Beginilah Cara Saya Mencintaimu…

Standard
Bangli, 2006

Bangli, 2006

Tanggal 24 Februari, lima tahun yang lalu, bapak saya I Made Gina Hadjana, meninggalkan kami semua. Menyusul kepergian ibu yang meninggalkan kami tujuh tahun sebelumnya. Bapak saya adalah sosok pria yang sangat saya kagumi. Dan saya yakin, beliaulah yang sebagian besar membentuk karakter saya hingga menjadi diri saya seperti saat ini.  Walaupun saya tahu bahwa beliau sekarang sudah tenang di alam sana dan terlepas dari ikatan dunia fana ini, entah kenapa sulit bagi saya untuk memaksa diri saya agar tidak meneteskan air mata saat mengenang kebersamaan kami yang sangat hangat. Kerinduan merayap ke hati saya.

Untuk melupakan kesedihan saya,  kali ini saya akan bercerita tentang hal-hal konyol  saja yang saya ingat tentang Bapak saya – yang membuat saya tertawa sendiri jika mengingatnya.

Pohon Kangkung  Berbumbu.

Suatu kali ketika duduk di bangku kelas empat SD, saya berniat untuk belajar memasak. Karena Ibu saya adalah super mom yang super sibuk dan tak pernah ada di rumah pada sore hari, maka yang mengajarkan saya memasak adalah kakak sepupu saya. Saya diberikan petunjuk mengenai cara memasak Sayur Kangkung setahap demi setahap. Setelah mengerti,lalu dilepas sendiri. Sayapun mulai dari membersihkan sayur, memotong dan mengambil hanya bagian yang baiknya saja, membersihkan dan mengiris bumbu lalu terakhir menumis. Saking girangnya, maka sayur kangkung pertama itu saya hidangkan untuk bapak saya.  . Sayapun menunggu dengan cemas, semoga Bapak happy dengan hasil masakan saya.  Bapak saya mencicipinya lalu berkata kepada saya .“Sayurnya enak, De. Tapi  yang dihidangkan ini, sebenarnya sayur kangkung apa pohon kangkung yang dibumbuin?” Tanya Bapak saya sambil tertawa meledek. Oh???. Rupanya sayur kangkung saya kurang matang.

Tidurlah Di Lapangan.

Aku dan BapakkuHal yang paling mencekam yang saya rasakan sebagai anak kecil adalah setiap kali malam datang menjelang. Ibu saya sibuk bekerja mengurus pabrik penggilingan berasnya. Lalu Bapak saya pergi menjemput ibu. Rata-rata mereka baru pulang diatas pukul 7  atau 8 malam.  Tinggallah kami anak-anak kecil di rumah, dengan hanya dijaga oleh seorang kakak sepupu saya yang umurnya juga tidak jauh berbeda dari kakak saya. Malam selalu gelap gulita. Kami hanya mengandalkan lampu minyak tanah. Maklum jaman dulu belum ada listrik. Saya selalu khawatir akan kegelapan malam. Rasanya sesosok misterius bisa saja datang entah darimana. Mungkin dari sawah.  Atau dari arah tanah lapang dekat rumah. Atau dari sungai. Datang mengendap-endap lalu menyergap. Iih..ngerinya!.

Suatu malam, Bapak & Ibu saya pulang jauh lebih malam dari biasanya. Saya benar-benar tidak bisa tidur menahan ketakutan. Begitu mereka datang, saya lalu komplain kepada Bapak saya. Mengapa mereka pulang sangat larut sementara saya sangat ketakutan. Saya sampai tidak berani tidur saking takutnya. Lalu Bapak saya berkata “Rumah adalah tempat yang paling aman di dunia. Jika di rumah kita sendiri saja masih merasa takut,   apakah kamu lebih berani tidur di lapangan?”.

Mengapa Harus Ke Rumah?

Aku dan Bapak kuBapak saya sangat protektif terhadap anak perempuannya. Cita-citanya cuma satu, yakni memastikan anak-anaknya lulus perguruan tinggi semua. Jadi jangan sampai ada yang terputus di tengah jalan. Pokoknya jangan kecantol cowo sebelum jadi dokter. Segala hal yang berpotensi mengganggu proses belajar kami, sedapat mungkin disingkirkannya. Saya bahkan kadang-kadang merasa Bapak saya agak ‘memusuhi’ pria yang naksir saya saat jaman sekolah dulu. Tentu saja bukan memusuhi dalam artian sesungguhnya. Maksudnya hanya berusaha “menunda ikatan’ sejauh mungkin  sambil memastikan keteguhan hati pria yang naksir anaknya. Kalau memang hatinya teguh, suatu saat ia pasti akan datang melamar pada waktunya. Tentunya maunya Bapak saya, ya…saat saya sudah berhasil menjadi dokter. Tentu saja sayapun tidak berani melanggar peraturan Bapak saya yang sangat ketat itu. Jadi, teman cowo tidak ada yang boleh main ke rumah! “Bertemu di sekolah saja kan cukup. Mengapa harus ke rumah?” Tanya Bapak saya yang membuat saya dan kakak perempuan saya langsung keder.

Anaknya Pak Gina Ya?

bapakkuSuatu hari saya sedang mengambil mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar”. Dosen saya Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, berdiri di depan kelas dan menerangkan sesuatu. Beberapa kali saya mengajukan pertanyaan untuk memuaskan keingintahuan saya. Professor pun menjawab pertanyaan saya dan menjelaskannya dengan penuh kesabaran. Saat diskusi yang kesekian kalinya, tiba-tiba Professor itu berhenti  berbicara dan memandang ke wajah saya “Anaknya Pak Gina ya?” tanyanya. Oops!. Kok tahu? Saya jadi bingung sendiri.  Sayapun mengiyakan. Memang saya anaknya Pak Gina. Tapi darimana bapak ini tahu nama bapak saya ya?.

 “Dari tadi saya sudah berpikir. Cara kamu berbicara mengingatkan saya akan Pak Gina, teman baik saya dulu waktu sama-sama di Gajah Mada. Senyumnya juga persis sama. Salam sama bapak ya..” Kata Bapak Profesor itu ketika jam kuliah sudah usai. Oh, saya tidak tahu kalau saya mirip dengan bapak saya. Tadinya saya pikir saya lebih mirip dengan Ibu saya.

Belakangan kemudian saya cross-check dengan bapak saya, ternyata Professor Ngurah Bagus memang salah seorang sahabat bapak saya saat jaman beliau kuliah di Jojga. Saat itu Bapak saya mengambil jurusan Ekonomi dan Politik, sedangkan Prof Bagus mengambil jurusan Sastra. Horee!! Bapak saya ternyata terkenal. Buktinya, orang terkenal macam Profesor Ngurah Bagus saja hapal akan senyumnya. Berarti terkenal juga kan?  he he he..  Maksa!.

Tentu saja masih banyak sekali cerita tentang Bapak yang saya simpan dalam hati saya. Seorang bapak yang sangat menyangi anaknya. Seorang Ketua Partai Politik  yang tangguh di jamannya.  Seorang pemuka adat dan pemimpin agama yang setia. Seorang penulis dan pencinta sastra traditional. Bergudang cerita sudah ditorehkannya di dalam hidup saya.

Beginilah cara saya mencintai Bapak saya. Tidak dengan meneruskan titik airmata kesedihan. Namun selalu mengenang setiap kebersamaan yang bermakna, yang memberi nutrisi bagi ladang hati, yang memberi semangat dan membuat jiwa saya semakin kuat dari hari ke hari untuk menempuh kehidupan.  Karena cinta bukanlah berarti harus selalu bersama.

Love You, Dad!. My best kisses for mom too..

43 responses »

  1. wah, kisah yang sangat mengharukan……….
    endingnya semakin menunjukkan bahwa bapak adalah manusia yang meninggalkan nama baik……
    kaka punya bapak yang keren!!!!

  2. bertanggung jawab banget …
    seperti ga ngebolehin pacaran terkadang kita protes dan dalam hati menggerutu. Tapi orang tua pasti punya pikiran lain. Dan itu yang gak bisa dicapai oleh nalar seorang anak

  3. Saya suka cara Mbak Sri Andani mencintai Ayahanda. Tidak dengan berlinang airmata tapi mengenang setiap kebersamaan yang bermakna
    Orang tua adalah teladan bagi anak2nya.
    Setiap hal yang dilakukan orang tua, pastilah yang terbaik untuk kita.
    Tapi kadang ada orang menyadarinya ketika orang tua sudah tiada.

    • ya bener banget Pak Mars. Saya kadang-kadang mengingatkan juga kepada saudara/sahabat untuk lebih memperdulikan orangtuanya, menyempatkan diri menjenguk dan memperhatikan kebutuhannya, selagi masih sempat… agar tidak menyesal di kemudian hari..

  4. Saya baru tahu kalau cowok itu nyantoli lho, Bunda. hihihhi
    Ok deh, gak kecanto. . . 🙂

    Katanya anak perempuan memang lebih mirip dengan Bapaknya. . . .🙂
    Senyum Bunda sama dengan Ayahnya ya?🙂

  5. there is no perfect father -but a father will love her daughter perfectly. selalu tersentuh setiap kali seorang anak perempuan berbicara tentang ayahnya. dengan penuh kerinduan. dengan penuh kasih sayang. salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s