Ibu Mertua, Kasih Sayang Dan Keadilan.

Standard

Setelah perjalanan panjang yang sangat melelahkan dari Jakarta,  maka mendekati pukul sembilan malam tibalah kami di Sukabumi. Ibu mertuaAh,akhirnya!.Saya turun untuk membuka dan mendorong pagar rumah, agar kendaraan bisa masuk ke halaman. Lalu segera mengangkat dan menggendong anak saya yang kecil karena ia tertidur dan susah dibangunkan.  Melihat kami datang, Ibu Mertua saya menyongsong di depan pintu. Saya menyalaminya dan  ibu mertua saya  segera menciumi cucu-cucunya. Penuh kasih sayang  dan kangen. Saya melihatnya dengan terharu.

Udara terasa dingin. Sambil menunggu air panas untuk teh mendidih, saya  ngobrol dengan ibu mertua saya. Menyempatkan diri mendengar curhatnya tentang banyak hal. Mulai tentang pinggulnya yang sakit, maag-nya yang terasa membaik. Lalu tentang tanaman dan halaman rumah, tukang membersihkan kebun yang sakit dan tak bisa melanjutkan tugasnya lagi. Lalu berikutnya cerita tentang  seorang keponakan yang menikah,  hingga cerita tentang orang-orang  demo. Banyak juga. Saya selalu melihat Ibu mertua saya semangat bercerita setiap kali saya datang. Matanya selalu berbinar-binar penuh kebahagiaan. Seolah-olah jutaan kisah itu telah menumpuk dan siap untuk ditumpahkan kepada saya. Sayapun menjadi pendengar yang baik seperti biasanya.

Ibu Mertua! Setiap orang yang menikah tentu punya  ibu mertua. Dan tentu saja, wanita ini pasti menempati posisi ke dua setelah Ibu kandung kita sendiri. Ibu mertua adalah wanita yang melahirkan dan membesarkan pria yang akhirnya memilih hidup dengan kita. Kalau memikirkan itu, kadang saya merasa dunia ini kurang adil buat Ibu Mertua saya.

Pertama karena saya tahu bahwa melahirkan anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Yang pernah mengalami, tentu tahu betapa repot dan sakitnya. Saat hamil badan wanita berubah. Penciuman terganggu, mual-mual, muntah, pusing dan sebagainya. Setelah 9 bulan lamanya berada dalam keadaan itu, lalu melahirkan. Tentu saja bagian yang ini adalah bagian yang paling menyakitkan dan paling beresiko. Bervariasi mulai dari yang ringan hingga resiko kematian. Lalu setelah lahir, begadang siang malam untuk merawat dan menyusui.  Dengan sabar mengajarinya nelungkup, merangkak, duduk, berdiri, berlari, makan,  berbicara, membaca, menulis dan seterusnya. Juga bekerja membanting tulang untung membayar ongkos perawatan dan  pendidikannya.  Lalu setelah itu, ia tumbuh besar, sukses dengan sekolahnya, sukses dengan karirnya. Dan setelah semuanya sukses…….eh…, sang anak malah memilih hidup dengan kita! Dan tidak dengan ibunya. Memberikan perhatian lebih banyak pada kita dan bukan pada ibunya. Memberikan waktu lebih banyak pada kita dan bukan pada ibunya. Padahal kita cuma datang di tengah-tengah jalan, saat anaknya sudah besar dan sudah sukses menyelesaikan sekolahnya. Kita tidak ikut bersusah payah melakukan apa yang Ibu Mertua kita lakukan untuk anaknya. Alangkah tidak adilnya dunia, bukan?

Terlebih  lagi jika kita berusaha menguasai suami kita sepenuhya. Jiwanya, raganya dan hartanya  tanpa mau berbagi dengan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.  Atau malah berusaha menguasai penghasilan suami tanpa sedikitpun mau berbagi dengan ibunya. Ada juga yang menguasai waktu suami tanpa mengijinkannya sering-sering menengok ibunya. Kita lupa bahwa kita hanya datang di tengah-tengah. Atau bahkan di ujung,  saat dimana bagian susahnya itu sudah lewat dan hanya tinggal menikmati bagian enaknya saja. Tentu situasi itu akan semakin tidak adil lagi bagi Ibu Mertua kita.

Waduuuh…! Saya harus memaksa suami saya agar menyediakan waktu dan perhatian yang jauh lebih banyak lagi untuk ibunya.  Sayangnya  kami tidak tinggal satu kota, sehingga kesempatan untuk bertemu-pun menjadi  berkurang. Sebenarnya saya ingin Ibu Mertua saya tinggal bersama kami. Tapi rupanya beliau lebih menyukai kota Sukabumi yang sejuk dan lebih tenang, dengan udara yang bersih dan air segar yang mengalir. Mungkin juga karena sudah lama tinggal di sana, sehingga sudah merasa betah dengan lingkungan, tetangga dan orang-orang di sekelilingnya. Dan yang pasti…beliau tidak mau meninggalkan bunga-bunga di halaman rumahnya mati kekeringan jika ditinggalkan.

Namun demikian, ibu mertua saya selalu terlihat ikhlas dan tidak menuntut apa-apa. Beliau selalu menerima, berapapun, kapanpun, apapun yang kami berikan untuknya, tanpa meminta lebih.  Beliau tidak pernah menganggap saya saingan yang telah merebut perhatian putranya. Dan sebenarnya sayapun tidak pernah bersaing dengan ibu mertua saya untuk merebut perhatian putranya. Jadi saya harus selalu berusaha mendorong suami saya untuk spend waktunya lebih banyak lagi dengan ibunya. Selagi sempat. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? .

Saya teringat akan bapak & Ibu saya sendiri yang sudah tidak ada.  Sangat pendek waktu yang tersedia untuk kami bersama-sama. Dan ketika beliau sudah tidak ada, saya selalu menyesali mengapa saya tidak memberikan waktu lebih banyak lagi semasa beliau hidup. Jarak Jakarta – Bali terasa sangat jauh untuk selalu bisa bersama.  Padahal di masa tuanya, beliau sebenarnya membutuhkan perhatian yang lebih. Walaupun saya selalu berusaha mengoptimalkan kwalitas waktu saya bersama beliau – namun tetap saja, kwantitas waktu juga sangat dibutuhkan. Demikian juga dengan mertua kita. Beliau membutuhkan perhatian putra putrinya di usianya yang senja.

16 responses »

  1. beruntunglah seorang suami yg punya istri yang bisa berterima kasih pada ibu mertua ya mbak made. alangkah sangat sulit posisi suami bila istri dan ibunya tak akur.

    dalam tatanan agama, laki laki tetaplah milik ibu. maksudnya laki laki punya tanggung jawab menafkahi dan mentaati orang tuanya. beda dg wanita begitu ia menikah ketaatannya pada suami. inilah keharmonisan hidup dalam siklus keluarga. he he maka alangkah tersiksanya suami bila istri selalu mencemburui ibu mertuanya ya mbak.

    • ya Poppy..kadang ada orang yang beruntung dan ada yang kurang beruntung untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengan ibu mertuanya… jadi kalau kita kebetulan tidak diberi kesempatan,ya..mungkin tidak usah terlalu dipikirkan. banyak juga orang yang diberi kesempatan mengenal mertuanya, namun tidak memanfaatkannya dengan baik..

  2. mertua baik menantu baik, klop
    kalau tidak bisa bertepuk sebelah tangan
    mertua, ibu kedua yang mesti dijaga juga🙂
    iya…. setuju dengan komen sebelumnya… mbak made beruntung banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s