Tentang Kepercayaan Diri: Face Your Fears & Just Do It!!.

Standard

Andani - hosting 1Anak saya memberitahukan bahwa ia ditunjuk menjadi Host untuk “Speech & Story Telling Competition” antar sekolah. Lalu meninggalkan pesan untuk saya “Mom, parent can come at 9.00. Do you want to come?”. Oh, tentu setiap ibu ingin melihat penampilan anaknya di panggung. Ingin memberikan dukungan. Dan menyuntikkan semangat, agar anaknya tampil prima, percaya diri dan sukses. Sayang sekali. Kebetulan saya sangat sibuk di kantor hari itu sehingga tak bisa ijin dari pekerjaan begitu saja (….gigit jari).

Demikianlah saat acara itu berlangsung, sambil sibuk bekerja, separuh pikiran saya melayang ke anak saya. Memikirkan bagaimana ia  tampil di panggung menjadi host alias ngeMCi di sebuah pertarungan Pidato dan Mendongeng dalam bahasa Inggris antar sekolah.   Audience-nya tentu bukan hanya teman-teman, kakak-kakak kelas ataupun bapak dan ibu-bapak guru sekolahnya saja. Namun juga pasti murid-murid dari Sekolah lain di Jakarta.  Apakah ia akan mampu mengatasi kegugupannya? Apakah akan mampu mengatasi kelelahan? Mampu membawakan suasana pertarungan itu menjadi hidup dan meriah? Apakah ia akan menguasai panggung dengan baik? Apakah vokalnya akan terkontrol pada level yang prima? Apakah  bahasa Inggrisnya tidak belepotan? Jelas dan mudah dimengerti? Berjuta pertanyaan mengganggu pikiran saya. Apakah ia akan cukup percaya diri? Hhhmm…

 “Pe De aja lagi!!!!”  sering sekali kita mendengar seseorang berkata seperti itu. Tujuannya tentu untuk memberi semangat kepada orang lain agar lebih percaya diri. Bagi orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, kalimat ini tentu terasa sangat ringan dan mudah. Tapi bagi orang  yang tidak terlalu percaya diri, tentu menjalankan kalimat ini sama sekali bukan pekerjaan mudah, bukan? Karena umumnya rasa gugup, khawatir, malu, takut dan sebagainya  justru menguasai diri orang yang tidak percaya akan dirinya. Lalu bagaimana kita mengatasinya?

Menurut saya, kepercayaan diri memang tidak muncul begitu saja pada setiap orang. Namun bisa dilatih melalui proses yang bisa kita upayakan sendiri. Terlepas dari apakah cara saya salah atau benar dalam mendidik anak, tapi inilah hal-hal yang biasa saya lakukan untuk meningatkan rasa percaya diri anak saya.

Hadapi Rasa Takut.

Andani - HostingSejak kecil, stiap kali ada acara tujuh belasan,  atau diundang ke ulang tahun temannya, saya selalu mendorong anak saya untuk maju ke depan. Untuk ikut bernyanyi atau ikut menjawab quiz.

Bisa nyanyi atau tidak, itu nanti urusan belakang. Walaupun melafal lagu aja masih “bayonku ada yima, yupa-yupa waynanya..”  pokoknya maju aja dulu.

Bisa jawab atau tidak bisa jawab quiz, juga urusan belakang. Salah atau benar jawabannya nggak penting. Mau jawab ‘burung melahirkan anak’  atau ‘ kambing bertelur’pun nggak apa-apa. Yang penting maju dulu. Mengapa?

Karena saya pikir, jika kita berada di panggung maka kita akan melihat  wajah banyak orang yang melihat ke arah kita. Awalnya mungkin takut. Namun semakin sering kita maju ke panggung, tentu semakin sering kita melihat wajah banyak orang. Dengan demikian akan membuat kita terbiasa dan tidak takut lagi menghadapi banyak orang. Tidak lagi  silau menghadapi tepuk tangan  dan tidak lagi minder mendengar cemoohan orang lain.

Dengan berusaha mengatasi rasa takut di panggung, maka setahap demi setahap kita akan mendapatkan kekuatan baru. Mendapatkan keberanian dan rasa percaya diri yang semakin meningkat dari setiap pengalaman demi pengalaman di panggung. Hingga akhirnya rasa khawatir dan gugup itupun perlahan-lahan sirna dari wajah kita. Dan pada akhirnya kita mampu berkata kepada diri kita sendiri “Saya berhasil mengalahkan ketakutan saya. Dan pasti sanggup menghadapi tantangan yang berikutnya”.

Just Do It!

Andani - hosting 2Hal lain yang saya pikir juga sangat membantu kita dalam membangun kepercayaan diri adalah pengalaman. Sesuatu yang belum pernah kita lakukan umumnya membuat kita khawatir. Sebaliknya jika kita pernah melakukan sesuatu (terutama jika sukses), umumnya akan membuat kita merasa sudah paham dan lebih percaya diri untuk mengulanginya lagi.

Jadi setiap kali jika anak saya berkata “Tidak bisa, Ma!”, saya lebih sering berkata kepada mereka “Tidak bisa karena kita belum melakukannya. Coba aja kita lakukan dulu. Pasti bisa.”. Kecuali jika memang saya lihat situasinya memang tidak memungkinkan mereka untuk melakukannya, maka saya tidak akan menyuruh mereka mencoba. Untungnya anak-anak saya biasanya mau-mau saja jika saya suruh begitu. Barangkali karena merasa tidak punya pilihan lain untuk mengatakan tidak bisa (..ibu yang pemaksa).

Dan pada kenyataannya jika sekali saja kita sukses dalam melakukan sesuatu, maka kebanggaan dan kepercayaan diri akan tumbuh dengan sendirinya. Jadi, lakukanlah dulu!.   Toh kepercayaan diri akan datang menyusul.  Dan jika kita beruntung bisa sukses, orang akan datang menyalami kita atas kesuksesan yang kita lakukan. Dan ini tentunya akan semakin meningkatkan rasa percaya diri kita.

Saya menarik nafas panjang setelah memikirkan itu.

Malam sebelumnya saya sempat bertanya kepada anak saya, apakah ia siap dengan tugasnya menjadi MC? Ia bilang siap. Saya jadi teringat masa saya kecil dulu. Juga harus menghadapi pertandingan serupa yang menguji kepercayaan diri. Lomba baca puisi, lomba menari, lomba drama, Cerdas Cermat, Cepat Tepat, Lomba pidato, jadi MC dan sebagainya. Sami mawon lah!. Toh saya sudah melampauinya waktu itu. Sekarang giliran anak saya. Ya sudahlah… Mengapa saya yang harus khawatir ya?. Biarkan ia menghadapinya.

Saya percayakan semuanya pada anak saya sendiri dan sisanya ya  saya serahkan semoga Tuhan mengatur dengan cara yang terbaik….

Membayangkan itu, akhirnya saya menjawab pesan anak saya :

“Unfortunetely, can not come. Too many things in the office.

 Face your fears and Just do it!. Good luck, son!”

23 responses »

  1. Mau jawab ‘burung melahirkan anak’ atau ‘ kambing bertelur’pun nggak apa-apa. Yang penting maju dulu !!!

    Setuju Bu … Just Do It …
    Rasakan pengalaman itu …
    selanjutnya … pasti akan menikmati …

    salam saya Bu

  2. Salah satu kebanggaan orang tua pada anak selain prestasi adalah berani tampil, satu hal yang jarang dimiliki oleh anak2 jaman sekarang.
    Sebagian besar anak sekarang cuma hafal lagu dan grup boyband/girlband serta gadget terbaru dowang…

  3. Mbak, kalo baca tulisan mbak Made, saya juga sepertinya termasuk kategori ‘ibu yang pemaksa’.
    Saya selalu mencoba dia menyuruh melakukan sesuatu, masalah mau terus suka atau nanti berhenti, itu masalah nanti.
    yang penting coba saja dulu…

    Selamat buat putranya mbak, sukses terus, smoga selalu bisa menjadi sumber kebahagiaan dan kebanggaan bagi keluarga😀

  4. Pingback: THE NINE FROM “CARING EMERALD” | The Ordinary Trainer writes ...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s