Pembalut Untuk Anakku.

Standard

Pembalut wanita.Teman saya mempunyai seorang anak yang tahun ajaran lalu, menginjakkan kakinya di bangku SMP untuk pertama kalinya. Tentu saja teman saya itu sangat senang dan bangga sebagai mamanya.  Ia selalu berusaha mendukung anaknya. Mempersiapkan segala keperluan dan perlengkapan sekolahnya  untuk memastikan agar  sekolah anaknya berjalan dengan lancar dan mudah. Intinya, ia sungguh seorang ibu yang baik dan sangat perhatian. Saya tahu dari  ceritanya sehari-hari.

Setelah melakukan pendaftaran kembali,  anaknya mendapatkan informasi bahwa pada minggu pertama, siswa baru akan menjalani  orientasi yang disertai dengan berbagai kegiatan outdoor. Semua siswa baru diminta untuk membawa perlengkapan yang akan digunakan dalam  acara itu. “Mama, besok aku disuruh bawa kapas dan pembalut”kata anaknya kepada mamanya.  Begitu mendapatkan informasi keperluan anaknya itu, teman saya segera membuka lemarinya dan menyiapkan sendiri keperluan  untuk anaknya.

Gampanglah. Hanya kapas dan pembalut.  Barang sehari-hari yang selalu tersedia di rumah. Ia lalu memasukkannya ke dalam tas dan menyerahkanya pada anaknya. rapi dan beres semuanya. Sungguh ibu yang cekatan!.

Esok harinya sepulang kantor, ia mendapatkan laporan dari pembantunya, bahwa  anaknya pulang  sekolah dengan kecewa. Lho? Apa pasal?  Si embak bercerita, bahwa sesampai di Sekolah anaknya baru sadar, ternyata yang diberikan mamanya  berbeda dengan apa yang dibawa oleh teman-temannya. Mamanya  bukan memasukkan kasa pembalut untuk luka. Tapi pembalut wanita!!!.

Oalah, kasihannya.  Untung saja anaknya sempat melihat pembalut yang dikeluarkan teman-temannya terlebih dahulu. Begitu menyadari  bahwa pembalut yang dibawanya beda sendiri, maka anaknya tidak jadi mengeluarkan pembalut itu dari tasnya. Kalau tidak, tentu ia akan malu diledekin teman-temannya. Anak teman saya itu laki-laki.  Tentu saja akan aneh jika tiba-tiba mengeluarkan pembalut wanita dari dalam tasnya. Teman saya merasa sangat tidak enak dan merasa sangat bersalah atas kejadian konyol  yang menimpa anak laki-lakinya itu.

Ha ha! Ada ada saja!. Saya tertawa geli mendengar cerita tentang  pembalut itu.  Apakah ada diantara kita yang mengalami kejadian serupa yang dialami teman saya? Saya rasa hal seperti ini bisa dialami oleh siapa saja. Termasuk saya sendiri.Walaupun tidak ingat persis kasusnya, saya rasa sayapun pernah mengalami hal yang serupa juga.

Lalu saya berpikir-pikir. Mengapa kekeliruan seperti itu bisa terjadi?

Pertama saya pikir karena  adanya ‘template’ di kepala kita  yang secara otomatis mengasosiakan sebuah kata dengan sebuah imaginasi tertentu.  Pembalut, dalam bahasa sehari-hari memang bisa berarti kasa pembalut untuk luka. Namun bisa juga berarti pembalut wanita. Para wanita, ketika mendengar kata pembalut diucapkan, tentu akan segera mengasosiasikannya dengan pembalut wanita.  Namun belum tentu demikian yang terjadi jika kata pembalut itu didengar oleh pria. Karena pria tidak memiliki kaitan emotional dengan pembalut wanita.

Kedua, beberapa kata memang memiliki ambiguitas makna. Contohnya adalah kata “kabur”. Kabur bisa jadi diartikan sebagai melarikan diri (misalnya kabur dari penjara), atau bisa juga diartikan sebagai kurang jelas (pandangan mata yang kabur). Contoh lain adalah kata “lagi”. Lagi bisa diartikan sebagai mengulangi sebuah pekerjaan (misalnya bernyanyi sekali lagi), bisa juga diartikan  sebagai sedang melakukan sesuatu (misalnya lagi makan,lagi tidur). Demikian juga dengan kata pembalut. Juga memiliki dua pengertian. Sehingga untuk kata-kata  yang seperti ini, dibutuhkan  konsentrasi untuk mendengarnya, agar kita bisa menangkap situasi dan konteks yang sesuai saat kata itu diucapkan. Memang agak repot sih, tapi memang tidak ada jalan lain yang lebih baik lagi.

Jadi hikmahnya adalah, bahwa mengalami suatu kekeliruan, apapaun itu – terkadang membuat kita merasa perlu berhenti sejenak untuk memikirkan  sebab musababnya guna  melakukan perbaikan di kesempatan berikutnya.  Saya beruntung dan berterimakasih karena teman saya telah menceritakan hal ini kepada saya, sehingga saya sempat berhenti sejenak untuk me-refresh pikiran saya.

14 responses »

  1. seringnya sih yang terjadi salah mengartikan apa yang Pascal maksud bun. Harusnya saya jangan langsung menganggap seperti biasa ya tapi harus ditanyakan dulu maksud sebenarnya karena anak-anak biasanya punya pengertian sendiri

  2. Wah, mbak…konotasi saya waktu baca kata ‘pembalut’ di posting ini juga langsung ke pembalut wanita. Eh, ternyata salah.

    Begitu juga dengan kata kabur yang ditulis disini…bayangan saya langsung ke narapidana yang kabur melarikan diri dari penjara…uh, uh…padahal istilah pandangan yang tidak jelas juga kan kabur ya?🙂

  3. wah kalau saya sih pasti curiga dari awal kenapa anak lelaki harus bawa pembalut😀 Memang bahasa Indonesia sering ambigu. Karena itu biasanya saya tanya dengan bahasa Inggris/Jepang untuk kata-kata yang sensitif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s