu mencoba menebak, apa gerangan nama makanan yang sedang disantap oleh si bule itu. Tidak ada gambar makanannya.  Ketika merasa menemukan yang kira-kira cocok namanya, maka ia memanggil pelayan dan memesan. Beberapa saat kemudian pramusaji datang dengan  sepiring besar salad sayur campur kol, bayam, sejenis sawi, tomat, potongan nenas dengan sauce cuka buah. Waduuh! Ternyata salah!. “Kalau cuma kol, sawi, bayam tomat begini sih, di desa juga banyak”pikirnya.  Ia ingin menicicipi makanan bule. Untuk menutupi kesalahannya, maka I Belog tetap berusaha menghabiskan salad itu seolah-olah ia memang sengaja memesannya.

Sambil makan I Belog melihat-lihat lagi ke daftar makanan. Lalu memanggil kembali si pelayan. Kali ini ia menemukan nama makanan yang agak lebih meyakinkan. Namun beberapa menit kemudian, yang datang ternyata sepiring besar sauted spinach alias sayur bayam. Waduuh! Salah lagi. I Belog neplokin jidatnya sendiri. Namun terpaksa ia makan juga sambil melirik lagi dengan iri kepada si Bule yang sangat menikmati ikan di piringnya itu.  Ia memeras otak, mencari akal, bagaimana caranya agar bisa memesan ikan panggang itu tanpa harus bertanya. Dipikirannya ‘Kan malu jika ketahuan baru pertama kali masuk restaurant‘ Ketahuan kurang gaul.

Tiba-tiba ia melihat Si Bule memanggil pelayan dan berteriak More!”  sambil menunjukkan ke arah piringnya yang sudah kosong.  I Belog langsung tersenyum. “Aha! Sekarang aku tahu apa nama ikan panggang itu dalam bahasa Inggris” pikirnya. Lalu iapun memanggil pelayan dan berteriak dengan lantang  “More! More!” katanya.  Tak berapa lama pelayanpun datang dengan membawakan kembali sepiring besar sayur bayam pesanan I Belog. “Beh! Buin bayem teka! (Waduuh! Bayam lagi yang datang!)”kata I Belog dengan pucat pasi. Ha  ha ha..

Saya tertawa mendengar joke teman saya itu. Merasa lucu namun sekaligus prihatin akan si Belog. Teringatkan kembali akan pepatah lama “ Malu bertanya, Sesat di jalan”. Malu dianggap kurang gaul, akhirnya malah mempersulit situasi dan memperlambat proses belajar kita.

Sesekali dalam hidup saya, seperti halnya I Belog, mungkin  pernah juga saya mencoba untuk terlihat ‘lebih’ keren dan gaul daripada aslinya diri saya. Terlihat doang.! Namun sebenarnya untuk apa menjadi terlihat keren, kalau sesungguhnya tidak keren sama sekali? Terlihat gaul, kalau sesungguhnya tidak gaul sama sekali??.  Persis I Belog yang pergi ke Kuta.

Mungkin memilih hidup apa adanya tanpa banyak kamuflase akan terasa jauh lebih mudah dan lebih menyenangkan. Mengaku belum tahu, jika memang tidak tahu.Mengaku belum punya jika memang tidak punya. Mengaku belum kenal jika memang tidak kenal. Live life in simplicity!. Seperti apa adanya.

4 responses »

  1. Cerita yang menarik Bu Made, betul hidup ini tak perlu berpura-pura, tak penting berperan seperti orang lain, tak perlu berbohong, apa adanya saja. Tapi hidup ini berproses berikut bertambahnya umur, pengalaman juga perlu agar bisa dijadikan cermin untuk hidup yang lebih baik lebih arif dan bijaksana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s