Tiga Jam Di Pintu Ciawi II.

Standard

Penunjuk jalanGerimis mulai berkurang, beberapa orang lelaki  lengkap dengan helpnya mengacung-acungkan tangannya. Awalnya saya agak bingung. Apa yang dilakukan oleh orang-rang itu?Mengapa ia mengetok-ngetok jendela pengemudi dan memberi tanda dengan telunjuknya? Akhirnya saya ingat, bahwa mereka adalah orang-orang yang  membujuk pengendara agar mau mengikuti mereka melalui jalan pintas menuju Puncak. Tentu saja dengan maksud agar mendapat upah sebagai penunjuk jalan. Profesi baru yang muncul akibat kemacetan. Kami tidak mau. Terutama karena sebelumnya kami pernah mencoba jalur itu, bahkan lebih parah macetnya ketimbang jalan besar yang lebih resmi. Ujung-ujungnya kami sampai di Puncak  setelah hampir lima jam berjuang di jalan sempit yang penuh dengan para Pak Ogah yang meminta uang di setiap tikungan. Jadi tak ada gunanya juga mengikuti mereka.  Toh hasilnya tidak akan lebih baik juga.

Pengemis Dan  Pengemis.

Lalu lebih mendekati pintu keluar Ciawi, saya melihat pengemis. Seorang buta yang dituntun oleh lelaki yang sehat dan berbadan tegap mendekati jendela kendaraan dan meminta sedekah. Anak saya berkata ”Kasihan, Ma. Kasih  uang ya Ma..”.  Ya sudah. Saya Pengemis Butalalu menyuruh anak saya yang menyodorkan uang kepada pengemis itu.  “Ah,nggak mau.Takut! Mama aja…!  Mama aja…!” kata anak saya, lalu cepat cepat menjauh dari jendela kendaraan. Lho? Sama pengemis buta kok takut? “Bukan takut sama pengemisnya, Ma. Tapi sama Om yang menuntun pengemis itu.  Mukanya serem. Kaya galak gitu, matanya”. Kata anak saya. Sayapun membuka jendela dan menyodorkan uang sambil melirik ke arah lelaki sehat yang menuntun pengemis itu. Wajahnya memang kelihatan sangar dan agak mengancam.

Lalu suami saya berkata bahwa sebenarnya kita tidak perlu memberi. Memberinya uang tidak akan menolong keadaan. Bahkan justru memicu pertumbuhan angka pengangguran di tempat itu. Orang –orang yang sehat badannya tapi malas bekerja, melihat hal itu sebagai peluang bisnis yang mudah. Mereka akan memanfaatkan orang-orang yang memiliki cacat fisik,menuntunnya untuk menarik iba hati para pengendara yang lewat untuk mengemis uang. Ciawi menjadi ladang subur bagi para pengemis.

Pengemis dengan kaki sebelahBenar saja. Baru beres dengan pengemis ini, di depan kami menyusul lagi pengemis lain dengan kondisi yang sama : Buta dengan seorang lelaki penuntun yang sehat walafiat.  Demikian seterusnya. Banyak juga ya…

Lalu ada lagi pengemis yang cacat sebelah kakinya. Sengaja ngesot di tengah jalan dengan bantuan papan berodanya. Sebenarnya itu sangat membahayakan dirinya dan juga membahayakan orang yang berlalu-lalang. Dari depan, saya hanya melihatnya hanya memiliki satu kaki. Yakni kaki kanannya yang dijulurkannya ke depan. Namun ketika ia sudah melewati kendaraan kami, saya coba melihatnya dari kaca spion, kakinya sekarang tetap sebelah, tapi kok menjadi yang kiri ya? Karena kaki kirinya yang terjulur ke belakang. Lho? Kalau begitu apakah sebenarnya ia punya dua kaki? Yang kanan terjulur ke depan dan yang kiri terjulur ke belakang? Anak saya yang kecil mengatakan bahwa kaki pengemis itu cuma satu dan ia mengeluarkan teorinya sendiri bahwa pengemis itu menggilir kakinya yang cuma sebelah itu kadang ke depan, kadang ke belakang. Entahlah!

Pejabat atau Penjahat?

Saat menunggu memang selalu terasa lama. Sisi kiri jalan tol yang menuju arah Puncak  sangatlah padatnya. Berdesak-desakan. Sedangkan sisi kanan yang turun dari Puncak sangatlah lengang. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas. Sungguh mengherankan. Apa yang sesungguhnya terjadi di atas sana? Mengapa polisi tidak membuka saja lajur yang dari Jakarta menuju ke Puncak agar kemacetan bisa diselesaikan dengan segera? Toh orang yang turun di lajur kananpun cuma satu dua saja? Bener-bener membingungkan ini Pak Polisi.  Anak saya mulai mengeluh pengen pipis. Saya sarankan untuk pipis di pinggir jalan saja, tapi ia malu dan memilih untuk menahannya walaupun saya mengomel.

Beberapa saat kemudian terdengar suara sirine mengaung-ngaung. Kendaraan polisi memandu kendaraan orang penting turun dari Puncak. Oh.. rupanya ada pejabat lewat.  Barangkali itu sebabnya mengapa jalur ke Puncak ditutup sedemikian lama – sayapun berteori. Mungkin saja pejabat itu yang menjadi penyebabnya. “ Apa, Ma? Itu penjahat?” tanya anak saya yang kecil yang sedari tadi sibuk bermain games. Ha ha.. kami tertawa. salah denger!. “Bukan PENJAHAT. Tapi PEJABAT!” kata saya menjelaskan. “ Oooh!” kata anak saya. “Kalau dia yang menyebabkan jalanan menjadi macet begini, berarti dia jahat juga menyebabkan kita terkurung kemacetan begini. Pejabat yang penjahat, dong!. Masa kita disuruhnya susah susah begini, sementara dia sendiri enak-enak” Ha ha.. saya tertawa. Benar juga. Pejabat yang baik tentu tidak akan membiarkan rakyatnya menderita menahan pipis,menahan lapar dan haus oleh kemacetan begini.

Papa Ron Pizza.

ciawi 1Namun dari semua pemandangan itu, saya tertarik akan usaha Papa Ron pizza untuk menawarkan pizza slice-nya di tengah keramaian. Setidaknya saya melihat 3 orang berseragam Papa Ron menjual pizzanya se-slice demi se-slice. “Mama, lapeerr…”kata anak saya. Sudah jam setengah tiga  siang. Saya tidak tega melihat anak saya kelaparan sebelum kami sempat berhenti di rumah makan yang lebih layak. Akhirnya sayapun memesan 3 slice untuk kedua anak dan suami saya. Sepuluh ribu per slice.  Orang-orang pada keluar dari kendaraannya yang parkir di tengah jalan tol. Ada yang memesan kopi, ada yang memesan mie instant. Ah! Akhirnya sayapun ikut memesan Pop Mie dari pedagang yang menyandang thermos air panasnya ke mana-mana. Harganya delapan ribu rupiah. Lumayan!.

Tepat pukul 3 sore akhirnya arus menuju Puncak di buka. Walaupun masih tersendat-sendat dan tetap berjuang selama beberapa puluh menit lagi akhirnya kendaraan bisa bergerak. Jalanan sangat kotor oleh sampah plastik bekas air mineral dan makanan. beberapa kendaraan juga kelihatan tidak displin mengantri,malah berusaha menyodok dan menyerobot jalur.  Cukup sulit juga untuk melaju, karena lajur yang tadinya sembilan,sekarang harus menjadi hanya dua lajur.  Sodok-sodokan tidak bisa dihindarkan.  Saya melihat polisi yang sibuk dengan alat komunikasinya. Dan berpikir, alangkah sulitnya hidup jadi polisi jika harus berdiri di situ sementara asap kendaraan tak berhenti-henti tersembur dari setiap knalpot.

Cameraman

Juga melihat para wartawan lapangan sedang memantau kemacetan yang terjadi. “Wow! Dia memotret  kita!. Ntar kita masuk TV!!!” kata anak saya melihat seorang cameraman yang berjongkok di pinggir jalan merekam kepadatan lalulintas. ” Kalau begitu,  mama akan memotret orang yang memotret kita” kata saya sambil membidikkan  kamera ke arah wartawan  yang sedang berjongkok itu. “Cool!!”  Puji anak saya. “Mama memang nggak pernah kalah”. kata anak saya lagi. Ha ha ha..

Kendaraan melaju perlahan. Entah jam berapa saya akan mencapai  Sukabumi. Fiuhhhhhhhh!!..

12 responses »

  1. ternyata ga lebih baik ya Mba Made jalur yang ditawarkan sama para pemandu itu. Dulu sempet mau tergoda untuk ngangkut mereka tapi akhirnya ga jadi karena Bul bilang ke saya buat lebih sabar aja. Hehehe. Makasih Mba udah dishare ceritanya. jadi tahu..😀

  2. Libur akhir pekan yang panjang berdampingan dengan panjang antrian kendaraan nih Jeng. Suka dengan cara kelg Jeng Ade mengisi waktu selama terjebak antrian buka jalur dengan amatan ragam kehidupan. Semoga sekarang sudah fresh kembali. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s