Dunia Pinggir Kali II: Mengajak Anak Mengamati Burung Pipit & Burung Peking.

Standard

Burung Pipit Dan Burung Peking 1Hari Minggu adalah hari yang sangat menyenangkan untuk bermain bersama anak. Seperti juga sore ini. Saya mengajak anak saya untuk melihat-lihat kehidupan di pinggiran kali di belakang rumah. Kelihatannya petugas kebersihan belum sempat membersihkannya belakangan ini. Rumput liar tampak menyemak. Belukarpun tumbuh subur. Saya hanya meminta anak saya agar berhati-hati terhadap ular yang mungkin saja tiba-tiba muncul di dekat kami. Anak saya mengerti. Sekelompok burung Pipit, burung Bondol dan burung Peking tampak sedang asyik memakan biji rerumputan. Beberapa ekor burung Bondol tampak terbang menjauh begitu melihat kami datang. Saya dan anak saya segera mengambil posisi yang terbaik agar bisa mengamati aktifitas burung-burung itu dari kejauhan. Lalu kami menahan diri untuk tidak menimbulkan gerakan yang mencurigakan agar burung-burung itu tidak kabur semuanya.

Burung-burung yang saya dan anak saya amat-amati sore ini adalah dari suku Ploceidae, yang masih berkerabat dengan burung gereja, burung gelatik, burung bondol  dan burung manyar. Dan tentunya bukan jenis burung yang eksotis, karena dimana-mana di daerah pedesaan dengan mudah kita bisa menemukannya. Dan jenisnya pun bermacam-macam. Tapi yang saya temukan sore ini hanyalah jenis Burung Pipit dan burung Peking. Burung Bondolnya sendiri sudah terbang, persis saat kami datang.

Burung Pipit

Burung Pipit 2Burung Pipit (Lonchura leucogastroides), secara umum disebut sebagai burung Bondol Jawa atau Javan Munia. Tapi kalau di Bali, burung ini biasanya disebut dengan nama Kedis Perit. Biasanya sangat mudah ditemukan di sawah-sawah.  Anak-anak sangat suka menangkapnya dan dijadikan mainan. Burung Pipit biasanya membuat sarangnya di pohon-pohon yang tak terlalu jauh dari sawah. Itulah sebabnya dulu saya sering menemukan sarang burung ini di pohon jambu atau di pohon avocado di halaman rumah saya. Karena kebetulan rumah saya terletak tak jauh dari sawah. Biasanya saya suka memanjat pohon untuk melihat sarangnya yang terbuat dari rumput atau jerami dengan telor kecil-kecil berwarna putih sebanyak  4- 5 butir di dalamnya.

Burung Pipit sangat mudah dikenali. Tubuhnya mungil berukuran tidak lebih dari 10-11 cm. Dari kejauhan tampak  berwarna hitam polos dengan dada berwarna putih. Namun jika kita dekati, sebenarnya warnanya bervariasi dari coklat gelap ke hitam. Wajahnya berwarna hitam, demikian juga dengan paruhnya. Punggungnya berwarna coklat gelap kehitaman. Demikian juga ekornya. Kakinya berwarna abu-abu.

Seperti halnya burung pemakan biji-bijian, burung ini memiliki paruh pendek yang tebal. Tentu gunanya untuk memecah biji-bijian. Jika berkelompok, burung ini sangat riuh bunyinya. Ciiit …ciiit.. dengan cepat.  Dan tentu saja akan terbang menjauh dan ribut jika kita dekati.

Burung Peking

Burung Peking 4Burung Peking (Lonchura punctulata) atau biasa juga disebut dengan Bondol Dada Sisik alias Scaly Breasted Munia. Di Bali, petani menyebutnya dengan nama Kedis Petingan. Sebenarnya secara fisik, burung ini memiliki ukuran dan tampang yang sama dengan Burung Pipit. Cuma warnanya saja yang lain.

Bagian kepala, leher dan punggungnya berwarna coklat kemerahan. Warna ekornya abu-abu. Yang menarik adalah warna dadanya yang putih bersisik coklat. Tampak bersih dan indah. Paruhnya sama dengan burung pipit, pendek dan tebal dengan warna hitam.  Kakinya juga sama, abu-abu.

Suaranya sama riuhnya dengan burung Pipit. Cuma di telinga saya, kedengarannya seperti lebih berat dan cepat..kdiii…kdddiiii…

Saya memperhatikan gerakan burung-burung ini. Pindah dan meloncat dari satu batang rumput ke batang rumput yang lainnya. Naik, turun, menggelantung, mencengkeramkan jari-jari kakinya sambil menggoyang-goyangkan ekornya.

Sama dengan jenis burung Pipit, burung ini juga sering bersarang di pohon-pohon di dekat sawah atau ladang. Saya ingat seorang paman saya memiliki sebuah rumah burung yang penuh dengan sarang burung Petingan di batang pohon kamboja besar di halaman rumah nenek saya. Setiap kali saya berkunjung ke sana, saya selalu ingin ikut memanjat untuk melihat anak-anak burung itu.

Saya lalu menceritakan hal-hal yang saya ketahui tentang burung-burung ini kepada anak saya. Rasanya sangat senang mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan jenis burung-burung ini kepadanya langsung dari habitat alaminya. Semoga masa kecilnya di kota besar, tidak membatasinya belajar dari alam.

16 responses »

  1. Di Bintaro Regency, Pak Chris. Nama kalinya saya nggak tahu persis, tapi Itu kali yang sama yang mengalir dari sektor IX ke arah Pondok Kacang Prima dan Perumahan Maharta. Sebelum sampai ke Maharta, kali itu lewat dulu di belakang rumah saya…

    • Beda, Mbak! Bentuknya memang serupa, tapi warnanya berbeda.kalau burung gereja warna punggungnya coklat bercorak abu-abu, coklat, hitam dan putih. Perutnya putih kotor, leher dan dada bagian atasnya hitam. Sedangkan burung pipit punggungnya berwarna coklat gelap hitam dengan dada yang putih bersih.Kebanyakan burung gereja juga sedikit lebih gendut daripada burung pipit..mungkin karena suka dimanjakan oleh orang… he he..

  2. Aneka jenis burung di alam dekat perumahan ya Jeng. Keindahan dan habitat berbeda dari setiap burung …. Terasa aura kegembiraan Jeng Ade dalam postingan alam dan seni. Salam

  3. Jalan menuju rumah masih banyak rumput gajah liar, rumput ilalang, termasuk seperti rumput rumputan yang berbuah seperti buah kecil kecil pakan burung pipit, nah di situ sering saya lihat ketiga jenis pipit yaitu bondol putih, peking, dan emprit jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s