Menolak Pelanggan

Standard

???????????????????????????????Akhir pekan. Saya tidak punya rencana apa-apa, sehingga saya setuju saja ketika diajak suami untuk menemaninya membeli sesuatu ke Pasar Cipulir. Di tengah perjalanan hujan turun dengan deras. Dan seperti biasa jalananpun tergenang air. Banjir sebetis orang dewasa dengan cepat terjadi di jalanan yang agak cekung. Sudah pasti akibat saluran got yang mampet. Nah,kalau sudah begini jalur Kebayoran -Ciledug pasti macet.  Karena sudah kepalang,maka perjalananpun saya lanjutkan juga.

Setiba di Cipulir, kemacetan memang semakin menjadi. Agak ribet. Terlebih lagi,karena kami tidak tahu persis, di mana letak toko yang akan kami tuju. Jadi harus mencari-cari dulu. Akhirnya kami memutuskan untuk parkir di sebuah halaman gedung pertemuan yang tak jauh dari ITC. Lalu berjalan kaki dibawah hujan sambuil memegang payung.Setelah mengubek-ubek pasar sebentar, akhirnya kami menemukan apa yang kami cari. Lalu kamipun pulang.

Hujan masih turun.Walaupun tidak sederas tadi. Dan tentunya kami harus berjuang kembali melawan kemacetan. Seorang pengendara sepeda motor memberi kode bahwa ban kendaraan kami kempes. Saya setengah tidak percaya.

Pertama karena  tidak terasa.

Kedua karena beberapa orang teman saya pernah menjadi korban kejahatan (tasnya pernah dicuri dari dalam kendaraan, saat turun akan memeriksa bannya), gara-gara ada pengendara motor memberi tahu bahwa bannya kempes. Tapi ketika ada pengendara lain yang juga mengatakan bahwa ban kami kempes, akhirnya kami percaya dan  setelah mengucapkan terimakasih, pelan-pelan berusaha minggir dan mencari tempat untuk berhenti yang tidak memperparah kemacetan.

 Astaga!!! Bannya memang kempes banget. Antara velg dan aspal nyaris-nyaris tak ada jaraknya lagi. Kena ranjau paku yang suka ditebar orang di tempat-tempat tertentu? Saya menepis pikiran buruk saya. Barangkali tertusuk pakunya sudah cukup lama. Rasanya untuk ban tubeles begini kecil kemungkinan ban akan seketika sekempes itu jika baru saja kena paku.

Tapi apapun itu, tentu akan repot banget jika harus mengangkat dongkrak dan mengganti dengan ban serep di tengah kemacetan seperti ini. Belum lagi jika mempertimbangkan kendaraan yang kami bawa kebetulan yang besar dan berat. Walah! Tambah ribet lagi. Saya memandang wajah suami saya yang tampak lelah dan bete. Kasihan banget.Sayang saya tidak bisa membantunya.

Setelah berpikir sejenak, dan bercakap-cakap dengan orang yang di pinggir jalan,akhirnya kami memutuskan untuk terus berjalan dengan ban kempes.  Diinformasikan kepada kami bahwa tak jauh dari sana, setelah lampu merah nanti akan ada bengkel tambal ban. Mudah-mudahan velg bannya masih mampu bertahan.

Sampai di tempat tambal ban yang dimaksud, kamipun turun. Hujan masih turun rintik-rintik. Sang pemilik bengkel tertidur di bangku panjang. Kami membangunkannya berkali-kali. Namun si Abang tidak mau bangun.  “Bang! Bang!. Bangun, Bang! Kami mau tambal ban”. Tetap saja tidur dengan sangat lelap. Sementara tidak ada seorangpun di situ. Kami goyang-goyangkan badannya namun tetap tak terbangun. Kami  memanggil-manggil lagi lebih keras. Akhirnya tukang bengkel itu membuka matanya, melihat dengan malas kepada kami lalu menyuruh kami pergi dan mencari bengkel lain saja. Lalu iapun tetidur kembali di bangku dengan tenang. Saya tercengang dibuatnya. Kok ada ya orang yang menolak pelanggan? Mungkin ia tidak butuh duit?. Atau mungkin ia penganut paham “Duit pengen,kerja ogah”?  Waduuuh..tidak mengerti saya. Bagaimana bengkelnya bisa maju kalau teknisinya sepemalas ini?

Dengan perasaan kecewa akhirnya kami kembali menyusuri jalanan yang masih banjir dan macet. Kecewa bercampur khawatir akan nasib ban kendaraan kami yang bener-bener flat. Syukurnya tak lama kemudian kami bertemu sebuah bengkel lagi. Kali ini kami yakin akan berhasil. Hanya dengan melihat sepintas wajah teknisinya. Saat kami datang, ia masih sibuk menangani ban kendaraan lain. Namun ia memberi kode akan segera datang dan seorang temannya segera membantu kami melakukan parkir. Dalam waktu singkat, kendaraan kami siap kembali. Teknisi mengatakan bahwa tidak ada kebocoran ban. Cuma kempes saja. Lah…lalu apa? Mungkin sengaja dikempeskan oleh seseorang saat parkir? Entahlah!

Saya tak terlalu memikirkannya lagi, karena saya teringat akan si teknisi  bengkel pertama yang tidur di bangku. Sangat kontras sekali kedua bengkel ini. Bengkel yang pertama kelihatan lebih kumuh dan sepi. Bengkel kedua terlihat lebih bersih dan ramai. Bengkel pertama teknisinya kelihatan malas dan tertidur saat jam kerja, bengkel ke dua teknisinya kelihatan rajin, melek, sigap dan sangat aktif.  Apakah ada korelasi antara kemalasan dan ketidak-suksesan? Antara rajin dan kesuksesan?

Ha  ha.. Saya sih baru hanya sekali ini lewat di sini dan mungkin terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Sebenarnya saya tidak tahu persis. Saya hanya melihat sebuah snapshot – gambaran yang terjepret oleh kamera mata saya pada saat itu saja. Dua keadaan yang sangat kontras, seolah-olah memberikan contoh kepada saya dua ‘state of success’ yang berbeda (Bengkel ramai/sukses vs bengkel sepi/tidak sukses) yang disebabkan oleh tingkah laku yang berbeda (rajin vs malas). Walaupun kesuksesan bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor,namun faktor ‘usaha keras’ dari diri kita sendiri tentu merupakan salah satu faktor yang sangat penting juga.

Sudah jam tiga siang.Saya baru ingat kalau kami belum makan…

10 responses »

  1. apakah ada korelasi antara kemalasan dan ketidak-suksesan? Antara rajin dan kesuksesan?

    Saya rasa ada bu …
    sangat erat bahkan …

    bisa diprediksikan pelanggan enggan datang ke tempat bengkel atau tempat cuci mobil yang pekerjanya males …

    Mustinya kalau mau istirahat … dibuat saja tanda … TUTUP !

    Salam saya Bu

  2. Kesuksesan usaha apapun memang berdasar kpd kepuasan pelanggan. Kepuasan akibat korelasi positif dari pelayanan yang baik.
    untuk kasus tambal ban ini, mungkin mirip juga. Yang empunya malas melayani, mana ada lagi pelanggan yg kembali ke bengkel itu…
    Sebenarnya dlm posting yg sederhana ini mba Andani ingin mengungkapkan teori marketing, namun dibalut dg kisah nyata sederhana dan kalimat yg bersahaja. Setidaknya itu yang saya tangkap. Ini pendekatan yg baik agar pembaca tidak berkerut dahinya namun pesan sebenarnya tetap tersampaikan.
    Terimakasih sharing nya mba.
    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s