Maret Mau Habis. Ayo Lapor Bayar Pajak!

Standard

Lapor Pajak

 

Apa artinya tanggal 31 Maret? Ya..besoknya tanggal 1 April , kata saya.

Ya betul sih. Tapi bukan begitu maksudnya. Bulan Maret sebentar lagi habis. Kita diuber-uber untuk segera menyelesaikan laporan pajak penghasilan”, Kata teman saya. Saya menggaruk-garuk kepala saya.

Ya. Bagi sebagian orang (terutama yang bekerja di bagian Finance & Accounting), membuat laporan pajak tentu perkara yang mudah dan ringan. Tapi bagi sebagian orang yang lain (terutama yang bekerja di department lain), rasanya kok jadi tambahan beban ya.  Dan rasanya setiap tahun,harus nanya kembali, gimana ya cara ngisinya. Lupa lagi dan lupa lagi._

Terlebih lagi jika kita melihat betapa besar % pajak yang telah kita sumbangkan bagi negara. Saya ingat, beberapa tahun yang lalu ketika pembuatan laporan pajak itu disosialisasikan kepada karyawan , seorang teman saya bercanda sambil meringis “Wadow! Gede banget duit gue yang udah disetor buat bayar pajak, yak?. Ikhlas..ikhlas..ikhlas…”.

Sayapun jadi ikut melirik ke angka  bukti pemotongan pajak penghasilan yang diberikan oleh perusahaan tempat saya bekerja sambil ikut berdoa di dalam hati. Semoga pajak yang telah dipotongkan dari hasil kerja keras saya selama ini dimanfaatkan oleh instansi terkait untuk kepentingan negara dan masyarakat kecil dengan sebaik-baiknya, dan bukan untuk kepentingan individu segelintir orang. Mengapa jadi berdoa seperti itu? Ya..karena pada saat itu banyak beredar berita di media masa tentang korupsi dan perbuatan tak terpuji yang dilakukan di seputaran pajak oleh oknum-oknum tertentu.

Terlepas dari soal ikhlas dan tidak ikhlasnya membayar pajak, tetapi membayar pajak itu memang kudu. Jadi ya..sebagai warga negara yang baik kita harus membayarnya. Syukurnya karyawan seperti saya, pembayaran pajak sudah langsung dibantu oleh perusahaan dengan cara memotongnya dari gaji bulanan secara otomatis. Jadi kita tidak perlu repot-repot. Sangat tertolong sih. Karena walaupun gaji kita kecil dan berkurang lagi oleh pajak, setiap bulannya  kita hanya menerima gaji bersih yang sudah dipotong pajak.

Iseng-iseng saya melirik, apa sih  yang ada di dalam Bukti Pemotongan Pajak itu? Ada rincian penghasilan bruto dalam setahun (yang terdiri atas gaji, tunjangan lain, premi asuransi,bonus, dll) lalu dikurangkan dengan biaya jabatan & iuran pensiun. Dari sana didapatkan jumlah penghasilan netto  yang dikenakan pajak penghasilan sesuai dengan pasal 21.

Nah, yang kita laporkan kepada Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI adalah Penghasilan Netto kita, penghasilan tidak kena pajak, ppH terutang dan kredit pajak (jika ada tentunya).

Lalu ada lagi lampiran yang harus diisi untuk penghasilan dalam negeri lainnya jika ada – misalnya bunga, royalti, sewa,penghargaan dan hadiah dan penghasilan yang tidak termasuk objek pajak spt bantuan, sumbangan,hibah, warisan, beasiswa dll.

Lalu lampiran berikutnya ada lagi yang harus kita laporkan yang isinya antara lain penghasilan yang dikenakan ppH final spt bunga deposito, penjualan saham dst, harta (tanah, bangunan, kendaraan, tabungan) dan kewajiban (misalnya jika ada pinjaman/ kartu kredit di bank). Ribet ya?

Ya..memang ribet sih. Terutama bagi yang awam macam saya. Tapi ya… mau bagaimana lagi? Memang harus diisi jika ada.  Dan kalau memang nggak ada, ya nggak usah disi. Begitu saja.

Yuk kita lapor pajak!.

18 responses »

  1. di sini sih sudah dipotong otomatis dan tidak perlu lapor pajak jika cuma dari satu kantor. Soal penggunaan uang pajak sih di sini memang dipakai untuk keperluan umum (fasilitas umum) cuma kadang merasa bahwa berlebihan juga (mewah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s