Meet Me In The Deer Park…

Standard

RusaSetelah lima jam berjuang agar lepas dari kemacetan di Pintu Ciawi, akhirnya kami kembali berjuang untuk naik ke Puncak.Walaupun pergerakannya lambat saat di  bawah, namun kendaraan bisa melaju dengan baik setelah Cipayung ke atas. Sepotong Pizza kecil setengah jam yang lalu, tentu tidak berasa seperti sudah makan siang. Maklum anak-anak dibesarkan dengan nasi. Suami saya menyarankan kami untuk tidak berhenti dulu guna makan siang (eh sore, ding..) sebelum benar-benar sampai ke Puncak. Takutnya ntar penutupan jalur berikutnya keburu dilakukan lagi.  Saya dan anak-anak setuju.

Sepanjang perjalanan,kami hanya melihat-lihat. Puncak kelihatan seperti berbenah kembali, setelah sempat meredup akibat penurunan jumlah pelalu lintas sebagai dampak dibukanya tol Jakarta-Bandung beberapa tahun yang lalu. Saya lihat banyak sekali Hotel, Villa, Resto dibuka baru atau direnovasi kembali.

Pukul empat sore, akhirnya kami berhasil mencapai Puncak dan memutuskan untuk makan di Puncak Pass Resort. Baru saja habis mencuci muka di rest room dan mau memesan makanan, tiba-tiba ada woro-woro lagi bahwa jalur menuju Cipanas akan segera ditutup. Jadi pengendara yang akan ke Cianjur, Sukabumi atau Bandung harap segera bergegas berangkat. Waduuuh! Setelah mendapat info dari karyawan Hotel bahwa penutupan biasanya cuma dilakukan selama satu jam,maka kami memutuskan untuk tetap menunggu makanan. Tapi semuanya kelihatan sudah kehilangan selera.

Axis Axis

Anak saya yang kecil mengatakan bahwa di resort itu dipelihara beberapa ekor Rusa dan mengajak saya untuk menemaninya melihat-lihat ke kandangnya. Saya setuju, asalkan anak saya menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Lagipula kami toh harus tetap menunggu dibukanya kembali jalur Cipanas untuk bisa melanjutkan perjalanan kami  menuju Sukabumi melalui Cianjur.

Udara mulai terasa dingin. Saya mengenakan sweater untuk menahan dingin, lalu bergegas turun menuju kandang Rusa yang dimaksudkan anak saya. Turunan cukup terjal, tapi anak saya berlari sambil bernyanyi riang “ Do,  a deer,  a female deer. …”. Saya pun menyusul di belakang. Beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai di kandang Rusa.

Matahari sudah mulai meredup dan sebentar lagi hari akan gelap. Beberapa ekor rusa tampak di lepas di sebuah kandang yang lumayan lebar. Seperti biasanya anak-anak lalu sibuk bertanya dan berceloteh serta memperhatikan tingkah laku binatang itu. Ada yang sibuk berlari-lari, ada yang makan dan ada yang hanya duduk-duduk saja.

Rusa yang dipelihara di Puncak pass Resort itu adalah jenis Rusa Totol (Axis axis), yang menurut petugas Hotel indukannya diambil dari Istana Bogor yang kelebihan populasi. Namun karena tidak ada predator dan perkembangbiakannya sangat cepat, maka hotel inipun sebelumnya sempat kelebihan populasi rusa, sehingga dikembalikan lagi ke Istana Bogor.

Rusa totol sangat mudah dikenali dari jauh, karena warnanya yang sangat menawan. Coklat terang dengan totol totol putih bersih. Anak saya melihat seekor rusa yang memandang ke arah kami dengan curiga. Leher dan telinganya tegak ke atas. Ukuran tubuhnya lumayan juga. Tingginya mungkin sekitar semeter atau sedikit di bawah itu dan panjangnya barangkali sekitar satu setengah meter. Seperti jenis rusa yang lain, yang betina tidak memiliki tanduk, tapi yang jantan memiliki tanduk.

Makanan yang umum bagi rusa ini adalah rumput. Walaupun mereka juga menyukai buah-buahan. Petugas menyediakan tempat berteduh bagi rusa ini, karena di alam aslinya di India, sebenarnya rusa tidak menyukai sinar cahaya matahari yang terik. Sore itu, para rusa itu sibuk bercanda dan berlari-lari. Seekor anak rusa yang masih kelihatan bangun dari istirahatnya lalau berlari-lari tak berani terlalu jauh dari induknya. Gerakannya melompat sungguh sangat indah, seperti sedang menari. Tarian Rusa!. Entah kenapa saya jadi teringat potongan lagu  Meet Me In The Deer Park -nya Michael Franks. Suaranya yang empuk, indah dan romantis seperti berputar di telinga saya.

“Meet me in the deer park/ lady won’t you please/we can do the deer dance/ underneath the gingko trees/We can thread the needle/ build a bridge of size…”.

Gelap tiba. Pukul 7 malam, jalur Cipanas akhirnya dibuka. Kamipun melanjutkan perjalanan…

11 responses »

  1. dan aku pun pernah 10 jam stuck nunggu jalan di buka buat turun ke jakarta *sigh.. btw aku sendiri belom pernah mampir ke puncak pass, bagus ya ternyata hihihi selalu bablas sampe cipanas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s