Tiga Jam Di Pintu Ciawi I.

Standard

Macet Di CiawiLong weekend.  Saya bermaksud menghabiskan waktu di kota Sukabumi bersama suami dan anak-anak. Udara yang dingin dan sejuk, serta air yang mengalir. Selalu membuat saya merasa segar setiap kali mengingatnya. Sayangnya perjalanan ke kota itu, kali ini benar-benar melelahkan. Macetnya luarbiasa!. Berangkat pukul 10 pagi lewat tol JakartaBogor, kami baru bisa mendekati pintu Ciawi pada pukul 12 siang. Dan harus bengong tak bergerak selama tiga jam di Pintu Ciawi, karena jalur Puncak baru dibuka pada pukul 3 sore. Perjalanan keluar pintu Ciawi yang biasanya ditempuh selama satu jam itu kini harus ditempuh dalam waktu lima jam! Sungguh T E R L A L U !. Prestasi buruk yang luar biasa.

Penutupan Alur Dari Arah Jakarta Yang Terlalu Lama.

Apa pasal? Kok semacet itu? Entahlah. Yang jelas jalur naik ke arah Puncak baru dibuka pukul 3 sore. Dan saya tidak melihat alasan yang jelas mengapa baru bisa dibuka sesore itu. Padahal seharusnya polisi lalu lintas tahu, jika awal long weekend begini,  pengendara dari arah Jakarta pasti jauh lebih banyak dari pengendara yang menuju ke Jakarta. Kalau saya yang menjadi pejabat yang mengatur lalu lintas, tentu akan saya perpanjang jam bagi arus yang naik ke Puncak dari Jakarta. Heh.. itu sih maunya saya. Tapi kenyataannya hidup memang tidak semudah teori yang kita buat.

Anak-Anak Pengamen.

Anak- AnakLalu apa yang saya lakukan di jalan selama berjam-jam menunggu itu? Saya melihat-lihat. Ke kiri, ke kanan dan ke depan. Beberapa anak kecil saya lihat mendekati jendela beberapa kendaraan jauh di depan saya, lalu bernyanyi sambil bertepuk tepuk tangan dan menengadahkan tangannya. Karena tak ada seorangpun yang memberi, sementara gerimis kecil mulai turun, lalu mereka pun minggir dan mencari tempat berteduh. “Hidup memang tidak mudah, Nak. Namun tidak juga terlalu susah kalau kita mau terus berusaha”  gumam saya kepada ke dua orang anak saya, sambil menunjuk beberapa pedagang acung yang tetap saja berjualan di tengah gerimis.

Tararahu…tararahu…

Mereka tetap menjajakan dagangannya kepada para pengendara yang berhenti karena kemacetan itu. Mulai dari air mineral, kacang, snack dan sebagainya. Ramai sekali. “tarahu… tarahu… tararahu… tararahu….” kata pedagang tahu menawarkan tahu Sumedang yang sudah matang dan siap disantap. Mengapa orang Sunda kalau mengatakan segala sesuatu sering ditambahkan sisipan R (ar, arar)?  Misalnya ‘tahu’ menjadi ‘tarahu’ atau ‘tararahu’. Lalu kata ‘budak’ (anak) menjadi ‘barudak’ atau ‘bararudak’.  Terus kata ‘reseh’ (cerewet) menjadi ‘harareseh’. Oh, itu untuk menyatakan sesuatu yang jamak.  Atau untuk menyatakan kesungguhan hati. Ya ya.. sehingga tidak heran, kata ‘thank you’ pun menjadi ‘tararengkyu’. Artinya ya terimakasih banyak. atau terimakasih yang diucapkan dengan kesungguhan hati.

Pedagang Asongan.Beda Pedagang Acung Dengan Pedagang Asongan.

Lalu saya dan suamipun membahas perbedaan antara Pedagang Acung dengan Pedagang Asongan. Apa bedanya? Kalau Pedagang Acung mengacung-acungkan (mengangkat barang dagangannya tinggi-tinggi),sedangkan Pedagang Asongan mengasongkan (menyodorkan) barang dagangannya kepada pembeli. Weleh! Sungguh diskusi yang kurang bermutu. Tapi saya pikir, barangkali suami saya ada benarnya juga.

Face Of Terror.

Menurut suami saya lagi, para pedagang Acung atau Asongan itu sangat terlatih dan tahu persis mana orang yang layak ditawari dan mana yang tidak, hanya dalam sekali lirikan mata saja. Apalagi yang gendut, pasti banyak maemnya. Pasti kalau ditawarin mau. “Itulah sebabnya para pedagang selalu mendekati mama. Dan bukan mendekati papa.” kata suami saya. Anak-anak tertawa. Tentu saja mentertawakan saya yang gendut sendiri di keluarga.  Sayapun terpaksa ikut tertawa mendengar fitnah keji itu he hehe. Lalu saya katakan, memang benar  bahwa tidak seorangpun pedagang yang berani mendekati papa, karena papa selalu memasang wajah yang tidak bersahabat. Anak sayapun sekarang berbalik mentertawakan papanya “ Face of terror!” celetuk anak saya yang besar sambil tertawa terbahak-bahak. Sekarang suami saya yang terpaksa harus tertawa kecut.Ha ha ha.. saya senang karena merasa dibela anak-anak.

6 responses »

  1. Jd sebenernya mendingan jalannya siang dong ya pas jalurnya udh dibuka🙂 gile bener sampe mesti nunggu 3 jam gitu…

    Gw blm pernah dgr istilah pedagang acung lho sebelumnya. Tp argumen suami lu ttg perbedaan pedagang acung dan asongan makes sense juga…🙂

  2. ya ampuuun Mba Madeeee… tiga jam? aih keterlaluan sangat itu maah… Saya pernah kejebak penutupan arus ke arah puncak juga tapi cuman sejam. Kalo sampai tiga jam itu adudududuh… ga kebayang deh.
    Btw baru tahu beda antara asongan dan acung..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s