Zona Nyaman Kita.

Standard

Andani - Zona Nyaman

Setiap orang cenderung untuk bertahan pada posisi  yang telah terbukti membuat dirinya merasa aman dan nyaman. Kecuali jika ada satu hal yang sangat memaksa, maka barulah  umumnya orang akan meninggalkan posisinya itu.

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia tidak menguasai pengetahuan tentang jalan di wilayah Jakarta Selatan. Penyebabnya adalah karena ia tinggal di daerah Citra Garden, Jakarta Barat. Sehingga yang ia kenal hanyalah wilayah Daan Mogot dan Jakarta Barat saja. Atau paling jauh Jakarta Utara, karena sebelumnya ia sempat tinggal di daerah itu.  Wilayah lain, terutama yang masuk Jakarta Pusat dan Selatan  tentu ia kurang paham. Apalagi Jakarta Timur.Lebih parah lagi. Ia merasa sangat gamang jika harus bepergian ke daerah itu seorang diri.

Sebelumnya saya juga mendengar cerita serupa dari seorang kenalan lain. Ia bercerita bahwa ia tinggal di daerah Ciledug dan berkantor di Bumi Serpong Damai. Dengan demikian, ia hanya tahu wilayah seputaran Bintaro – Ciledug – BSD.  Sedemikian merasa nyaman dan tenteramnya di daerah itu, sehingga ia juga merasa kurang nyaman jika harus pindah ke perumahan di luar wilayah itu.

Hal menarik yang saya pikirkan di sini adalah bahwa pada dasarnya, setiap orang merasa nyaman berada di wilayah yang sudah di kenalnya masing-masing.  Dan merasa kurang nyaman jika harus keluar wilayahnya itu. Jelas sekali zona yang saya ceritakan disini adalah zona nyaman dalam artian zona geography yang sesungguhnya. Namun sesungguhnya, bukan hanya geography saja yang membentuk zona-zona di dalam diri kita. Banyak aspek-aspek kehidupan juga membentuk zonanya masing-masing.

Salah satu contohnya adalah  pergaulan. Setiap orang tentu berinteraksi dengan orang-orang lain di sekelilingnya. Jika kita petakan, hubungan ini juga bisa kita grouping menjadi beberapa kelompok. Pertama adalah kelompok para sahabat dan orang-orang dekat spt misalnya kakak, adik, keponakan, tante dan sebagainya. Berikutnya adalah kelompok teman-teman yang kita kenal namun tidak terlalu dekat. Lalu orang-orang yang tidak kita kenal namun masih ada kaitannya dengan kita, misalnya orang-orang sekampung, sekota, sesuku, seagama,sebangsa dan sebagainya. Dan berikutnya adalah orang-orang yang tidak kita kenal dan berbeda dengan kita dari sisi bangsanya, bahasanya dan sebagainya..  Dan berikutnya lagi jika ada, barangkali adalah para bangsa allien yang menghuni planet lain dalam galaxy kita atau bahkan dalam galaxy lain dalam semesta.

Tentu saja kita merasa paling suka berada di lingkungan kelompok pertama. Inilah zona nyaman kita. Dimana kita merasa aman, nyaman dan tenteram. Semakin jauh semakin asing rasanya bagi kita.

Aspek kehidupan yang lain yang juga membentuk zona dalam diri kita adalah pengetahuan dan ketrampilan kita.  Serupa juga. Ada skills dan knowledge yang kita kuasai, ada yang sedikit kita kuasai, ada yang kita tahu tapi tidak kita kuasai, dan bahkan ada juga yang dengarpun tidak pernah. Jika kita diminta berbicara, berpendapat, atau bekerja di bidang yang kita ketahui tentu kita merasa sangat senang. Itulah zona nyaman kita. Semakin tidak kita ketahui, tentunya kita merasa semakin khawatir dan tidak percaya diri.

Masih banyak lagi aspek kehidupan yang membuat zonanya di dalam diri kita. Dan sangat jelas kita selalu merasa lebih senang berada di zona nyaman kita. Bagaimana kalau kita mencoba keluar dari zona nyaman ini?

Tentu sangat sulit dan gamang membayangkannya, bukan? Tapi ternyata beberapa orang berani melakukannya. Berani mengalahkan kekhawatirannya dan menanggung resiko atasnya. Dan benarkah itu sesuatu yang sangat sulit dilakukan dan sangat menakutkan?

Mungkin jawabannya memang sangat relatif. Namun dari sekian banyak orang yang saya tahu meninggalkan zona nyamannya, kelihatannya banyak yang mampu survive dan bahkan kemudian membentuk zona nyaman barunya justru di zona yang tadinya ia merasa kurang nyaman. Misalnya orang yang tadinya tinggal di kota kecil lalu pindah ke kota besar. Atau karyawan dengan posisi yang mapan berani mengambil resiko pindah quadrant menjadi pengusaha. Atau orang yang berpindah profesi, misalnya dari seorang arsitek lalu menjadi pemasar. Dan sebagainya.  Banyak yang gagal dan tak terbilang juga banyaknya yang sukses. Faktor penentunya tentu seberapa besar upaya seseorang untuk beradaptasi dan aktif di dalam lingkungan barunya. Satu hal yang perlu kita ingat adalah, bahwa zona nyaman itu terbentuk akibat tingginya freqwensi kontak kita dan kebiasaan kita.  Semakin sering kita kontak atau bergaul, atau membiasakn diri melakukan sesuatu, tentu kita akan semakin terbiasa. Dan kebiasaan inilah akhirnya menciptakan zona nyaman.

Jadi  Zona Nyaman alias Comfort Zone, sesungguhnya sangat bisa kita ciptakan dari sebuah zona yang tadinya kurang nyaman…

45 responses »

  1. …. Namun dari sekian banyak orang yang saya tahu meninggalkan zona nyamannya, kelihatannya banyak yang mampu survive dan bahkan kemudian membentuk zona nyaman barunya justru di zona yang tadinya ia merasa kurang nyaman.

    Saya juga sepaham dengan kalimat di atas.

    Saya jadi teringat dengan sebuah poster yg nafasnya sama dg pesan mbak Ade di atas, kira-kira bunyinya gini:
    If you’re in a comfort zone, afraid to venture out,
    Remember that all winners were at one time filled with doubt.

    • ya ya.. Pak. Poster itu bener banget.. semua orang yang sukses tentu pernah mengalami keraguan dan dag dig dug penuh kekhawatiran sebelum ahirnya memantapkan diri untuk terus bergerak mencapai apa yang diinginkannya ya.. Thanks Pak..

  2. jadi inget saat awal pindah rumah dulu. istri merasa tidak nyaman di suasana yg baru, baru beberapa hari di tempati minta balik lagi ke rumah mertua… untungnya bisa di nasehati dan sekarang eh malah jadi sangat nyaman tinggal disitu hehe..

  3. Jika kita meyakini bahwa zona nyaman itu tidak tunggal, maka berbahagialah kita. Tapi kalau mengira bahwa zona nyaman itu cuma satu, maka celakalah kita.

    Ketika zona nyaman kita tinggalkan, kita harus yakin bahwa ada zona nyaman yang lain.
    Salam

  4. Cerita ini mengingatkan sy dg seorang sahabat dekat sy yg dg perhitungan penuh keluar dari zona nyamannya. Dari seorang direktur sebuah bank swasta terkenal dg pendapatan ratusan juta perbulan dan berbagai fasilitas yg didapatkannya bersama keluarga. Dia tinggalkan, krn dia mempunyai target di usia tertentu harus keluar dr pekerjaan dan punya usaha sendiri…..🙂

  5. iya nih mbak made biasanya kita sangat sangat nyaman apa yang sudah menjadi zona aman kita.
    kalau zona aman yg berkaitan dg pekerjaan sih gak begitu masalah, asal kita selalu meningkatkan kualitas diri. tetapi jika masalah dg bersosial rasanya mempertahankan zona aman kita akan berdampak buruk buat kita. rasanya akan bergantung sekali pada orang tertentu saja.

  6. Dulu zona nyaman saya adalah ketika saya bekerja tiap bulan bisa pegang uang sendiri dari gaji, lalu saya menikah dan tinggal di luar Indonesia, hampir 2 thn tdk bekerja permanet, harus belajar bahasa asing (susah), harus menyesuaikan dengan perbedaan adat istiadat di negara baru. Semoga zona nyaman segera datang kembali 🙂.

  7. Saya tuh orang yg terperangkap dalam zona nyaman Mbak Dani..Malas berubah karena berubah tak enak dan butuh waktu agar nyaman di zona baru.Akibatnya ya gitu deh gak banyak yang saya hasilkan dalam kehidupan hehee..Bukannya gak tahu bahwa sukses itu perlu keluar dari comfor zone, tapi gak cukup kuat motivasinya agar saya selalu nyaman dengan perubahan..

  8. Aku termasuk salah satu orang yang takut keluar dari zona nyaman, tapi pas harus ikut suami pindah ke Swedia mau ga mau ya dijalanin aja deh. Ga punya temen, ga bisa bahasanya, ga ada kerjaan.. bener2 cuma bawa tas isi baju sama badan. Tapi setelah beberapa lama ternyata bisa juga bikin negara yang baru ini jadi zona nyaman yang baru.. susah tapi ternyata ga mustahil juga..😀

  9. Zona nyaman kita tanpa pagar tetap, bisa diekspansi, dimodifikasi sehingga bukannya terkurang dalam ‘zona’ namun bisa menikmati zona tersebut. Terima kasih pencerahannya Jeng Ade. Salam

  10. udah bawaan umum sebagian dari kita kayaknya
    lebih suka bertahan walau kondisi kadang kurang menguntungkan
    padahal kalo udah nyobain bergeser, ga bakalan semenakutkan apa yang sebelumnya dibayangkan

    • ya.. kayanya jadi kurang dapat kesempatan untuk melihat hal lain yang mungkin saja ada yang lebih baik daripada yang kita tahu..Menurut saya zona nyaman jadi berbahaya terutama karean sangat membatasi pemikiran kita dan jika kita kurang bijak untuk mendengarkan atau membuka hati untuk pendapat orang lain, bisa merubah kita ke arah kepicikan pemikiran..

  11. keluar dari zona nyaman itu memang butuh tekad yang kuat, bukan cuma tekad diawal saja, tapi juga selama proses peralihan. Udah tahus sih teorinya gini, tapi saya sendiri masih juga susah untuk implementasinya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s