Dunia, Sebagaimana Kita Memandangnya.

Standard

Andani- MataSaya memandang keluar jendela, saat kendaraan bergerak lambat di tengah hujan. Langit terlihat kelabu penuh mendung yang menggelantung. Betapa membosankannya hari. Pikiran dan perasaan saya tersesaki oleh berbagai kesibukan dan tantangan yang tak henti-hentinya harus saya hadapi. Baik dalam urusan sosial maupun pekerjaan. Mengapa dunia terasa begitu sendu kelabu?

Kemanakah gerangan perginya hari-hari yang selalu cerah penuh warna bunga-bunga yang mekar bertebaran? Nyanyian burung? Cericit belalang yang terbang di padang rumput? Dengung lebah yang mencari nektar dari bunga ke bunga? Kemanakah perginya dunia yang sumringah, hijau kuning cemerlang di bawah sinar matahari?

Oh.. mengapa dunia terkadang terlihat kelabu? Sementara di saat lain ia terlihat berwarna kuning ? Pikiran saya melayang… Ke sekitar tahun 80-an.

Saat itu saya kost di Denpasar bersama kakak perempuan saya – seorang mahasiswi Kedokteran Gigi. Ia memiliki jadwal kuliah dan praktikumnya sendiri, yang tentu saja berbeda dengan saya yang mengambil jurusan lain. Kami jarang punya waktu untuk makan siang bersama. Kecuali hari Minggu. Namun demikian, kami memanfaatkan saat makan malam untuk selalu bersama dan saling bertukar pikiran.

Suatu sore kami memutuskan untuk makan malam di sebuah rumah makan yang letaknya di dekat tikungan Jalan Sudirman. Persis di seberang SMA II Denpasar. Tidak jauh dari kampus saya dan tidak jauh dari tempat kost kami. Kakak saya memarkir motornya dan sayapun melepaskan helm yang saya gunakan. Kami masuk ke dalam rumah makan itu. Karena masih sore, rumah makan itu belum terlalu rame. Saya  mengambil tempat dimana saya bisa memandang langit malam dan melihat bulan menyembul dari kerimbunan dedaunan.  Alangkah indahnya alam petang itu. Kakak saya duduk di depan saya. Kami memesan makanan lalu ngobrol ke kiri dan ke kanan – seperti umumnya semua saudara perempuan lakukan.

Sesaat kemudian, beberapa orang mahasiswa masuk. Mereka mengambil tempat duduk di samping kiri kami.  Dan merekapun ngobrol. Saya sempat melirik. Dan berpikir bahwa salah seorang diantaranya menarik hati saya. Entahlah. Tidak tahu apanya. Saya pikir barangkali wajahnya terkesan baik dan teduh. Senyumnya juga terlihat manis. Sikapnya terlihat sangat natural dan apa adanya. Lalu saya berbisik kepada kakak saya “Sst! Ada cowo ganteng di meja sebelah kiri kita. Tapi jangan langsung dilihat.Ntar dia tahu kita membicarakannya”kata saya hati-hati. Takut terdengar ke meja sebelah. “Mana?” tanya kakak saya. “Ssst!! Jangan kenceng-kenceng. Di sebelah kirimu. Tapi jangan lihat sekarang. Nanti saja! ”  kata saya lagi mengulangi berbisik pelan. Tentu saja saya takut mahasiswa itu tahu kalau diam-diam saya memperhatikannya. Kakak saya mengikuti instruksi saya dengan baik. Ia tidak segera menoleh.

Pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Lalu saya dan kakak saya mulai menikmati makan malam kami. Saya sudah lupa lagi perkara cowo ganteng itu. Seusai makan rupanya kakak saya sudah sempat menoleh ke kiri dan melihat ke cowo yang saya maksudkan. “Ahh!! Apanya yang ganteng? Giginya aja berantakan kaya gitu!. Nggak deh!” katanya. Lalu  ia mulai menasihati saya. Bahwa kalau mencari pacar,carilah cowo yang giginya bersih dan rapi.  Lah?? Saya benar-benar speechles oleh nasihat kakak saya. Rupanya kakak saya menilai ganteng tidaknya seorang cowo dari giginya!. Aneh!!!. Tentu saja saya tidak sependapat dengannya.

Saya mengangkat kembali kisah yang saya alami bersama kakak perempuan saya puluhan tahun yang silam itu karena saya pikir kisah itu menarik. Bukti kecil bahwa sebenarnya orang melihat segala sesuatu di dunia ini berdasarkan kaca matanya masing-masing. Seorang dokter gigi akan melihat dunia dalam frame dunia kedokteran gigi.  Mungkin berbeda dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Cara pandang kita terhadap dunia, sebagian dibentuk oleh pengalaman sehari-hari yang ditempakan kepada kita  oleh dunia sekitar kita masing –masing. Selain juga oleh nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh orang tua, keluarga, sekolah, lingkungan,  dan masyarakat dimana kita bertumbuh. Itulah barangkali sebabnya, mengapa dua orang yang berbeda bisa menginterpretasikan hal yang sebenarnya sama dengan  cara berbeda. Walaupun misalnya dua orang itu bersaudara, seperti halnya saya dan kakak saya.

Cara pandang kita, juga sangat dipengaruhi oleh suasana di dalam hati kita. Ketika jiwa kita sedang sendu, maka dunia akan terlihat kelabu. Dan dunia berbalik terlihat kuning  sumringah ketika kita berbahagia. Dunia juga menjadi sesak ketika kita berpikiran sempit. Sebaliknya dunia terlihat lapang ketika kita berpikiran terbuka. Dunia akan terlihat indah, subur dan menyenangkan jika kita melihatnya dengan kacamata positive. Dan sebaliknya, dunia akan terlihat gersang dan tandus jika kita melihatnya dengan kacamata yang negative.

Sungguh menit-menit yang sangat berharga dalam hidup saya. Ketika kesadaran saya bangkit.Di bawah hujan, di tengah kemacetan kota.

Sudah jelas saya harus merubah apa yang kelabu di dalam hati dan pikiran saya untuk menjadi kuning sumringah terlebih dahulu sebelum saya mengharapkan dunia berbalik warna untuk saya.  Karena dunia tidak akan pernah berbalik warna begitu saja dengan sendirinya tanpa saya sendiri berusaha membalikkannya. Sesungguhnya dunia akan selalu terlihat  seperti apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Dan bukankah saya selalu berjanji kepada diri saya untuk selalu berbahagia?

Let’s do it! And change the colour of our own world !.

34 responses »

  1. Intermezzo dikit, beberapa bulan lalu saya pernah membaca di Koran Tempo bahwa gigi berantakan itu justru menjadi tren di Tokyo, hahaha, ada-ada saja.

    Saya sependapat dengan mbak Ade, bahwa sesungguhnya dunia akan selalu terlihat seperti apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita.

  2. Rasanya tulisan mba ini penggambaran lain dari ajaran steven covey dlm bukunya 7 habits itu. Ini tentang paradigma itu ya mba?
    Ah maaf kalo saya keliru. Maklum sudah lama tidak ngoprek buku lama lagi.
    Salam,

    • Serupa ya? Sebenarnya sih saya tidak kepikiran Steven Covey saat menulis ini. teringat begitu saja akan kejadian lama, saat begngong sendiri di jalanan. Mungkin kebetulan yang sama. Tapi lumayan juga kalau menyerupai pemikirannya Steven Covey..he he

  3. Yang benar adalah seperti yang di katakan Nimade, kita harus melihat sesuatu dengan kacamata positif agar dunia terlihat kuning sumringah, jadi lapang, indah, subur dan menyenangkan….🙂

  4. Yup,saya setuju banget,mbak. buat pikiran kita untuk selalu berpositif thinking. semua tergantung dari diri masing-masing bagaimana harus menyikapi segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan.

  5. Iyep Mbak Dani, setuju sekali. Bahwa dunia ini dimulai dari pikiran kita. kalau pikiran mengatakan kelabu akan kelabulah semua yg terlihat. Tapi kalau kuning akan cerah semua yg tampak. Tantangannya kan disitu, yang membedakan pecundang dan pemenang, gimana membuat yg kelabu jadi kuning, cerah ceria..:)

  6. setuju banget dengan paragraph terakhir, seperti Ar Ra’du 11: “Sesungguhnya Alloh tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

  7. mbak…. mungkin secara tidak sadar, aku suka dengan cowok rambut hitam dan mata besar… Jadi deh tidak kawin dengan bule berambut kuning hehehehe
    Mbak sendiri menggambarkan dunia yang ceria dengan warna KUNING, sedangkan saya menggambarkan dunia yang ceria dengan warna pelangi….. hehehe itu saja sudah beda ya?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s