Violces Ibu Mertuaku.

Standard

Violces 3Ada dua hal yang selalu mengingatkan saya akan Ibu mertua saya. Yakni Rajutan dan  Bunga Violces. Mengapa bunga Violces? Karena ketika kami baru menikah dan suami saya sering mengajak saya pulang ke rumahnya, saya melihat ibu mertua saya menyiram,membersihkan daun-daun violces ini dan menggeser-geser potnya di teras depan. Sebagai mantu baru, sayapun ikut berjongkok membantu ibu mertua saya melakukan aktifitas hariannya itu. Saya ingat ada belasan atau puluhan pot-pot kecil dengan bunga-bunga Violces berwarna-warni yang dipelihara. Ada yang berbunga ungu, biru, pink,putih, pink tua dan sebagainya. Ada yang mahota bunganya polos selapis, ada juga yang berlapis. Jenis daunnya ada yang kecil dan ada yang sedikit lebih lebar. Ada yang polos, ada yang kelihatan berkerut, ada yang agak bertulang. Namun semuanya terlihat indah. Lebih sering trelihat berbunga banyak dibanding tidak berbunga. Selama bertahun-tahun  pemandangan Violces berbunga ini menghiasi teras depan, sehingga saya hapal.

Sebagai ilustrasi, saya juga pernah menanam Violces di Jakarta,tapi hasilnya …. mati semua. Mungkin saya kurang bertangan dingin dalam menanganinya. Jadi, Violces menurut saya adalah identik dengan Ibu Mertua.

Pada suatu hari saat saya pulang, tiba-tiba Violces itu menghilang. Saya tercengang.Ibu Mertua saya bilang kalau beliau sudah bosan memeliharanya dan terlanjur memberikannya kepada orang lain. Beliau tidak tahu kalau saya sangat menyukai Violces itu. Apa boleh buat,nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya, bertahun-tahun kemudian,ketika suatu kali saya melintas di Puncak dan melihat ada Violces di tukang tanaman, sayapun membelikannya lagi untuk Ibu Mertua saya. Walaupun hanya satu warna. Lumayan, daripada tidak ada sama sekali. Violces inilah yang tetap masih ada hingga kini.

Violces atau di banyak buku-buku literatur disebut dengan African Violet (Saintpaulia sp) adalah tanaman cantik berdaun yang tebal dan berair dangan permukaan yang dilapisi bulu-bulu halus. Dari ketiak daunnya bermunculan bunga-bunganya yang cantik dan mungil.

Sebenarnya menanam Vilolces bisa dilakukan dengan beberapa cara. Paling umum dan sering dilakukan sih dengan melakukan stek daun, lalu menancapkannya di tanah yang subur. Tapi sebenarnya juga bisa ditanam dengan stek batang, anakan dan bahkan dengan bijinya kalau ada.

Saya pikir merawat Violces agak ruwet. Karena butuh kesabaran dan ketekunan. Kelihatannya kurang cocok untuk orang yang banyak bepergian meninggalkan rumah, macam saya.  Tanaman ini harus dipelihara dan disiram setiap hari, lalu harus dipastikan agar mendapatkan pencahayaan yang baik. Cukup kena sinar matahari, namun jangan sampai terpapar langsung. Karena biasanya daunnya akan terlihat seperti terbakar,atau menguning. Suhu dan udara kelihatannya juga ada pengaruhnya terhadap tampilan Violces ini. Saya melihat Ibu mertua saya sering memutar –mutar pot Violcesnya. Barangkali untuk memastikan pencahayaan yang seimbang.

Juga saya melihat, tanaman ini perlu disiram langsung pada akarnya tanpa membasahi daunnya. Karena busuk daun juga sering terjadi jika kita membiarkan daunnya basah dan lupa mengelapnya satu per satu. Wah, ribet ya?

Tapi bagi pencinta tanaman, yang punya waktu cukup, tentu pekerjaan ini tetap layak dilakukan, mengngat hasilnya yang sangat menyenangkan : Bunga-bunga mungil yang cantik dan elok.

10 responses »

  1. Namanya sesuai rupanya Mbak Dani, Violces…jadi bunga ini bisa hidup juga ditempat panas ya? DAn aku pikir tiap kali memandangi Violces cantik ini, ibu mertua ingat Mbak Dani…Terutama yg ada di dalam dirimuMbak, hati yg cantik juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s