Ubi Gembili– Sumber Karbohidrat Yang Terlupakan.

Standard

Ubi KelapaAkhir pekan, saya pergi ke pasar. Saat berbelanja sayuran,saya melihat sejenis umbi yang aneh di kejauhan. Besar lonjong sebesar buah melon, tapi berkulit coklat kotor. Apa itu? Rasanya saya belum pernah melihat umbi itu. Seorang pengunjung pasar mengatakan bahwa itu adalah Uwi.  Ada yang mengatakan namanya Uwi Kelapa. Digunakan untuk pengganti nasi, dan sekaligus sebagai obat untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita Diabetes mellitus. Saya lalu mendekat. Ooh..rupanya yag saya lihat adalah Ubi – bukan sesuatu yang asing bagi saya yang memang lahir dan besar di sebuah kota kecil seperti Bangli.

Di Bali, kita mengenal beberapa jenis umbi-umbian yang umum dimakan sebagai pengganti karbohydrat. Tentunya selain Kentang (Potato) atau Sentang dalam Bahasa Bali, yang paling umum dikonsumsi adalah Ubi Rambat (sweet potato). Tapi kalau di Bali, Ubi rambat tidak disebut sebagai Ubi,melainkan “Sela” atau “Sela Bun”. Lalu ada Singkong/Ubi Kayu (Cassava) yang dalam bahasa Balinya disebut dengan “Sela Sawi”. Lalu ada  lagi Talas , yang dalam bahasa Balinya disebut Keladi. Berikutnya adalah ya Ubi ini (Yam atau Gembili ), yang aslinya memang bernama “Ubi” saja dalam Bahasa Balinya. Lalu masih ada lagi disebut umbi Suweg, lalu Gadung dan Ganyong.

Sudah lama saya tidak melihat jenis umbi-umbian yang saya sebutkan nomor 1-4 dari terakhir di atas.  Termasuk juga jenis Ubi (Discorea alata L) yang saya temukan di Pasar Segar Bintaro ini. Ubi ini ada yang berwarna ungu dan ada juga jenis yang berwana krem. Dan ukurannya juga ada yang besar (mungkin 10- 25 kg atau bahkan lebih), ada juga yang lebih kecil (1-2 kg). Ada yang bercabang-cabang, ada yang lurus panjang dan ada yang bulat. Bahkan ada lagi yang memiliki umbi gantung di udara,  kecil-kecil seukuran kentang di batangnya. Batangnya merambat dan biasanya melilit tanaman penaung. Daunnya berbentuk hati. Sayang saya tidak punya gambarnya.

Ubi jenis ini pernah punya kedudukan yang cukup penting di mata masyarakat Bali  pada jaman dulu. Setidaknya itu yang saya pikir, jika saya ingat sepotong lyric dari sebuah Tembang Traditional Bali yang berjudul I Bungkling di bawah ini.

“I Bungkling ya jani kema/mengulayang ngundit ubi/Ida Gede raris nyingak/katon ubi/luur luur/

Ida Gede mengandika/“Cai Bungkling, uling dija megretgotan?”

Kalau diterjemahkan bebas kurang lebih maknanya begini :“Si Bungkling akhirnya pergi ke sana, berjalan limbung sambil menggotong Ubi/ Ida Gede lalu melihat itu, melihat Ubi yang sangat besar-besar/ Ida Gede lalu menyapa “ Hai Bungking, datang dari mana kok sampai kerepotan begitu?”

Walaupun demikian, waktu saya kecil awalnya saya pikir, ubi ini adalah makanan saat musim paceklik. Alias ” Makanan Orang Miskin”. Sumber karbohydrat pengganti jika beras tidak ada. Tinggal ngambil di ladang-ladang. Karena liar. Dan kalaupun sengaja ditanam, tidak perlu diurus dengan baik.  Dulu saat kecil saya sering mengkonsumsi ubi ini. Sangat mudah ditemukan di Pasar Bangli. Selain itu, ibu saya juga biasa menanamnya di halaman rumah kami. Atau kadang-kadang kerabat atau bahkan penjaga ladang juga membawakannya ke rumah kami.

Tapi sekarang saya berpikir lain. Sebenarnya ubi ini bahkan lebih mahal dari besar ( Rp 15 000/kg). Sementara beras, harganya masih bervariasi atara Rp 6 000 (beras jatah Bulog) – 15 000/kg (beras merk lain kalau beli di Supermarket). Rupanya jaman sekarang ubi ini mulai banyak dibudidayakan untuk memenuhi pasokan bahan karbohydrat alternatif bagi penderita Diabetes yang jumlahnya cukup banyak.  Sangat lumayan jika dilihat dari skala komersialnya. Jadi, ubi ini sekarang sudah bertransformasi menjadi “Makanan Orang Kaya”.

Seingat saya, ubi ini biasanya dikukus oleh ibu saya lalu dimakan bersama dengan kelapa parut. Atau bisa juga digoreng. Untuk teman minum teh sore hari atau sarapan pagi.  Rasanya enak, tentu saja.

 Yuk, kita coba !.

16 responses »

  1. Berbagai macam ubi sudah saya coba, paling senang meskipun hanya dikukus ditaburi kelapa parut dengan sedikit gula, apalagi ditemani secangkir teh hangat…..🙂

  2. Mbak Dani sekarang aku masak nasi suka campur-campur, antara kacang hijau, kacang merah dan ubi ungu yg di potong kecil-kecil. Jadi nasi di rumahku gak murni beras tapi campuran satu atau dua biji dan umbi diatas. Jadi kalau kepasar lagi nanti aku cari umbi ini buat nyampur nasi juga hehehe..

  3. Mbaaaak…saya juga suka banget gembili yang direbus atau dikukus.
    Tanpa kelapa parut tapinya. Saya lebih suka kalo gembili itu dimakan begitu saja…sensasinya beda🙂

  4. Pengembangan pangan lokal Jeng, kami di daerah masih mudah memperolehnya. Beban pemenuhan kh dari beras berkurang nih kalau keanekaragaman pangan meningkat. Putra-putra bisa menikmatinya Jeng? Selamat beraktivitas di hari baru. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s