International Working Women’s Day.

Standard

Rangkaian BungaKemarin tanggal saya sedang  sangat sibuk, ketika seseorang berkata ”Bu Dani, diminta naik ke aula untuk perayaan International Women’s Day.  Oh?! Tanggal 8 Maret.Saya tidak ngeh kalau hari itu adalah Women’s Day.Soalnya hapalnya cuma Hari Kartini  tanggal 21 April dan paling banter Hari Ibu tanggal 22 Desember. Setelah menyelesaikan sebuah pengggalan presentasi,sayapun akhirnya tergopoh-gopoh naik ke Aula gedung. Dan mudah ditebak, pastilah akan disuruh memberikan Opening Speech dan memotong kue. Memotong kuenya sih nggak apa-apa. Tapi membuat Speech dadakan begini dalam hitungan menit, pasti merupakan tantangan tersendiri bagi saya.

Sambil berlari naik tangga, sayapun memeras otak berpikir apa yang akan saya sampaikan  di depan forum dalam  3-5 menit ke depan. Hah! Tidak ketemu apa-apa yang menarik untuk dibicarakan.Akhirnya sayapun memilih untuk berbicara apa saja tentang wanita bekerja dan sepengetahuan saya saja, serta tidak lupa memberi semangat kepada para karyawati agar tetap menjaga spiritnya dan tidak mengeluh, betapapun lelahnya kita sebagai wanita yang harus menjalankan fungsi multitasking baik di kantor maupun di rumah. Karena hidup itu adalah soal pilihan. Terlepas apakah kita memilih karena terpaksa atau berdasarkan kesadaran penuh, toh kita telah memutuskan untuk menjadi wanita bekerja alias working women. Tentu dengan segala suka dan dukanya. Jika kita berusaha tetap menikmatinya, maka rasa lelah dan keluh itu tak akan demikian terasa. Keep your best performance in any situation!. Syukurlah tidak ada yang protes atas pendapat saya itu.

Sekarang setelah kejadian itu lewat, barulah saya mulai  sempat mengingat kembali soal International Women’s Day itu. Kantor tempat saya bekerja memang selalu merayakan  International Women’s Day setiap tahunnya. Yang lebih penting lagi, saya juga merasakan kesan yang sangat positive akan betapa perdulinya manajemen terhadap kaum pekerja wanitanya. Saya berharap ke depannya juga akan tetap demikian atau bahkan semakin meningkat.

International Women’s Day konon asal muasalnya bernama International Working Women’s Day untuk memperingati usaha kaum pekerja wanita dalam upaya mendapatkan kesamaan kewajiban dan hak dengan kaum pekerja pria serta protest terhadap ‘gender discrimation’ yang terjadi terhadap para pekerja wanita.  Hingga saat ini ketimpangan dan ketidak-setaraan memang masih banyak dirasakan oleh para pekerja wanita.

Bahkan untuk hal yang sama yang dilakukan oleh karyawan pria dan wanita, seringkali mendapatkan tanggapan yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Seorang kawan pernah menceritakan beberapa ‘joke’  kepada saya,  yang intinya mentertawakan ketimpangan pandangan lingkungan sekitar terhadap kaum pekerja wanita.

Jika diatas meja karyawan  dipajang sebuah photo keluarga, maka orang akan berkata: “Wow!Dia benar-benar pria yang bertanggungjawab terhadap keluarganya”. Coba jika photo yang sama ada diatas meja karyawan wanita, tentu komentar yang keluar akan : Halah!, dia sih menomor-duakan pekerjaannya”

Jika meja kerja karyawan pria terlihat berantakan, maka orang akan berkata:“Wah! Sangat jelas dia adalah seorang pekerja keras”. Coba jika meja karyawan wanita yang berantakan, tentu komentarnya akan menjadi : “Pasti deh isi otaknya juga berantakan dan semrawut!”.

 Lalu seorang karyawan pria ngobrol dengan rekan kerjanya, maka orang akan menebak:“ Pasti sedang mendiskusikan deal  yang terakhir”. Coba sekarang yang ngobrol adalah karyawan wanita: “Dia pasti sedang ngegossip!”.

Berikutnya jika karyawan pria sedang tidak ada di kantor, maka orang akan menebak:“ Pasti sedang meeting di luar dengan client.”. Sebaliknya kalau yang tidak ada di kantor adalah karyawan wanita maka komentarnya bisa menjadi :“Dia pasti sedang shopping!”.

Ada lagi jika karyawan pria melakukan perjalanan dinas . Komentar orang: “Baguslah untuk karirnya”. Tapi coba yang melakukan perjalanan dinas adalah karyawan wanita , komentarnya berubah menjadi: “Ya ampuuun.. tega amat sih meninggalkan keluarga?”.

Sebenarnya masih banyak lagi joke sejenis itu yang tidak saya ceritakan di sini. Intinya sama, yakni menceritakan tentang betapa tidak adilnya perlakuan atau pandangan yang diterima oleh kaum wanita bekerja itu dibandingkan dengan kaum pria bekerja. Saya cuma bisa nyengir membacanya.

Walaupun cuma sekedar “joke’,namun ketimpangan pandangan terhadap wanita itu sekian %-nya tentu memang  mengandung kebenaran juga.

3 responses »

  1. Setuju Bunda, wanita karir masih dipandang sebelah mata. Bahkan kadang wanita karir dicap tidak lebih baik daripada ibu rumah tangga. Padahal menurut saya sebaliknya ^^

  2. Betul banget mbak. Ada nih senior saya pernah bilang gini sama saya “Kamu itu seorang ibu, kok mau sih ditugaskan dinas luar, meninggalkan anak-anak dirumah” Ngomongnya di depan banyak orang pula. Agak jengkel juga, terus saya jawab aja gini “Saya tinggalkan anak-anak bersama orang yang tepat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s