Mendengar Kisah Kesuksesan Starbucks Langsung Dari Howard Schultz.

Standard

Howard Schultz 1Saya merasa sungguh beruntung ketika Rabu kemarin pagi, saya bisa ikut breakfast meeting di auditorium Kementrerian Perdagangan. Acara yang dibuka oleh Menteri Perdagangan Gita Wiryawan itu menghadirkan Howard Schultz, Chairman, President &CEO dari Starbucks Coffee Company untuk sharing tentang kunci kesuksesannya dalam mengelola brand Starbucks.  Walaupun saya duduk agak jauh di belakang, namun saya melihat banyak pejabat dan pengusaha yang menghadiri acara itu termasuk diantaranya Peter Gonta dan Ketua Kadin Suryo B Sulistio. Dari kejauhan saya juga melihat Mr V P Sharma, mantan boss saya sewaktu masih bekerja di Mitra Adiperkasa. Beliau terlihat sangat sibuk, sehingga saya tidak melihat kesempatan untuk menyapanya. Acara itu memang diprakarsai oleh MAP sebagai pemegang merk Starbucks di Indonesia.

Saya merasa sangat terkesan akan sharing yang dilakukan oleh Howard Schultz .  Ia memberi  dua rahasia sukses sebuah bisnis yang menurutnya tidak pernah diajarkan di sekolah maupun di buku-buku bisnis, yakni “Love & Humanity”.Sangat inspiratif dan sangat memotivasi. Itulah sebabnya saya ingin menulisnya.

Kesulitan Justru Membuat Kita Berusaha Keras Untuk Sukses.

Howard memulai dengan menceritakan masa kecilnya yang susah di Brooklyn,New York. Keluarganya yang tak mampu secara finansial, seperti yang ia ceritakan,membuat  hidupnya tertempa dengan keras. Namun usaha dan kerja keras membuat ia mendapatkan beasiswa ke bangku Universitas. Inilah yang ia jadikan modal untuk mendapatkan pekerjaan yang baik hingga akhirnya ia berhasil menjadi manager di sebuah perusahaan bernama Hammarplast. Dari sana Howard  kemudian mengenal Starbucks, kedai kopi yang membeli beberapa mesin kopi dari Hammarplast.

Ia merasa sangat terkesan akan keahlian dan kesabaran pemilik Starbucks dalam memilih dan menyangrai biji kopi. Ia lalu pindah ke Starbucks dan berhasil menjadi Marketing Director. Singkat cerita, setelah sempat keluar dari Starbucks untuk mendirikan kedai kopinya sendiri, akhirnya pada tahun 1997, Howard berhasil membeli Starbucks dan membesarkannya. Menurutnya, ia membangun brand Starbucks ini dengan initial concept yang balance antara profitability dengan humanity. Bisnisnya tumbuh dengan sangat cepat dan kedai kopinya merambah ke berbagai kota . Ia pun mulai mengembangkan bisnis-bisnisnya yang lain di luar Starbucks.

Sukses sering membuat kita lupa.

Namun krisis ekonomi di tahun 2008, membuat Satrbucks terpuruk. Maka iapun kembali ke Starbucks untuk menangani lagi kedai kopi ini.  Ia melakukan checking dan explorasi untuk mengetahui penyebab dari kegagalannya.  Ternyata ia menemukan jauh lebih banyak lagi masalah di luar yang ia perkirakan di awal. Menurutnya, kehancuran sebuah perusahaan yang tadinya sukses itu seringkali terjadi ketika management perusahaan mulai tidak lagi mem’value the initial succes of the company’. Mereka mengukur dan mereward hal-hal yang menurutnya salah  untuk terlalu difocuskan dan dikejar dengan meremehkan hal-hal lain yang justru sangat penting untuk daya tahan sebuah brand besar, yakni “Love & Humanity”. Misalnya terlalu focus mengejar profitability dengan mengurangi hak-hak karyawan, mereward service “speed’ tapi melupakan hal-hal basic tentang brand dan service itu sendiri. Saya nyengir ketika ia berkata “…we are a coffee company. How can we forget to make a coffee?”.

Kembali ke basic: Love & Humanity balanced.

Pertanyaannya sekarang adalah: How can we restore the trust & confidence amongst employees and customers? Maka ia pun mengambil initiative untuk memanggil seluruh manager toko-toko starbucks untuk ditraining ulang. Padahal menurutnya saat itu krisis sedang melanda. Membawa 10 000 orang managers ke dalam sebuah training tentu bukan hal yang murah. Tapi tetap ia lakukan, karena ia berpikir bahwa training ini sangat penting untuk memulihkan kesuksesan Starbucks kembali, walaupun harus menelan biaya yang sangat-sangat mahal. Di meeting ia, selain ia menggali lebih jauh tentang permasalahan yang terjadi, juga memberi kesadaran kembali kepada para manager ini untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan.

What is it mean to be accountable manager? Lebih memfokuskan diri pada sisi humanity dan sosial, memperhatikan customers dengan lebih baik, memastikan customers  mendapatkan hal yang melebihi ekspektasinya. Menurutnya ini hal yang sangat penting. “Kami tidak boleh membiarkan konsumen kami kecewa setelah mereka berjalan kaki mengeluarkan effort untuk mengunjungi toko kami” jelasnya. Jadi ia selalu mengencourage teamnya untuk selalu mencari peluang untuk memacu pertumbuhan,  namun tetap menjaga sisi humanitynya. “…drive growth, but only on the land of humanity”– istilahnya.

What is it mean to build a standard? Standard yang ia maksudkan disini hanyalah standard yang tinggi – bukan ‘mediocre’ standard.  Ia mentrain karywannya untuk memberikan standard yang tinggi kepada konsumen. Untuk itu ia pun memberikan standard yang tinggi juga untuk karyawannya. Jadi prinsipnya adalah “ exceeding expectation to people” yang ujung-ujungnya akan menghasilkan “ Exceeding expectation to customers”. Sedemikian rupa ia mentrain teamnya agar bangga dan ‘connected’ dengan brand-nya. Ia pun memperhatikan benefits yang baik untuk karyawannya.

Sukses menurutnya harus dilakukan di setiap tindakan. Succes is not what we are doing, but why we are doing it? Dan menurutnya lagi, setiap kesuksesan itu perlu di’share’ kepada orang lain. Dengan semua aktifitas yang ia lakukan, bisnis Starbucks akhirnya pulih kembali dan bahkan semakin berkembang dengan cepat. Banyak outlets baru di buka dan bahkan hingga ke negara-negara lain di seluruh dunia. Starbuckspun diingat orang sebagai perusahaan yang care terhadap karyawannya.

Sebuah pelajaran yang sangat menarik. Saya melihat banyak antusiasme datang dari berbagai kalangan. Menteri Perdagangan, Gita Wiryawan sendiri berkomentar bahwa Starbucks memiliki keseimbangan yang baik antara modern management dengan aksi sosial, tanpa terlalu mengkhawatirkan keuntungannya sendiri. Diskusipun akhirnya berlanjut pada seputaran banyaknya kopi Indonesia yang dibeli oleh Starbucks dan lain sebagainya.

 Mengikuti acara breakfast meeting ini berlangsung, secara pribadi saya merasa senang dan sangat mengapresiasi usaha dan keterlibatan Menteri Perdagangan bersama KADIN dan APINDO untuk mendatangkan orang-orang yang sukses untuk berbagi rahasia kesuksesannya kepada audience di tanah air. Ya..seperti kata Howard Schultz ..”Kesuksesan itu perlu dishare kepada orang lain”. Tentu saja,agar semakin banyak lagi orang yang sukses…

16 responses »

  1. wow keren. emang bener kata pak schultz itu. merevisi dan menyatukan visi supaya masing2 anggotanya punya motivasi yang sama besar untuk memajukan usaha. mantaf.🙂

  2. Reblogged this on blognoerhikmat and commented:
    Bukti sukses Howard Schultz di Starbucks, dan coba amati kata2 ini “…drive growth, but only on the land of humanity”- & “ exceeding expectation to people”
    silahkan simak cerita mba Ni Made Sri Andani :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s