Uang Jajan Anak Di Sekolah.

Standard

???????????????????????????????Ketika saya melintas di kantin Sekolah Pembangunan Jaya, saya melihat seorang murid (tebakan saya sekitar kelas 2 atau kelas 3 SD sedang memesan nasi goreng kepada ibu kantin.  “Bu, nasi gorengnya satu, ya. Nggak pake bawang, nggak pake bumbu, nggak pake sayur, nggak pake saos,  nggak pake sambel”. Lho??#*?.  Nasi goreng apa jadinya itu? Saya tertawa geli mendengarnya.

Walaupun penasaran akan apa yang nantinya akan disajikan oleh Ibu Kantin atas pesanan anak itu, terus terang saya tidak punya waktu  untuk menunggu. Kelihatannya Ibu Kantin masih terlalu sibuk meladeni pesanan anak-anak yang lain. Dan anak itu entah berada di antrian yang keberapa. Sayapun berlalu dari situ. Melintasi tempat yang penuh dengan pedagang makanan & minuman lain di luar area kantin. Ada kentang BBQ, teh poci, coklat, mie instant rebus atau goreng, sosis, burger, hotdog dan lain sebagainya. Kebanyakan makanan cepat saji yang bersaos merah. Melihat tempat jajanan yang dikerumuni anak-anak sekolah, saya jadi teringat akan anak saya sendiri.

Memberi Uang  Jajan vs Tidak Memberi Uang Jajan.

Pernah suatu hari saya datang ke acara counseling orang tua  dengan guru anak saya di sekolah. Saya diberikan masukan mengenai kelebihan dan kekurangan anak saya. Mana area yang merupakan kekuatan anak dan perlu didorong agar tambah sukses dan mana area yang membutuhkan perbaikan. Salah satu area yang di’high-light’ oleh gurunya adalah bahwa anak saya suka menyendiri, pendiam dan kurang bergaul. Saat jam istirahat, ia lebih suka bermain sendiri atau hanya duduk-duduk saja di bangku kelas, sementara temannya berhamburan main keluar kelas. Terus terang saya kaget mendengar cerita gurunya. Karena di rumah ia tidak seperti itu dengan anak-anak tetangga. Biasa saja. Periang, banyak bermain dan banyak berbicara.

Ketika ada kesempatan ngobrol dengannya,sayapun menyinggung  soal ke’kuper’an anak saya itu di sekolah. Dan bertanya,apakah benar apa yang diceritakan oleh ibu gurunya itu. Dan kalau benar, tentu saja saya penasaran apa yang menyebabkan ia bersikap seperti itu? Bukankah saya selalu menjelaskan kepadanya bahwa pintar saja tidak cukup. Untuk mempermudah sukses ke depannya, kita selalu perlu menyeimbangkan kemampuan berpikir akademis kita dengan kemampuan bersosialisasi kita. Perlu bergaul dengan teman-teman. Kakak-kakak kelas,adik-adik kelas,para guru, sekuriti, tukang sapu dan  para karyawan sekolah lainnya.  Juga perlu belajar mengendalikan emosi dan pintar-pintar membawa diri. Jangan nakal. Jangan cepat tersinggung dan jangan pula suka membuat orang lain tersinggung, nanti nggak punya banyak teman. Dan.. seterusnya nasihat yang panjang lebar seperti biasanya emak-emak  yang cerewet.

Mendengar itu anak saya lalu menjelaskan dengan airmata mengambang “Aku nggak pernah nakal, Ma. Aku malu. Aku nggak pernah punya uang sendiri. Kalau jam istirahat pelajaran, teman-temanku semuanya pada jajan di kantin rame-rame. Aku ditinggal sendirian. Jadi aku main sendiri”. Ya ampuuun… kasihannya anakku. Mendengar ceritanya itu,airmata saya jadi ikut mengambang. Berarti sayalah yang telah membuatnya bersikap ‘kuper’ seperti itu.

Dulu saya tidak pernah membolehkan anak-anak saya untuk jajan di sekolah.Sarapan pagi selalu disiapkan. Juga  cemilan untuk jam istirahat selalu dibekali dari rumah.  Saya pikir karena lebih sehat tentunya. Selain itu saya juga tidak menyukai saos tomat atau saos cabe, sehingga sayapun tidak mau anak-anak saya memakan jenis saos –saos itu di sekolah.  Jadi, ya..paling aman dibawakan camilan dari rumah. Karena itu saya tidak pernah memberinya uang jajan. Ia tidak membutuhkannya. Karena saya melarangnya jajan di sekolah. Selain itu toh anak-anak juga diantar jemput. Tidak perlu uang untuk naik angkutan umum.  Kadang-kadang saya memberikannya sedikit uang, tapi untuk belanja di bawah pengawasan saya di rumah atau untuk ditabung dalam celengan. Tapi saya tidak pernah memberinya uang untuk jajan di sekolah.

Nah, sejak kejadian itu akhirnya saya mulai memberikannya uang jajan. Namun masih tetap memberinya nasihat agar memilih jajanan yang bersih. Anak saya setuju. Dan sungguh ajaib, sejak saat itu anak saya mulai bergaul dengan jauh lebih baik di sekolah. Lebih gaul, lebih periang dan tidak menyendiri lagi.Tidak ada lagi keluhan dari gurunya. Walaupun dibanding anak lain, anak-anak saya lebih suka memanfaatkan uang jajannya untuk membeli mainan ketimbang makanan. Namun setidaknya ia ikut teman-temannya turun rame-rame ke kantin dan bercengkerama di sana.

Kadang kita perlu mengorbankan idealisme kita pada sebuah bagian kehidupan, demi untuk memberi jalan kesuksesan bagi bagian kehidupan kita yang lain.

Besaran Uang  Jajan.

Untuk mengetahui besaran uang jajan yang perlu dibawa anak saya, biasanya saya melakukan checking ke anak secara berkala, berapa jumlah uang jajan yang rata-rata dibawa teman-temannya? Biasanya dibelikan apa saja? Sesekali kalau kebetulan sedang ke sekolah, saya juga melakukan random check ke kantin sekolahnya. Untuk melihat kebersihan makanannya dan kisaran harganya. Berapa minimum uang yang ia harus bawa dan berapa batasan maksimal yang diperbolehkan ibu guru? Dengan demikian saya bisa memastikan bahwa anak-anak saya tidak kekurangan dan tidak membawa uang berlebihan ke sekolah. Syukurnya anak saya juga sangat patuh akan peraturan sekolah dan tidak pernah mau bahkan jika diberikan uang lebih.

Uang jajan anak  di Sekolah. Ada yang mau share bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?

17 responses »

  1. harga nasi gorengnya berapa ya bun? saya cuma memberi pascal uang jajan 2000 itu juga kadang masih utuh, karena dari rumah sudah awa snack dan bekal makan siang berupa nasi

  2. untung disini kantinnya gak ada jualan macem2. cuma jualan pas jam makan siang aja. dan harganya fixed, $1 per anak. jadi kalo emang lagi mau lunch di sekolah ya baru dikasih duit. kalo gak ya bawa makanan dari rumah. jadi so far belum merasa perlu ngasih anak uang jajan.😀

  3. Bahan makanan yg dijual di sekolah itu saya yakin 90%nya adalah bahan yg “meragukan”, kecuali beberapa sekolah tetentu yg peduli dengan menerapkan aturan ketat pada penjualnya. Ada sedikit sekolah yang ketat dan pemilik kantinnya diminta menandatangani pakta integritas untuk hanya menjual makanan yg sehat. Saya pernah tau ada sekolah yang menerapkan sistem kupon. Ini penting untuk mengendalikan besaran uang yg dijajakan setiap muridnya. Jadi murid nggak mbayar pakai uang kontan tapi pakai kupon. Murid harus beli kupon dengan nominal sama dengan harganya. Dan ini dibatasi, ada maksimalnya.
    Dengan demikian nggak bakal ada murid yg jajan secara berlebihan.
    (Kecuali kalau dia beli kupon temannya😀

  4. aku juga tadinya nggak kasih uang jajan karena bawa bekal dan naik jemputan, tapi jadi sedih pas jemputannya mogok dan harus pulang naik angkot, dia dibayari teman…
    sejak itu dikasih uang jajan buat cadangan, akhirnya krn nggak jajan jadi celengannya cepat penuh

  5. sampe sejauh ini aku cuman kasih uang jajan seribu aja buat Kayla mba…
    cuman basa basi doang sih sebenernya…

    alesannya sama kayak mba gitu deh, kesian kalo gak ikutan nongkrong di kantin.
    Karena dari rumah pun udah aku bekelin makanan…
    Aku juga selalu wanti2 sih mba, dan mendidik Kayla jajanan apa yang boleh dan gak boleh….

  6. anak2 sy juga gak dikasih uang jajan, selama ini sih mereka masih biasa aja. Mungkin krn pas jam makan, yg bawa bekel, pake catering atau yg pesen makan di kantin tetep harus makan di kelas jadinya mereka tetep merasakan kebersamaan kali ya mbak🙂

  7. klo sya ttp memberi uang jajan hanya mmg dibatasi jmlhnya dan sma spt mba, selalu ngga bosan2nya memberi arahan thd apa yang nnti akan dibelinya di sekolah..

  8. aku dulu juga membawakan anak2 bekal sekolah Mbak, namun berhenti dengan sendirinya saat kelas 4-5 SD. Keduanya beralasan sama, malu bawa bekal sebab teman2nya cukup bawa uang jajan…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s